Penulis Amatus.Rahakbauw K
Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di antara perbukitan hijau yang memeluk Kota Manokwari. Matahari perlahan bangkit dari ufuk timur, menembus celah-celah hutan tropis yang basah oleh embun.
Burung-burung cenderawasih beterbangan di kejauhan, sementara desir angin dari laut Pasifik membawa aroma garam yang bercampur wangi tanah hutan Papua.
Di tanah yang diberkati gunung, lembah, dan lautan itulah, seorang anak asli Papua melanjutkan langkah pengabdiannya bagi negeri yang dicintainya.
Dominggus Mandacan pagi itu tidak tampil sebagai seorang penguasa. Ia hadir seperti seorang saudara tua yang pulang menyapa tanah kelahirannya sendiri.
Dengan sederhana, ia menunggangi Honda BeAT Street melewati jalan-jalan yang membelah rimba dan kampung-kampung kecil yang tenang.
Perjalanan riding santai bersama jajaran Kodam XVIII/Kasuari menuju Yonif 761/Warmare pada Sabtu, 9 Mei 2026, bukan sekadar perjalanan biasa. Itu adalah perjalanan batin tentang persaudaraan, tentang cinta kepada tanah Papua, dan tentang harapan yang terus dijaga di tengah sunyi hutan-hutan tua.
Rombongan bergerak perlahan dari Markas Kodam XVIII/Kasuari. Di kiri jalan, pohon-pohon besar berdiri seperti penjaga zaman. Di kanan, lembah-lembah hijau terbentang luas, seolah Tuhan sendiri sedang melukis surga kecil di ujung timur Indonesia.
Sesekali, masyarakat yang berdiri di pinggir jalan melambaikan tangan. Anak-anak kecil tersenyum malu-malu. Para mama Papua memandang dengan mata penuh harap. Mereka melihat bukan hanya seorang gubernur, melainkan seorang anak negeri yang tidak melupakan tanahnya.
Turut mendampingi perjalanan itu, Wakil Ketua II DPR Papua Barat Petrus Makbon, Sekretaris DPR Papua Barat Hendra M. Fatubun, Kepala Badan Kesbangpol Papua Barat Reinhard Calvin Maniagasi, serta para prajurit TNI yang selama ini menjaga tanah Papua dengan kesetiaan dan pengorbanan.
Di tengah perjalanan itu pula, terselip kisah sederhana yang menyentuh hati.
Dua unit motor diserahkan di Kantor Klasis Hatam Moile Meach, Prafi, Kabupaten Manokwari. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya kendaraan biasa.
Namun bagi masyarakat pedalaman Papua, motor itu adalah jalan pengabdian, alat pelayanan, dan harapan untuk menjangkau saudara-saudara di kampung-kampung terpencil.
Sebab di Papua, pelayanan bukan hanya dilakukan di gedung megah. Pelayanan berjalan menembus lumpur, mendaki bukit, melintasi sungai, dan melewati hutan yang sunyi.
Ketika rombongan tiba di lapangan tembak Yonif 761/Warmare, suasana terasa hangat dan penuh persaudaraan. Tidak ada jarak antara pejabat dan prajurit. Semua duduk bersama di bawah langit Papua yang biru.
“Mari kita sama-sama jalan menuju lapangan tembak,” ujar Dominggus dengan nada tenang.
Kalimat itu sederhana. Namun di tanah Papua yang sering dipenuhi luka sejarah dan kerinduan akan damai, ajakan untuk berjalan bersama memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Di lapangan tembak itu, suara peluru sesekali memecah kesunyian hutan. Namun di balik dentuman tersebut, tersimpan pesan tentang kesiapan menjaga kedamaian tanah Papua.
Dominggus terlihat cukup mahir menggunakan senjata. Dari lima sasaran, tiga berhasil dijatuhkan dengan tepat. Tetapi hari itu bukan tentang siapa paling hebat menembak.
Hari itu adalah tentang kebersamaan, tentang rasa saling percaya antara pemerintah dan aparat keamanan demi menjaga Papua Barat tetap damai.
Sementara angin gunung bertiup lembut, awan putih bergerak perlahan di atas langit Warmare. Hutan-hutan hijau membentang seperti permadani kehidupan yang tak pernah habis dipandang mata. Laut biru di kejauhan berkilau diterpa cahaya matahari sore.
Papua Barat memang bukan sekadar tanah.
Ia adalah doa yang hidup.
Ia adalah nyanyian alam yang terus bergema di antara gunung, lembah, dan ombak lautan.
Dan di tanah itu, setiap langkah pengabdian akan selalu dikenang oleh rakyat kecil yang hidup bersahaja di kaki-kaki bukit dan pesisir pantai.
Kegiatan riding dan latihan menembak bersama itu akhirnya selesai menjelang senja. Namun kehangatan persaudaraan yang lahir hari itu akan tetap tinggal di hati banyak orang.
Sebab Papua tidak membutuhkan banyak janji.
Papua hanya ingin dicintai dengan tulus.
Dan cinta itu terkadang hadir melalui perjalanan sederhana di bawah langit Kasuari.




















