Sepuluh hari menjelang hari besar. Di banyak gereja, terdengar lagu-lagu pujian: “Datanglah, Tuhan Yesus.” Namun pertanyaannya: benarkah kita menantikan kedatangan-Nya, atau kita hanya hadir agar terlihat aktif dan rohani?
Namamu mungkin tercatat sebagai panitia. Mungkin kamu memimpin pujian dengan suara yang lantang, tangan terangkat tinggi dalam penyembahan. Tapi bagaimana dengan hatimu? Apakah Tuhan masih punya ruang di sana?
Penantian bukan soal aktivitas semata. Bukan tentang kamu berdiri di depan atau duduk di belakang. Penantian adalah soal hati. Dan kenyataannya, tidak sedikit di antara kita yang, walau mulut memuji, hatinya jauh dari Kristus.
Ada yang merasa diri hebat karena bisa berkhotbah atau bernubuat. Tapi kita lupa: bahkan Iblis pun tahu Firman, bahkan bisa menyamar seperti malaikat terang.
Dina—seorang wanita sederhana yang tak dikenal siapa-siapa—mengerti arti penantian lebih dalam daripada banyak dari kita. Ia tak tampil di mimbar, tapi setiap pagi ia berlutut dan menangis. Bukan karena dosa besar, tapi karena rasa haus akan Tuhan. Ia rindu siap saat Yesus datang.
Sementara banyak dari kita masih sibuk mengejar pengakuan. Masih terjebak membandingkan diri, bahkan menyalahgunakan ayat untuk menghakimi, bukan untuk menyembuhkan.
Yesus tidak mencari orang hebat. Ia mencari hati yang hancur—yang mau dibentuk ulang.
Hari kesepuluh tiba. Suasana penuh sukacita. Tapi siapa yang benar-benar berjumpa Tuhan?
Bukan yang paling keras bersorak.
Bukan yang paling rapi pakaiannya.
Tapi dia yang dengan tulus berkata, “Tuhan, aku ini pendosa. Jika Engkau datang hari ini, jangan biarkan aku tertinggal.”
Penantian bukan soal hafal liturgi. Bukan soal tahu nubuat dari A sampai Z. Tapi soal kesiapan hati. Jika Yesus datang malam ini—sekarang juga—siapkah engkau?
Atau masih sibuk menghitung likes dan komentar dari unggahan pelayananmu?
Ini bukan penghakiman. Ini panggilan untuk bertobat. Waktu terlalu singkat untuk bermain peran.
Jangan tunggu musibah dulu baru cari Tuhan.
Jangan tunggu sakit dulu baru berseru.
Yesus tidak menanti yang sempurna. Ia menanti yang mau dibersihkan. Yang sadar dirinya lemah, tapi tetap datang kepada-Nya.
Hari ke-10 bisa jadi hari ini.
Pertanyaannya:
Apakah kamu sungguh siap… atau hanya pandai berpura-pura?
Penulis : Amatus Rahakbauw K


















