Di Balik Otonomi Papua: Harapan, Realita, dan Suara dari Tanah Timur

- Penulis

Senin, 27 April 2026 - 16:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

SORONG, TEMPOTIMUR.COM — Senja mulai turun di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Di tengah kesibukan masyarakat yang perlahan mereda, sebuah percakapan sederhana melalui pesan WhatsApp membuka ruang refleksi tentang satu hal besar: masa depan Tanah Papua.

Pendeta Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Jemaat Alfa Omega, Alexsander Maniani, S.Th, menyampaikan pandangannya tentang otonomi daerah—sebuah kebijakan yang sejak awal diharapkan menjadi jalan terang bagi kesejahteraan Orang Asli Papua (OAP).

Bagi Pdt. Alexsander, otonomi daerah bukan sekadar kebijakan administratif. Ia adalah peluang. Peluang bagi Papua untuk berdiri di atas kakinya sendiri, mengatur rumah tangganya, dan menentukan arah pembangunan sesuai dengan jati diri masyarakatnya.

“Dengan otonomi, Papua diberi kewenangan lebih luas untuk mengatur pemerintahan, pembangunan, hingga pengelolaan sumber daya alamnya sendiri,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (27/4/2026).

Baca Juga  Maulid Nabi 1447H/2025M, Polres Batu Bara Doa Bersama untuk Negeri

Di atas kertas, harapan itu begitu besar. Jalan-jalan yang menghubungkan wilayah terpencil, sekolah yang menjangkau anak-anak di pedalaman, hingga rumah sakit yang memberi pelayanan layak—semua menjadi bagian dari mimpi yang ingin diwujudkan melalui otonomi daerah.

Papua, dengan kekayaan alamnya yang melimpah—hutan yang luas, tambang yang bernilai tinggi, serta laut yang kaya—seharusnya memiliki modal kuat untuk membangun kesejahteraan rakyatnya.

Otonomi membuka ruang agar hasil kekayaan itu tidak hanya mengalir keluar, tetapi kembali untuk masyarakat lokal.

Namun, bagi Pdt. Alexsander, otonomi tidak hanya bicara soal pembangunan fisik. Ada hal yang jauh lebih dalam: menjaga identitas.

“Papua ini kaya akan budaya dan suku. Otonomi memberi ruang untuk melindungi adat istiadat dan kearifan lokal,” katanya.

Baca Juga  TNI dan Warga Gotong Royong Bangun Fasilitas Umum di Kampung Warisa Mulya Fakfak

Di tengah arus modernisasi, kekhawatiran akan hilangnya jati diri menjadi nyata.

Otonomi, dalam pandangannya, adalah benteng agar budaya Papua tetap hidup, bukan sekadar menjadi cerita masa lalu.

Harapan lain yang tak kalah penting adalah keberpihakan kepada Orang Asli Papua.

Melalui otonomi, OAP diharapkan mendapat kesempatan lebih besar—baik dalam pemerintahan, pendidikan, maupun dunia kerja.

Namun realita di lapangan tidak selalu sejalan dengan harapan.

Pdt. Alexsander mengakui, masih ada tantangan yang belum terselesaikan. Pengelolaan dana yang belum maksimal, pembangunan yang belum merata, hingga kesenjangan sosial yang masih terasa di berbagai wilayah Papua.

Fakta ini menjadi pengingat bahwa otonomi bukanlah solusi instan. Ia membutuhkan pengawasan, kejujuran, dan kerja sama semua pihak.

Baca Juga  Wujudkan Tali Persaudaraan, Ika Matim NTB Gelar Bukber

“Supaya benar-benar berdampak, otonomi harus dijalankan dengan integritas,” tegasnya.

Di tengah segala harapan dan tantangan itu, satu hal tetap menjadi pegangan: Papua memiliki kesempatan.

Kesempatan untuk bangkit dengan caranya sendiri.

Kesempatan untuk membangun tanpa kehilangan identitas. Dan kesempatan untuk memastikan bahwa setiap anak Papua merasakan hasil dari kekayaan tanahnya.

Bagi Pdt. Alexsander, otonomi daerah adalah lebih dari sekadar kebijakan. Ia adalah harapan yang harus terus dijaga—agar tidak hanya menjadi janji, tetapi benar-benar menjadi kenyataan bagi Tanah Papua.

 

Penulis : Amatus Rahakbauw, K

Berita Terkait

Bupati Heriyus Lepas 73 Calon Jemaah Haji Murung Raya 2026
Siap Tidak Siap, Kita Harus Siap!” Seruan Tegas dari Mimbar GPdI Bethesda Fakfak
Grebek Sarang Narkoba di Batu Bara Polisi Amankan Satu Tersangka dan Sejumlah Barang Bukti
Bebie: Pemenuhan Kebutuhan Dasar Harus Jadi Prioritas Utama APBD Murung Raya
DPRD Murung Raya Sahkan Ranperda Kelompok Tani, Bebie Dorong Sosialisasi dan Perluasan Program
KONI Papua Barat Terkendala Anggaran, Raker dan Musprov 2026 Terancam Molor
Gubernur, Kapolda Sumsel Setuju Melegalkan Sumur Minyak, Agus Flores ; Jangan Lupa KKS dan PCS
DPRD Murung Raya Sahkan Raperda Pengelolaan Kelompok Tani dalam Rapat Paripurna

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 16:03 WIB

Di Balik Otonomi Papua: Harapan, Realita, dan Suara dari Tanah Timur

Minggu, 26 April 2026 - 17:55 WIB

Bupati Heriyus Lepas 73 Calon Jemaah Haji Murung Raya 2026

Minggu, 26 April 2026 - 08:58 WIB

Siap Tidak Siap, Kita Harus Siap!” Seruan Tegas dari Mimbar GPdI Bethesda Fakfak

Sabtu, 25 April 2026 - 21:47 WIB

Grebek Sarang Narkoba di Batu Bara Polisi Amankan Satu Tersangka dan Sejumlah Barang Bukti

Sabtu, 25 April 2026 - 18:01 WIB

Bebie: Pemenuhan Kebutuhan Dasar Harus Jadi Prioritas Utama APBD Murung Raya

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page