Ketika Respons Lambat Dipertontonkan, Kejati Justru Menjawab dengan Tindakan

- Penulis

Jumat, 17 April 2026 - 23:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Ilustrasi

 

Oleh: Agus Flores Ketum Fast Respon

 

JAWA TIMUR — Publik tidak butuh alasan, publik butuh tindakan. Ketika laporan demi laporan soal tambang ilegal bermunculan, yang ditunggu adalah kecepatan dan ketegasan aparat. Namun yang terlihat justru sebaliknya: respons lambat, kesan pembiaran, dan minimnya langkah konkret.

 

Di tengah situasi itu, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur justru menunjukkan kinerja yang kontras. Penangkapan oknum Kadis ESDM Jatim menjadi bukti bahwa penegakan hukum bisa berjalan cepat jika memang ada kemauan. Ini bukan sekadar prestasi, tapi juga sindiran telak bagi pihak lain yang terkesan berjalan di tempat.

 

Temuan 17 titik tambang ilegal yang disampaikan Agus Flores seharusnya menjadi alarm keras. Namun jika laporan tersebut tidak segera ditindaklanjuti, maka yang muncul adalah pertanyaan besar: ada apa dengan respons aparat di lapangan?

Baca Juga  Kasak Kusuk Mencurigakan Menjelang Mutasi ASN di Lingk Pemkab Batu Bara

 

Turunnya Satgas PKH menjadi penegas bahwa persoalan ini bukan hal kecil. Negara akhirnya turun tangan, seolah mengisi kekosongan respons yang semestinya bisa ditangani lebih awal.

 

Kondisi ini jelas mencoreng wajah Kepolisian Negara Republik Indonesia di mata publik. Lambatnya penanganan laporan masyarakat bukan sekadar soal teknis, tetapi menyangkut kepercayaan. Dan ketika kepercayaan itu mulai runtuh, dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar satu kasus.

Dorongan evaluasi terhadap kepemimpinan di tubuh kepolisian daerah bukan tanpa alasan. Jika program nasional, termasuk agenda pemberantasan tambang ilegal yang digaungkan oleh Prabowo Subianto, tidak direspons dengan serius, maka wajar publik mempertanyakan komitmen di tingkat daerah.

Baca Juga  Arus Balik Serangan PDIP Pada NASDEM Soal Anies

Opini ini sederhana: hukum tidak boleh lambat. Ketika satu institusi mampu bergerak cepat dan yang lain tertinggal, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kinerja, tetapi juga wibawa negara itu sendiri.

Berita Terkait

Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya
Gereja Tanpa Struktur Jelas? Jangan Heran Pelayanannya Kacau
Iman Jalan Pribadi, Bukan Titipan pada Tokoh Rohani
“Air Mata di Bawah Langit Fakfak: Saat Roh Kudus Menyentuh Hati yang Terluka”
Teduhnya Penantian di Bawah Langit Malam
Di Bawah Langit Kasuari: Perjalanan Sunyi Seorang Anak Papua
Bikin Kaget Gorontalo, Istri Ketum FRN Mendadak Jadi Kepsek
Jangan Salah Menilai: Pengenalan Dunia Jurnalis yang Sering Disalahpahami

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:52 WIB

Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya

Minggu, 31 Mei 2026 - 14:34 WIB

Gereja Tanpa Struktur Jelas? Jangan Heran Pelayanannya Kacau

Sabtu, 23 Mei 2026 - 17:32 WIB

Iman Jalan Pribadi, Bukan Titipan pada Tokoh Rohani

Senin, 18 Mei 2026 - 14:10 WIB

“Air Mata di Bawah Langit Fakfak: Saat Roh Kudus Menyentuh Hati yang Terluka”

Sabtu, 16 Mei 2026 - 10:17 WIB

Teduhnya Penantian di Bawah Langit Malam

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page