JAKARTA, TEMPOTIMUR.COM — Waktu boleh berjalan, usia boleh bertambah, tetapi semangat Georginio Wijnaldum belum juga meredup. Di usia 35 tahun, saat banyak pemain mulai menepi, gelandang asal Belanda ini justru masih menatap satu panggung terbesar sepak bola dunia di Piala Dunia 2026.
Sabtu siang, 25 April 2026, di hadapan awak media, Wijnaldum berbicara dengan nada tegas namun penuh keyakinan. Tidak ada keraguan dalam kalimatnya.
“Tentu saja saya ingin ke Piala Dunia. Saya akan melakukan segala upaya untuk mendapatkan kesempatan itu.”
Kalimat itu bukan sekadar ambisi kosong. Di Arab Saudi, bersama Al-Ettifaq, Wijnaldum sedang menulis bab baru dalam kariernya—dan melakukannya dengan cara yang sulit diabaikan. Dari 29 pertandingan, ia telah mengoleksi 15 gol dan 6 assist.
Angka yang bukan hanya impresif, tetapi juga menjadi pesan: ia masih layak diperhitungkan.
Perjalanan Wijnaldum musim ini juga bukan tanpa perubahan. Saat dilatih Steven Gerrard, ia sempat bermain lebih dalam, mengawal lini pertahanan. Namun seiring waktu, perannya bergeser kembali ke posisi yang ia kenal—gelandang dinamis yang bebas bergerak dan berkontribusi di lini serang.
Di situlah, Wijnaldum menemukan dirinya kembali.“Sekarang saya bermain di posisi yang saya inginkan dan dalam kondisi prima,” ujarnya.
Lebih dari sekadar statistik, Wijnaldum membawa sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka: pengalaman. Ia pernah merasakan atmosfer Piala Dunia 2014, memahami tekanan, dan tahu bagaimana menjaga keseimbangan tim di momen-momen krusial.
Baginya, sepak bola bukan hanya tentang energi muda, tetapi juga tentang kepemimpinan.“Anda membutuhkan pemain yang bisa memimpin dan juga yang bisa mendukung.”
Namun, perjalanan menuju tim nasional tidak selalu lurus. Keputusannya bermain di Saudi Pro League sempat memunculkan keraguan dari sebagian pihak. Ada anggapan bahwa kariernya telah memasuki fase penurunan.
Wijnaldum tidak menepis penilaian itu—ia menantangnya.“Dengan segala hormat, Saudi Pro League lebih kuat daripada Eredivisie. Jika pemain di Eredivisie punya statistik seperti saya, apakah tidak akan masuk radar timnas?”
Sebuah pernyataan yang mencerminkan keyakinan, sekaligus sedikit kegelisahan. Ia sadar, untuk tetap dilirik, ia harus bekerja lebih keras, membuktikan lebih banyak.
Dan sejauh ini, ia melakukannya.
Dengan 96 caps bersama tim nasional Belanda, serta kontribusi 28 gol dan 9 assist, Wijnaldum bukan nama asing dalam sejarah Oranje. Ia adalah bagian dari generasi yang pernah membawa harapan besar, dan kini, mungkin, sedang berusaha menutup perjalanan dengan satu penampilan terakhir di panggung dunia.
Piala Dunia 2026 mungkin akan menjadi garis akhir. Atau justru, puncak terakhir.
Bagi Wijnaldum, ini bukan sekadar turnamen.Ini adalah mimpi yang belum selesai.
Penulis : Amatus Rahakbauw, K




















