FAKFAK, TEMPOTIMUR.COM — Seruan tentang kesiapan dan keteguhan iman menggema dalam ibadah Minggu pagi di Gereja GPdI Jemaat Bethesda Fakfak, Jalan A. Yani, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, yang berlangsung pukul 10.26 WIT.
Pelayan firman, Pdm. Yambres Muskita, menegaskan bahwa setiap orang percaya harus memiliki kesiapan hati untuk melayani Tuhan dalam kondisi apa pun, tanpa bergantung pada latar belakang pendidikan.
“Siap tidak siap, kita harus siap melayani Tuhan,” tegasnya di hadapan jemaat.
Dalam khotbahnya, ia menyampaikan bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja sebagai alat-Nya.
Hal ini sejalan dengan firman Tuhan dalam 1 Korintus 15:58, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”
Ia mengajak jemaat untuk meninggalkan pola pikir manusiawi dan hidup dalam persekutuan yang erat dengan Tuhan. Menurutnya, mengikut Kristus bukanlah jalan yang mudah, melainkan membutuhkan komitmen dan pengorbanan.
“Mengikut Yesus tidak selalu menjanjikan kenyamanan. Ada harga yang harus dibayar. Tetapi sekali kita memilih Yesus, tetaplah setia,” ujarnya.
Mengutip Daniel 3:18, ia menyoroti iman Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang tetap teguh meski menghadapi ancaman. “Sekalipun Allah kami tidak melepaskan kami, kami tidak akan menyembah allah lain,” menjadi prinsip iman yang harus dimiliki setiap orang percaya—bahwa dalam situasi apa pun, Tuhan tetap menjadi satu-satunya andalan.
Lebih lanjut, jemaat diingatkan untuk hidup dalam kewaspadaan dan kasih, sebagaimana tertulis dalam 1 Korintus 16:13-14, “Berjaga-jagalah! Berdirilah teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!”
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga persekutuan, merujuk pada Ibrani 10:25, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita…” serta Kolose 2:6-7 yang mengajak orang percaya untuk tetap berakar dan dibangun di dalam Kristus.
Menurutnya, tujuan hidup orang percaya bukan hanya untuk kehidupan saat ini, tetapi untuk mencapai kehidupan kekal bersama Tuhan.
Menutup khotbahnya, Pdm. Yambres membagikan kesaksian iman sejak tahun 1975, ketika umat Tuhan tetap setia beribadah dalam segala keterbatasan.
Ia menegaskan bahwa Tuhan memperhitungkan setiap kesetiaan umat-Nya.
Ibadah tersebut menjadi momentum penguatan iman bagi jemaat untuk tetap teguh, tidak mundur, dan terus setia mengiring Tuhan dalam setiap musim kehidupan.
Penulis : Amatus Rahakbauw, K




















