Penulis Amatus.Rahakbauw K
Di sebuah negeri yang kaya namun rapuh, orang-orang selalu bertanya dengan nada getir: dapatkah korupsi dimusnahkan? Pertanyaan itu bergema di ruang-ruang sidang, di warung kopi, bahkan di dalam doa-doa yang lirih.
Namun anehnya, jawaban seakan menjauh setiap kali manusia merasa dirinya paling benar.
Di tengah hiruk pikuk itu, hiduplah seorang lelaki tua bernama Darma. Ia bukan pejabat, bukan pula tokoh besar. Ia hanya penjaga arsip di sebuah kantor kecil yang nyaris tak terlihat.
Namun matanya menyimpan sesuatu yang tidak dimiliki banyak orang: kejujuran yang sunyi.Suatu hari, seorang pemuda datang dengan dada penuh amarah.
“Pak Tua,” katanya, “korupsi sudah seperti penyakit. Semua orang melakukannya. Apa mungkin kita memusnahkannya?”
Darma tersenyum tipis, seakan sudah mendengar pertanyaan itu ribuan kali.
“Anak muda,” jawabnya pelan, “yang ingin kau musnahkan itu sebenarnya bukan di luar sana.”Pemuda itu mengernyit.
“Maksud Bapak?”
Darma berdiri, berjalan ke jendela, memandang jalanan yang dipenuhi manusia yang tergesa-gesa.
“Korupsi bukan hanya soal uang yang diambil diam-diam. Ia lahir dari keinginan kecil yang kita biarkan tumbuh—keinginan untuk lebih, tanpa peduli hak orang lain.”
Pemuda itu terdiam.
“Ketika seseorang memotong antrean karena merasa lebih penting, di situlah benihnya,” lanjut Darma.
“Ketika seseorang berbohong demi keuntungan kecil, di situlah ia mulai hidup. Dan ketika orang-orang membenarkannya, ia tumbuh menjadi sesuatu yang kita sebut korupsi.”
“Jadi… tidak bisa dimusnahkan?” tanya pemuda dengan nada putus asa.
Darma menoleh, matanya teduh namun tajam.
“Bisa. Tapi bukan seperti membakar hutan. Korupsi tidak mati karena hukum saja, atau karena teriakan massa. Ia mati ketika manusia berani mengalahkan dirinya sendiri.”
Angin sore masuk melalui jendela, membawa suara kota yang tak pernah benar-benar diam.
“Yang sulit,” kata Darma, “adalah manusia lebih mudah menunjuk kesalahan orang lain daripada mengakui keserakahannya sendiri. Orang angkuh merasa dirinya bersih, padahal ia hanya belum punya kesempatan.”Kata-kata itu menampar pelan, namun dalam.
Pemuda itu menunduk. Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan orang lain. Ia melihat dirinya sendiri—keputusan-keputusan kecil yang dulu ia anggap sepele.
“Lalu, apa yang harus saya lakukan?” tanyanya lirih.
Darma tersenyum.
“Mulailah dari hal yang tidak dilihat orang. Kejujuran yang tidak dipuji. Kebaikan yang tidak diumumkan. Di situlah korupsi kehilangan tempat tinggalnya.”
Matahari mulai tenggelam, meninggalkan cahaya keemasan yang lembut. Pemuda itu pergi tanpa banyak kata, tetapi langkahnya berbeda. Lebih pelan, namun lebih sadar.
Di negeri itu, mungkin korupsi belum musnah. Namun di dalam satu hati, sebuah perlawanan telah dimulai.
Dan barangkali, dari situlah segalanya berubah.
Penulis : Amatus Rahakbauw




















