
OPINI — Pagi itu seorang lelaki tua bernama Markus berdiri tanpa alas kaki di tepi laut. Rambutnya memutih, kulitnya menghitam oleh matahari. Di hadapannya matahari terbit, ombak menyentuh kakinya. Lalu ia berkata pelan, “Jangan rusak hutan, laut, dan tanah kami.” Tidak ada tepuk tangan, tidak ada kamera. Namun kalimat itu lebih berat dari pidato panjang, karena lahir dari pengalaman hidup yang melihat hutan sebagai rumah dan laut sebagai sumber kehidupan.
Dulu hutan di belakang kampungnya begitu lebat. Anak-anak mandi di sungai yang jernih, warga mengambil ikan dan kayu secukupnya. Ayahnya pernah berpesan agar tidak menganggap hutan sebagai benda mati, karena hutan memberi kehidupan. Namun waktu berlalu, jalan dibuka, mesin datang, suara gergaji menggantikan nyanyian burung. Markus tidak menolak pembangunan, ia hanya bertanya, kemajuan untuk siapa jika alam menjadi korban.
Pertanyaan itu kembali muncul saat cucunya, Daniel, yang berusia 12 tahun bertanya, “Kalau negeri kita kaya hutan, laut, dan tanah, kenapa masih banyak orang miskin?” Markus menjawab, kekayaan bukan hanya soal apa yang kita miliki, tetapi apa yang mampu kita jaga. Orang yang mengambil semuanya terlihat kaya, tetapi orang yang menyisakan untuk generasi berikutnya jauh lebih kaya.
Markus paling memahami perubahan di laut. Ia tahu arah angin dan warna langit sebelum hujan. Kini sampah plastik mengapung, lokasi yang dulu penuh ikan mulai sepi. Ketika Daniel bertanya kenapa laut banyak sampah, Markus mengambil botol plastik dan menjawab, “Ini bukan sampah laut, ini sampah manusia.” Laut, hutan, dan sungai tidak pernah membuat sampah, manusia yang membuatnya.
Dalam sebuah pertemuan kampung yang dihadiri pejabat dan pengusaha, pidato panjang tentang investasi dan pertumbuhan ekonomi disampaikan. Saat tiba giliran Markus, ia hanya berkata, “Kalau pembangunan harus dilakukan, lakukanlah dengan hati. Anak-anak kita tidak butuh janji tinggi, mereka butuh air bersih, udara sehat, laut berisi ikan, dan tanah yang bisa ditanami.”
Menurut Markus, ada batas yang harus dijaga antara hak dan keserakahan, antara kebutuhan dan keinginan. Iman tidak hanya terlihat di tempat ibadah, tetapi juga saat manusia memperlakukan bumi. Ketika uang menjadi satu-satunya ukuran, manusia kehilangan kemampuan membedakan harga dan nilai. Harga pohon bisa dihitung, tetapi tidak dengan nilai teduhnya.
Musim hujan kemudian datang, sungai berubah cokelat dan meluap. Markus tidak menyalahkan hujan, ia memandang ke hulu yang hutannya telah berubah. Ia berkata, alam sebenarnya sudah lama berbicara, hanya saja manusia terlalu sibuk berbicara sehingga lupa mendengarkan. Pemuda kampung akhirnya bergerak, membersihkan sungai dan menanam pohon, memulai dari hal kecil.
Bertahun-tahun kemudian Daniel menjadi guru dan membawa murid-muridnya ke tepi laut yang sama. Ia mengulang kalimat kakeknya dan mengajak anak-anak memungut sampah tanpa panggung dan spanduk. Satu kalimat bisa mengalahkan satu pidato ketika dihidupi dengan tindakan. Manusia hanya menumpang sementara di bumi, maka bumi jangan dijadikan warisan yang habis dibagi, melainkan amanah yang harus terus dijaga.
Penulis : Amartus Rahakbauw K







