“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
(Matius 18:20)
Minggu pagi, 9 November 2025, mentari Fakfak bersinar lembut menyapa setiap sudut Kota Pala. Cuaca cerah di Jalan A. Yani, Kelurahan Fakfak Utara, seolah menjadi tanda turunnya sukacita dari surga. Tepat pukul 09.28 WIT, Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Kabupaten Fakfak mulai dipenuhi jemaat yang datang dengan hati yang haus dan rindu untuk memuji dan menyembah Tuhan.
Suasana ibadah pagi itu terasa penuh kekhidmatan dan hadirat Allah. Dari barisan depan hingga ke belakang, terdengar pujian dan penyembahan yang mengalun indah. Setiap lirik, setiap nada, membawa jemaat semakin dalam masuk ke dalam hadirat Tuhan. Roh Kudus bekerja dengan lembut — mengubah air mata menjadi penghiburan, menggantikan kesedihan dengan sukacita, dan meneguhkan iman setiap hati yang datang dengan kerinduan.
Di tengah ibadah, jemaat bersama-sama menaikkan lagu penyembahan yang menggetarkan jiwa. Suara mereka berpadu menjadi satu persembahan yang harum di hadapan Tuhan. Tidak sedikit yang meneteskan air mata — bukan karena duka, melainkan karena merasakan kasih dan kehadiran Tuhan yang begitu nyata di tengah-tengah ibadah.
Dalam ibadah yang penuh urapan itu, salah satu jemaat menyampaikan kesaksian hidup tentang kuasa Tuhan yang memulihkan. Dengan suara bergetar, ia menceritakan bagaimana di bulan Mei dan Juli ia sempat mengalami pendarahan hebat.
Pada malam tanggal 9, tepat pukul 8 hingga 9 malam, pandangannya mulai buram, tubuhnya lemah, dan harapan seakan sirna. Namun di tengah kebimbangan itu, ia memilih naik ke kamar dan berdoa. Dengan air mata dan iman, ia berseru kepada Tuhan agar tangan-Nya yang ajaib menjamah dan menyembuhkan.
Dan benar, mujizat pun terjadi. Pendarahan itu berhenti, kekuatan dipulihkan, dan pandangan kembali terang. Ia bersaksi bahwa “Yang tidak mungkin bagi manusia, menjadi mungkin bagi Allah.” Sebab, waktu Tuhan selalu tepat — ya dan amin bagi setiap orang yang percaya. Kesaksian itu membuat jemaat terharu dan memuliakan Tuhan dengan sorak-sorai sukacita.
Firman Tuhan pagi itu diambil dari Mazmur 100:2,
“Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!”
Pendeta Clarce Bonsafia Fakdawer, Gembala GPdI Jemaat Bethesda Fakfak, menyampaikan firman dengan penuh kuasa dan kasih. Beliau menegaskan bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas mingguan, tetapi perjumpaan pribadi dengan Sang Pencipta. Di hadapan Tuhan, setiap beban diletakkan, setiap hati disegarkan, dan setiap iman diperbaharui.
Ketika ibadah berakhir, suasana damai dan kasih tetap menyelimuti tempat itu. Jemaat saling berjabat tangan, tersenyum, dan saling menguatkan satu sama lain. Hari itu menjadi bukti bahwa kasih Tuhan nyata bekerja di tengah umat-Nya, di tanah Papua Barat yang diberkati.
Sungguh benar firman Tuhan berkata:
“Sebab kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.”
(Mazmur 63:4)
Penulis : Amatus Rahakbauw



















