Cerpen:
Di sebuah sudut kota pesisir, para wartawan duduk melingkar. Di antara gelas kopi dan kertas catatan, mereka berbincang lirih tentang kabar yang berhembus seperti angin laut: harapan akan adanya bantuan yang bisa meringankan langkah mereka dalam menulis dan berkarya.
Namun, percakapan itu sering berakhir pada tanda tanya. Siapa yang pantas menerima? Bagaimana cara memastikan semua bisa merasakan manfaatnya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar, meninggalkan renungan di wajah-wajah yang sudah lelah oleh tugas dan waktu.
Bagi mereka, bantuan bukan sekadar angka dalam buku. Ia adalah simbol perhatian—penopang pena yang terus menari di bawah terik dan hujan, penguat langkah yang saban hari menjejak jalanan demi menghadirkan berita. Bantuan, sejatinya, adalah napas tambahan agar semangat tetap hidup di tengah segala keterbatasan.
“Bantuan itu hadir dari kepedulian,” ucap seorang wartawan dengan suara tenang. “Yang terpenting, ia bisa menjadi jembatan kebersamaan, agar setiap pena tetap menuliskan kebenaran.”
Harapan itu tetap mereka tulis di halaman-halaman kecil: semoga segala bentuk dukungan dapat memberi manfaat nyata, bukan hanya sekadar wacana. Bagi para wartawan, keadilan berarti kebersamaan—dan kebersamaan itulah yang menjaga mereka tetap kuat.
Bayangan dana di balik meja redaksi akhirnya menjadi cermin. Ia bukan soal besar kecil jumlahnya, tetapi tentang bagaimana ia mampu menyatukan, memberi ruang bernapas, dan membuat pena tetap menari tanpa henti.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K



















