MANOKWARI, TEMPOTIMUR.COM — Pendeta Emma E.J. Wanma, S.Th menyampaikan perlunya evaluasi terhadap pelaksanaan Otonomi Khusus (Otsus) di Tanah Papua, khususnya terkait pemanfaatan dana otsus yang dinilai belum sepenuhnya menyentuh masyarakat Orang Asli Papua (OAP) di tingkat akar rumput.
Hal tersebut disampaikan Pdt. Emma saat dikonfirmasi oleh jurnalis TempoTimur.com pada Senin sore (27/4/2026) sekitar pukul 16.41 WIT di Manokwari.
Menurutnya, tingkat kemiskinan di Papua masih tergolong tinggi meskipun dana otsus yang dikucurkan pemerintah pusat sangat besar.
Oleh karena itu, ia mengusulkan agar mekanisme penyaluran dana otsus dapat dikaji ulang.“Ini pendapat pribadi saya. Bagaimana jika dana otsus diperuntukkan langsung kepada keluarga-keluarga OAP,” ujarnya.
Ia mencontohkan kebijakan pemerintah di Australia (Aborijin)
(dalam memberikan perhatian kepada masyarakat adat, seperti penyediaan rumah layak huni, kendaraan, serta kebutuhan rumah tangga seperti listrik, gas, dan peralatan lainnya.
Menurut Pdt. Emma, jika dana otsus direalisasikan secara langsung kepada masyarakat seperti contoh tersebut, maka kesejahteraan OAP dapat meningkat secara signifikan, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
Ia juga menyoroti bahwa sebagian besar dana otsus saat ini terserap untuk belanja pegawai, termasuk gaji dan tunjangan anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) di enam provinsi di Tanah Papua.
“Coba jika dana tersebut lebih difokuskan untuk masyarakat OAP, tentu dampaknya akan lebih dirasakan langsung,” tambahnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pandangan tersebut merupakan pendapat pribadi yang disampaikannya sebagai seorang hamba Tuhan yang peduli terhadap kondisi masyarakat Papua.
Penulis : Amatus Rahakbauw, K



















