
OPINI — Direktur Geopolitik GREAT Institute Teguh Santosa menilai strategi konsolidasi politik Presiden Prabowo Subianto lebih menyerupai permainan othello dibanding catur. Dalam othello, bidak lawan yang diapit akan dibalik warnanya menjadi sekutu, bukan disingkirkan seperti dalam catur yang menganut prinsip zero-sum game
Ilustrasi strategi tersebut terlihat pada lanskap politik pasca Pilpres 2024. Partai Nasdem dan PKB yang awalnya berada di luar pemerintahan berhasil dirangkul masuk koalisi. Sementara PKS juga ditarik ke dalam koalisi untuk mencegah terbentuknya oposisi ideologis yang solid di parlemen.
Teguh menyebut Prabowo juga menjaga komunikasi tingkat tinggi dengan PDI-P. Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri bahkan menolak label oposisi dan lebih memilih istilah “penyeimbang” untuk menggambarkan hubungan dengan pemerintah.
Analisis tersebut juga menyoroti fokus pemerintahan dalam mengamankan “petak sudut” stabilitas. Pilar yang dimaksud meliputi penguatan legislatur, soliditas TNI-Polri, serta agenda ketahanan pangan, hilirisasi energi, dan gizi nasional sebagai jangkar legitimasi publik.
Namun strategi big tent ini dinilai menyimpan tantangan. Dengan hampir semua partai berada di pemerintahan, fungsi pengawasan DPR dikhawatirkan melemah. Teguh menekankan sistem presidensial Indonesia berbasis musyawarah membuat checks and balances bergeser ke pengawasan internal koalisi dan partisipasi publik.
Sumber: Teguh Santosa, Direktur Geopolitik GREAT Institute & Dosen HI UIN Syarif Hidayatullah
Penulis : Red






