“Jurnalisme dan Nurani: Menulis dengan Hati, Bukan Ego”

- Penulis

Rabu, 15 April 2026 - 21:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Penulis Amatus.Rahakbauw K

Menjadi jurnalis bukan sekadar menulis berita, tetapi merawat nurani. Di balik setiap kata yang tersusun, ada tanggung jawab moral yang tak terlihat, namun terasa. Pena bukan hanya alat, melainkan cermin dari hati—apakah ia jernih atau keruh oleh ambisi.

Di dunia yang penuh sorotan, pujian kerap menjadi godaan. Ia datang halus, membelai ego, lalu perlahan menumbuhkan kesombongan. Seorang jurnalis yang kehilangan kerendahan hati akan mudah tergelincir—bukan karena kurang cerdas, tetapi karena lupa bahwa kebenaran tidak pernah membutuhkan kesombongan untuk berdiri tegak.

Ada pula yang memilih jalan licik, menjatuhkan sesama demi terlihat lebih tinggi. Padahal, tinggi yang dibangun dari runtuhnya orang lain hanyalah ilusi. Ia rapuh, sebab tidak berakar pada integritas, melainkan pada kepalsuan.

Baca Juga  Aksi Demo TM Gemkara Batu Bara, Bak Gayung Bersambut

Filsafat mengajarkan bahwa manusia sejati adalah ia yang mampu menaklukkan dirinya sendiri. Dalam profesi ini, menaklukkan diri berarti menahan keinginan untuk dipuji, mengendalikan ego, dan tetap jujur meski tak ada yang melihat.

Hati adalah hakim yang tak pernah bisa dibohongi. Ia mencatat setiap niat, setiap kata, dan setiap tindakan. Apa yang ditulis dengan niat yang tidak tulus, pada akhirnya akan kembali kepada penulisnya—entah sebagai penyesalan atau pelajaran.

Maka jadilah jurnalis yang rendah hati. Menulis bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk menyuarakan kebenaran. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa banyak pujian yang diterima, tetapi seberapa jujur hati yang berbicara melalui setiap tulisan.

Baca Juga  Seruan Para Raja dan Ratu bersama Wali Spiritual Nusantara Mendesak MPR/DPR/DPD RI Melaksanakan Sidang Istimewa

Berita Terkait

Dari Gosip ke Gagasan: Tiga Tingkatan Berpikir yang Menentukan Kualitas Bangsa
“Membunuh Korupsi di Dalam Diri”
Di Pelataran Senja, Seorang Pelayan Menanti Fajar Paskah
Bertahan Sampai Habis: Kisah Sunyi yang Tidak Pernah Diceritakan
Pangan Berdaulat
Syawal: Ketika Hati Pulang ke Cahaya
Ketika Tuhan Memanggil Kembali Hati Para Penatua dan Majelis
Hidup Simpel Tapi Kaya Pengetahuan

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 21:22 WIB

“Jurnalisme dan Nurani: Menulis dengan Hati, Bukan Ego”

Selasa, 14 April 2026 - 09:27 WIB

Dari Gosip ke Gagasan: Tiga Tingkatan Berpikir yang Menentukan Kualitas Bangsa

Sabtu, 11 April 2026 - 11:01 WIB

“Membunuh Korupsi di Dalam Diri”

Sabtu, 4 April 2026 - 16:36 WIB

Di Pelataran Senja, Seorang Pelayan Menanti Fajar Paskah

Sabtu, 28 Maret 2026 - 10:42 WIB

Bertahan Sampai Habis: Kisah Sunyi yang Tidak Pernah Diceritakan

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page