
Penulis/Cerita : Amatus.Rahakbauw K
Editor : ARK
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)
Ada saat-saat dalam kehidupan ketika manusia berdiri di persimpangan antara harapan dan keputusasaan.
Di hadapan mata tampak jalan yang gelap, sementara di dalam hati berkecamuk pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. Namun, justru pada saat itulah iman diuji: apakah kita tetap percaya kepada janji Tuhan, atau menyerah kepada keadaan?Aku memilih untuk percaya.
Ketika aku mempercayai janji Tuhan atas hidupku, aku menyadari bahwa hidup dan matiku sepenuhnya berada di dalam tangan-Nya. Tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi di luar pengetahuan-Nya. Tidak ada air mata yang luput dari perhatian-Nya, dan tidak ada pergumulan yang terlalu berat bagi kuasa-Nya.
Iman bukanlah keyakinan bahwa hidup akan selalu mudah. Iman adalah keberanian untuk tetap melangkah ketika jalan belum terlihat, karena kita yakin Tuhan sedang berjalan di depan. Apa yang mustahil bagi manusia menjadi mungkin bagi Allah. Sebab kuasa-Nya tidak dibatasi oleh waktu, keadaan, maupun kelemahan manusia.
Sering kali Tuhan tidak mengubah keadaan seketika, tetapi Dia mengubah hati kita agar mampu menghadapi setiap musim kehidupan. Dari setiap luka lahir kedewasaan, dari setiap air mata tumbuh pengharapan, dan dari setiap penantian Tuhan sedang membentuk karakter yang semakin serupa dengan kehendak-Nya.
Karena itu, aku tidak lagi hidup dalam ketakutan. Aku percaya bahwa setiap janji Tuhan akan digenapi pada waktu-Nya yang sempurna. Tugas manusia bukan memaksa Tuhan mengikuti kehendaknya, melainkan belajar taat kepada kehendak Tuhan. Di situlah damai sejati ditemukan.
Seperti tertulis dalam Firman Tuhan:
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” (Amsal 3:5–6)
Dan Yesus sendiri berkata:
“Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” (Matius 19:26)
Maka, selama napas masih Tuhan anugerahkan, aku akan tetap percaya.
Sebab hidupku bukan ditentukan oleh ketakutan, melainkan oleh janji Allah yang tidak pernah gagal. Ketika waktunya tiba, semua yang telah dijanjikan-Nya akan menjadi nyata sesuai dengan kehendak-Nya yang sempurna.
Pada akhirnya, setiap perjalanan hidup akan memuliakan nama Tuhan, karena hanya Dialah sumber pengharapan, kekuatan, dan keselamatan untuk selama-lamanya.










