OPINI — Kutipan “Pikiran yang sempit membahas seseorang, pikiran yang biasa-biasa saja membahas peristiwa, pikiran yang hebat membahas gagasan” yang dipopulerkan Eleanor Roosevelt kembali relevan di tengah arus informasi digital saat ini.
Pernyataan tersebut bukan sekadar aforisme, melainkan kerangka untuk menilai kualitas diskusi publik. Dalam kajian komunikasi dan psikologi sosial, cara seseorang memilih topik pembicaraan mencerminkan tingkat kedewasaan berpikir dan arah perhatiannya: personal, faktual, atau konseptual.
Pada tingkat pertama, pembahasan berpusat pada seseorang. Ciri utamanya adalah gosip, penilaian terhadap karakter, hingga atribusi motif tanpa data.
Menurut peneliti, percakapan di level ini cenderung reaktif dan emosional. Dampaknya, ruang publik dipenuhi polarisasi karena energi habis untuk menilai siapa, bukan apa yang bisa diperbaiki.
Pembahasan yang terjebak di level ini berisiko melanggar prinsip praduga tak bersalah dan tidak menghormati hak privasi.
Tingkatan kedua adalah pembahasan peristiwa. Di sini, fokus beralih pada fakta: apa yang terjadi, di mana, kapan, dan siapa yang terlibat. Ini adalah wilayah kerja jurnalistik dasar 5W+1H. Pembahasan peristiwa penting karena memberikan informasi dan dokumentasi publik.
Namun, jika berhenti di level ini, masyarakat hanya menjadi konsumen berita tanpa melangkah ke analisis penyebab dan solusi. Peristiwa dilaporkan, tetapi makna di baliknya belum dibedah.
Level ketiga adalah pembahasan gagasan. Pada tahap ini, diskusi naik ke wilayah ide, konsep, dan nilai. Pertanyaannya berubah menjadi “mengapa” dan “bagaimana ke depan”.
Para pemikir, peneliti, dan pembuat kebijakan bekerja di ranah ini untuk merumuskan teori, inovasi, dan kebijakan publik. Dalam konteks pembangunan daerah, diskusi gagasan melahirkan program seperti penguatan UMKM berbasis budaya, tata kelola kawasan industri, atau model pendidikan vokasi yang relevan dengan pasar kerja.
Memahami tiga tingkatan berpikir ini berguna bagi masyarakat dan media. Bagi masyarakat, ini menjadi pengingat untuk menggeser obrolan dari sekadar “siapa” ke “mengapa dan bagaimana”.
Bagi jurnalis, ini sejalan dengan kode etik jurnalistik: tidak hanya memberitakan peristiwa, tetapi juga memberikan konteks, verifikasi, dan ruang bagi gagasan yang mencerdaskan. Ketika ruang publik didominasi pembahasan gagasan, kualitas demokrasi dan kebijakan publik ikut naik kelas.
Penulis : Dhanu























