
OPINI — Menyoroti praktik sebagian jurnalis yang dinilai bertolak belakang dengan nilai-nilai jurnalisme. Dalam tulisannya berjudul _“Jurnalisme Bukan Panggung untuk Menjatuhkan Kawan”_, ia menyebut ada ironi ketika jurnalis yang bertugas mengkritik pejabat dan membongkar persoalan publik, justru masih menjadikan rekan seprofesi sebagai bahan gunjingan.
Menurut penulis, kualitas seorang jurnalis seharusnya tidak diukur dari seberapa rendah ia mampu membuat jurnalis lain terlihat buruk. Ia menekankan bahwa jurnalisme bukan ajang memamerkan jumlah pengikut, kedekatan dengan pejabat, atau seringnya nama muncul di media sosial. Pekerjaan jurnalistik disebutnya sebagai tugas sunyi untuk mencari fakta, memeriksa kebenaran, dan mempertanggungjawabkan setiap kalimat kepada publik.
Tulisan tersebut juga mengingatkan bahwa kompetisi dalam pers memang diperlukan agar media tetap kritis. Namun kompetisi memiliki batas. Ketika persaingan berubah menjadi upaya menjatuhkan karakter, maka yang dipertontonkan bukan lagi kualitas karya, melainkan ego. Kerendahan hati seperti mengakui “saya belum tahu” atau “saya keliru” justru dinilai sebagai bentuk kedewasaan profesional.
Di era media sosial, batas antara karya jurnalistik dan pencitraan pribadi disebut semakin tipis. Penulis mengingatkan bahwa publik tidak membutuhkan jurnalis yang paling berisik, melainkan jurnalis yang paling dapat dipercaya. Kredibilitas, menurutnya, dibangun bertahun-tahun dan bisa runtuh hanya karena satu kebohongan.
Lebih lanjut, opini itu menegaskan pentingnya solidaritas profesional di kalangan jurnalis. Kebebasan pers tidak berdiri pada keberanian satu orang, tetapi membutuhkan ekosistem yang saling mendukung. Kritik terhadap karya tetap harus dilakukan, tetapi harus dibedakan dengan penghinaan personal. “Berita ini tidak memiliki verifikasi yang cukup” berbeda dengan “wartawan itu memang tidak becus”.
Di bagian akhir, penulis mengajak agar jurnalis kembali pada ukuran dasar profesi: akurasi, keberimbangan, dan manfaat bagi publik. Sejarah, tulisnya, tidak akan mencatat siapa yang paling ramai berdebat di grup atau paling sering menjatuhkan rekan. Yang tertinggal adalah karya jurnalistik yang mengungkap penyalahgunaan kekuasaan, membela masyarakat kecil, dan mendorong perbaikan kebijakan. “Jurnalisme adalah medan pengabdian kepada kebenaran,” demikian penutup opini tersebut.
Penulis : Amartus Rahakbauw K












