Jurnalis Diminta Utamakan Integritas dan Solidaritas, Bukan Saling Menjatuhkan

- Penulis

Minggu, 30 Agustus 2026 - 00:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI — Menyoroti praktik sebagian jurnalis yang dinilai bertolak belakang dengan nilai-nilai jurnalisme. Dalam tulisannya berjudul _“Jurnalisme Bukan Panggung untuk Menjatuhkan Kawan”_, ia menyebut ada ironi ketika jurnalis yang bertugas mengkritik pejabat dan membongkar persoalan publik, justru masih menjadikan rekan seprofesi sebagai bahan gunjingan.

Menurut penulis, kualitas seorang jurnalis seharusnya tidak diukur dari seberapa rendah ia mampu membuat jurnalis lain terlihat buruk. Ia menekankan bahwa jurnalisme bukan ajang memamerkan jumlah pengikut, kedekatan dengan pejabat, atau seringnya nama muncul di media sosial. Pekerjaan jurnalistik disebutnya sebagai tugas sunyi untuk mencari fakta, memeriksa kebenaran, dan mempertanggungjawabkan setiap kalimat kepada publik.

Tulisan tersebut juga mengingatkan bahwa kompetisi dalam pers memang diperlukan agar media tetap kritis. Namun kompetisi memiliki batas. Ketika persaingan berubah menjadi upaya menjatuhkan karakter, maka yang dipertontonkan bukan lagi kualitas karya, melainkan ego. Kerendahan hati seperti mengakui “saya belum tahu” atau “saya keliru” justru dinilai sebagai bentuk kedewasaan profesional.

Baca Juga  Salut, Pansus Plasma HGU Perkebunan di Batu Bara Terbentuk 

Di era media sosial, batas antara karya jurnalistik dan pencitraan pribadi disebut semakin tipis. Penulis mengingatkan bahwa publik tidak membutuhkan jurnalis yang paling berisik, melainkan jurnalis yang paling dapat dipercaya. Kredibilitas, menurutnya, dibangun bertahun-tahun dan bisa runtuh hanya karena satu kebohongan.

Lebih lanjut, opini itu menegaskan pentingnya solidaritas profesional di kalangan jurnalis. Kebebasan pers tidak berdiri pada keberanian satu orang, tetapi membutuhkan ekosistem yang saling mendukung. Kritik terhadap karya tetap harus dilakukan, tetapi harus dibedakan dengan penghinaan personal. “Berita ini tidak memiliki verifikasi yang cukup” berbeda dengan “wartawan itu memang tidak becus”.

Di bagian akhir, penulis mengajak agar jurnalis kembali pada ukuran dasar profesi: akurasi, keberimbangan, dan manfaat bagi publik. Sejarah, tulisnya, tidak akan mencatat siapa yang paling ramai berdebat di grup atau paling sering menjatuhkan rekan. Yang tertinggal adalah karya jurnalistik yang mengungkap penyalahgunaan kekuasaan, membela masyarakat kecil, dan mendorong perbaikan kebijakan. “Jurnalisme adalah medan pengabdian kepada kebenaran,” demikian penutup opini tersebut.

Baca Juga  Ketua DPW PW-FRN se-Indonesia Angkat Sumpah, Personil Polri Beri Dukungan

 

Penulis : Amartus Rahakbauw K

Berita Terkait

Etika di Atas Senioritas
Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan
Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku
Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif
Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya
Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa
Agus Flores Nobar FIFA 2026 Bersama Kapolda Jabar dan Jajaran Dukung Program Kapolri
Jurnalis dan Nurani Kebenaran: Saat Pena Menjadi Cahaya Peradaban

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 00:24 WIB

Jurnalis Diminta Utamakan Integritas dan Solidaritas, Bukan Saling Menjatuhkan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Etika di Atas Senioritas

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:03 WIB

Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:35 WIB

Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page