Ketum PW FRN Agus Flores: Nama Bhayangkara Jangan Dijadikan Simbol Kosong, Ini Warisan Sakral Majapahit

- Penulis

Rabu, 9 Juli 2025 - 16:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Jakarta – Ketua Umum Perkumpulan Wartawan (PW) Fast Respon Nusantara (FRN) Counter Polri, Agus Flores, menegaskan bahwa penggunaan nama “Bhayangkara” oleh Kepolisian Republik Indonesia (Polri) bukan sekadar identitas simbolik. Menurutnya, nama tersebut mengandung jejak sejarah dan nilai-nilai luhur yang berasal dari kejayaan Kerajaan Majapahit.

> “Bhayangkara bukan hanya sekadar nama atau gelar seremonial. Itu adalah warisan sakral dari peradaban besar Nusantara, Majapahit. Polri harus sadar, nama itu membawa tanggung jawab sejarah dan spiritual yang besar,” tegas Agus Flores dalam keterangannya, Rabu (9/7/2025).

Bhayangkara: Penjaga Kedaulatan Majapahit Agus menjelaskan, dalam narasi sejarah yang jarang dipublikasikan secara terbuka, pasukan Bhayangkara merupakan garda terdepan penjaga negara Majapahit di bawah kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada. Mereka bukan hanya tangguh secara militer, tetapi juga menjunjung tinggi kehormatan, kesetiaan, dan keseimbangan antara manusia, negara, dan alam semesta.

Baca Juga  Pasca Pelantikan, Baharuddin Siagian dan Syafrizal Dihujani Ucapan Selamat 

 “Pasukan Bhayangkara dulu adalah pelindung tatanan dan kedaulatan. Mereka bukan tentara bayaran, tetapi penjaga nilai-nilai spiritual dan hukum alam,” ujarnya.

Majapahit dan Warisan 1/3 Dunia

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa berdasarkan naskah-naskah kuno dan kajian sejarah alternatif, Majapahit pernah menguasai wilayah luas yang membentang dari Semenanjung Melayu, Kepulauan Indonesia, Filipina, hingga sebagian utara Australia. Pengaruh geopolitiknya di masa itu bahkan disebut sebagai penguasa “1/3 bumi” di kawasan Asia Tenggara.

Salah satu tonggak besar yang dilupakan, kata Agus, adalah keberhasilan Bhayangkara Majapahit menahan invasi Kekaisaran Mongol, adidaya dunia abad ke-13, yang justru dikalahkan oleh strategi cerdas dan kekuatan pasukan Bhayangkara.

Ini fakta sejarah yang kerap ditutupi atau sengaja dilupakan. Generasi muda harus tahu bahwa kekuatan bangsa ini bukan fiksi. Ia pernah nyata dan menggetarkan dunia,” tegasnya lagi.

Mengembalikan Polri pada Nilai Bhayangkara Sejati

Baca Juga  Jangan Takut Bersinar Meskipun Kesuksesan Akan Selalu Diuji, Teruslah Jangan Pernah Berhenti Melangkah

Agus Flores mengajak Polri untuk kembali menyelami nilai-nilai luhur Bhayangkara dalam sejarah Majapahit. Ia menilai bahwa menghidupkan semangat Bhayangkara sejati akan memperkuat jati diri Polri sebagai penjaga rakyat dan negara, bukan sekadar alat kekuasaan.

 “Kalau Polri ingin menjadi institusi yang abadi dan dihormati, kembalilah ke akar Bhayangkara. Bukan hanya kuat secara hukum, tapi juga harus punya legitimasi moral dan spiritual,” kata Agus.

Penutup: Sejarah Tak Boleh Disembunyikan

Di akhir pernyataannya, Agus Flores menekankan pentingnya menghidupkan kembali sejarah dan nilai-nilai Bhayangkara di tengah tantangan modern. Menurutnya, jika sejarah ini terus disembunyikan, maka jati diri bangsa akan mudah dirusak oleh narasi asing.

Baca Juga  Ketum PW FRN Agus Flores Murka Desain Logo Organisasi Di Robah

 “Polri harus memimpin kebangkitan identitas bangsa, bukan kehilangan arah di tengah arus globalisasi. Kembalikan ruh Bhayangkara sebagai penjaga Nusantara,” pungkas Agus Flores.

Penulis : AF

Berita Terkait

Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya
Gereja Tanpa Struktur Jelas? Jangan Heran Pelayanannya Kacau
Iman Jalan Pribadi, Bukan Titipan pada Tokoh Rohani
“Air Mata di Bawah Langit Fakfak: Saat Roh Kudus Menyentuh Hati yang Terluka”
Teduhnya Penantian di Bawah Langit Malam
Di Bawah Langit Kasuari: Perjalanan Sunyi Seorang Anak Papua
Bikin Kaget Gorontalo, Istri Ketum FRN Mendadak Jadi Kepsek
Jangan Salah Menilai: Pengenalan Dunia Jurnalis yang Sering Disalahpahami

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:52 WIB

Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya

Minggu, 31 Mei 2026 - 14:34 WIB

Gereja Tanpa Struktur Jelas? Jangan Heran Pelayanannya Kacau

Sabtu, 23 Mei 2026 - 17:32 WIB

Iman Jalan Pribadi, Bukan Titipan pada Tokoh Rohani

Senin, 18 Mei 2026 - 14:10 WIB

“Air Mata di Bawah Langit Fakfak: Saat Roh Kudus Menyentuh Hati yang Terluka”

Sabtu, 16 Mei 2026 - 10:17 WIB

Teduhnya Penantian di Bawah Langit Malam

Berita Terbaru

Opini

Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya

Kamis, 4 Jun 2026 - 19:52 WIB

You cannot copy content of this page