“Air Mata di Bawah Langit Fakfak: Saat Roh Kudus Menyentuh Hati yang Terluka”

- Penulis

Senin, 18 Mei 2026 - 14:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Penulis : Amatus.Rahakbauw. K

Di bawah langit malam Fakfak yang sunyi, ketika ombak perlahan memecah pantai dan angin menyentuh dedaunan dengan lembut, ada hati-hati yang datang kepada Tuhan sambil membawa luka yang tak mampu lagi diceritakan kepada manusia.

Minggu malam itu, Jemaat GPdI Bethesda Fakfak kembali berlutut dalam Doa Penantian hari ke-4.Bukan sekadar ibadah.

Melainkan tangisan jiwa-jiwa yang rindu disentuh Tuhan.

Di tengah dinginnya malam, pujian dinaikkan dengan suara yang kadang bergetar menahan air mata.

Ada yang datang dengan beban keluarga.

Ada yang lelah menghadapi kerasnya hidup.Ada pula yang terlihat tersenyum di luar, tetapi diam-diam hatinya hancur.

Namun malam itu, Roh Kudus hadir.

Baca Juga  Ketua DPW PW-FRN se-Indonesia Angkat Sumpah, Personil Polri Beri Dukungan

Lewat firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Clarce Bonsafia-Fakdawer, jemaat diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah memilih manusia karena kehebatannya.

Petrus dipakai Tuhan bukan karena ia kuat, melainkan karena hatinya mau dipenuhi Roh Kudus.

Dan sering kali, manusia baru sadar betapa ia membutuhkan Tuhan ketika air mata jatuh di pipinya sendiri.

Roh Kudus bukan hanya hadir di dalam gereja sebagai penghibur.

Ia hadir dalam kesepian.

Ia bekerja ketika doa mulai melemah.

Ia memeluk saat manusia lain memilih pergi.

Malam itu banyak hati tersentuh.

Firman Tuhan seakan menampar kesombongan manusia yang merasa mampu berjalan sendiri tanpa Tuhan. Padahal tanpa Roh Kudus, manusia hanyalah tubuh yang berjalan dengan hati yang kosong.

Baca Juga  Sebuah Diskotik Papan Atas Kelas Satu di Jakarta

Di tengah doa-doa yang naik ke surga, pemuda-pemudi GPdI Bethesda Fakfak juga diingatkan untuk tetap hidup kudus di zaman yang perlahan membuat manusia kehilangan hati nurani.

Sebab dunia hari ini pandai membuat manusia tertawa di media sosial, tetapi diam-diam menangis saat sendiri.

Dan di bawah langit Fakfak malam itu, jemaat pulang bukan membawa kemewahan, melainkan hati yang kembali hidup.

Sebab ada air mata yang akhirnya jatuh di hadapan Tuhan.

Dan sering kali, air mata yang jatuh dalam doa…adalah awal dari mujizat yang sedang Tuhan kerjakan.

Berita Terkait

Hutan Menangis, Negeri Terdiam
Ketika Alam Mulai Menagih
Sepuluh Program Prioritas Baharuddin-Syafrizal, Delapan Berjalan Maksimal, Dua Terkendala Anggaran
Jangan Rusak Hutan, Laut dan Tanah Kami
Hari Tanjak Sedunia 2026, Dari Istana Niat Lima Laras, Batu Bara Teguhkan Semangat “Bertanjak” untuk Kemajuan, Budaya dan Kesejahteraan
Jaga Marwah dan Identitas Kabupaten Batu Bara Serukan Pelestarian Budaya Melalui Peringatan Hari Bertanjak Sedunia 2026
MBG Tanjung Tiram dipertanyakan: 67 Instansi, baru 23 Terlayani 44 Masih Menunggu
Prabowo Terapkan “Politik Othello”: Rangkul Lawan Jadi Sekutu

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 16:35 WIB

Hutan Menangis, Negeri Terdiam

Jumat, 25 September 2026 - 11:33 WIB

Ketika Alam Mulai Menagih

Rabu, 23 September 2026 - 09:42 WIB

Sepuluh Program Prioritas Baharuddin-Syafrizal, Delapan Berjalan Maksimal, Dua Terkendala Anggaran

Sabtu, 19 September 2026 - 10:11 WIB

Jangan Rusak Hutan, Laut dan Tanah Kami

Rabu, 16 September 2026 - 14:00 WIB

Hari Tanjak Sedunia 2026, Dari Istana Niat Lima Laras, Batu Bara Teguhkan Semangat “Bertanjak” untuk Kemajuan, Budaya dan Kesejahteraan

Berita Terbaru

DPRD Murung Raya

Akhirudin Minta Pemkab Murung Raya Antisipasi Ancaman Kekeringan

Sabtu, 17 Okt 2026 - 00:23 WIB

You cannot copy content of this page