Penulis : Amatus.Rahakbauw. K
Di bawah langit malam Fakfak yang sunyi, ketika ombak perlahan memecah pantai dan angin menyentuh dedaunan dengan lembut, ada hati-hati yang datang kepada Tuhan sambil membawa luka yang tak mampu lagi diceritakan kepada manusia.
Minggu malam itu, Jemaat GPdI Bethesda Fakfak kembali berlutut dalam Doa Penantian hari ke-4.Bukan sekadar ibadah.
Melainkan tangisan jiwa-jiwa yang rindu disentuh Tuhan.
Di tengah dinginnya malam, pujian dinaikkan dengan suara yang kadang bergetar menahan air mata.
Ada yang datang dengan beban keluarga.
Ada yang lelah menghadapi kerasnya hidup.Ada pula yang terlihat tersenyum di luar, tetapi diam-diam hatinya hancur.
Namun malam itu, Roh Kudus hadir.
Lewat firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Clarce Bonsafia-Fakdawer, jemaat diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah memilih manusia karena kehebatannya.
Petrus dipakai Tuhan bukan karena ia kuat, melainkan karena hatinya mau dipenuhi Roh Kudus.
Dan sering kali, manusia baru sadar betapa ia membutuhkan Tuhan ketika air mata jatuh di pipinya sendiri.
Roh Kudus bukan hanya hadir di dalam gereja sebagai penghibur.
Ia hadir dalam kesepian.
Ia bekerja ketika doa mulai melemah.
Ia memeluk saat manusia lain memilih pergi.
Malam itu banyak hati tersentuh.
Firman Tuhan seakan menampar kesombongan manusia yang merasa mampu berjalan sendiri tanpa Tuhan. Padahal tanpa Roh Kudus, manusia hanyalah tubuh yang berjalan dengan hati yang kosong.
Di tengah doa-doa yang naik ke surga, pemuda-pemudi GPdI Bethesda Fakfak juga diingatkan untuk tetap hidup kudus di zaman yang perlahan membuat manusia kehilangan hati nurani.
Sebab dunia hari ini pandai membuat manusia tertawa di media sosial, tetapi diam-diam menangis saat sendiri.
Dan di bawah langit Fakfak malam itu, jemaat pulang bukan membawa kemewahan, melainkan hati yang kembali hidup.
Sebab ada air mata yang akhirnya jatuh di hadapan Tuhan.
Dan sering kali, air mata yang jatuh dalam doa…adalah awal dari mujizat yang sedang Tuhan kerjakan.













