BATAM — Lebih dari 300 peserta memadati forum internasional yang digelar di House of Glory, Batam, dengan fokus pada penanganan trauma korban konflik Kfar Azza, Israel, yang hingga kini masih menyisakan luka mendalam, terutama bagi anak-anak.
Forum ini menghadirkan sejumlah pembicara dari dalam dan luar negeri, termasuk kalangan hamba Tuhan dan praktisi kemanusiaan. Tingginya antusiasme peserta menunjukkan besarnya kepedulian terhadap pemulihan trauma pasca konflik.
Salah satu pembicara, Monigue, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar forum biasa, melainkan panggilan kemanusiaan.
“Ini bukan hanya tentang teori, tetapi tentang hati yang terluka. Banyak korban, terutama anak-anak, masih hidup dalam ketakutan dan trauma yang mendalam,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci dalam proses pemulihan.
“Kita tidak bisa tinggal diam. Mereka membutuhkan perhatian, pendampingan, dan kasih yang nyata untuk bisa bangkit kembali,” tambahnya.
Hal tersebut diperkuat oleh Pdt. Emma E.J. Wanma saat dikonfirmasi jurnalis TempoTimur.com melalui WhatsApp, Selasa malam (28/4/2026) pukul 20.32 WIT.
Ia menekankan bahwa luka batin akibat konflik tidak mudah disembuhkan tanpa penanganan yang serius.
“Trauma ini nyata dan sangat dalam. Jika tidak ditangani dengan tepat, dampaknya bisa berlangsung seumur hidup, terutama bagi anak-anak yang menjadi korban,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut, dipaparkan materi bertajuk “Trauma Treatment – Kfar Azza” yang mengulas dampak serangan 7 Oktober, yang menyebabkan trauma fisik dan psikologis bagi warga sipil.
Menurut Pdt. Emma, hingga saat ini para korban masih bergulat dengan tekanan psikologis yang berat. Di sisi lain, keterbatasan tenaga profesional dan fasilitas kesehatan mental menjadi tantangan serius dalam proses pemulihan.
Sebagai solusi, berbagai pendekatan terapi diperkenalkan, termasuk terapi trauma yang dikombinasikan dengan terapi musik. Metode ini dinilai efektif dalam membantu anak-anak dan generasi muda mengatasi luka batin serta memulihkan rasa aman.
“Melalui terapi yang tepat, kita ingin mengembalikan harapan mereka. Anak-anak ini harus kembali merasakan sukacita, bukan ketakutan,” tutur Pdt. Emma.
Selain menjadi ruang edukasi, forum ini juga berfungsi sebagai wadah kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat dukungan terhadap korban konflik. Para peserta yang terdiri dari masyarakat, praktisi, dan pemangku kepentingan tampak aktif mengikuti setiap sesi diskusi.
Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran global akan pentingnya penanganan trauma pasca konflik, sekaligus mendorong penerapan metode pemulihan serupa di berbagai wilayah yang mengalami krisis kemanusiaan.
Fokus utama forum ini adalah memastikan kelompok rentan, khususnya anak-anak, mendapatkan perhatian serius dalam proses pemulihan, demi membangun kembali masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan.
Penulis : Amatus Rahakbauw, K





















