
OPINI — Negeri ini sedang batuk. Asap mengepul dari hutan, udara yang semestinya menjadi ruang kehidupan berubah menjadi sesuatu yang harus dihindari. Orang-orang berjalan bermasker dan tetap beraktivitas seolah semuanya baik-baik saja. Padahal ketika asap menipis, persoalan tidak selesai. Di balik asap itu ada pohon-pohon yang hangus, tanah yang kehilangan pelindung, dan kehidupan yang terusir dari rumahnya.
Anak-anak menjadi korban yang paling rentan. Mereka pulang sekolah melewati udara tercemar dengan paru-paru yang masih tumbuh. Mereka tidak pernah meminta asap dan tidak pernah memilih tinggal di tengah kebakaran, namun merekalah yang harus menghirup udara kotor itu. Asap tidak mengenal usia, ia tidak membedakan anak-anak, orang tua, atau petani di jalurnya.
Hutan juga bukan hanya rumah bagi manusia. Di dalamnya hidup burung, ular, rusa, babi hutan, dan berbagai makhluk lain yang menjaga keseimbangan alam. Ketika api datang, mereka berlari menyelamatkan diri, namun rumah mereka sedang terbakar. Sebagian mati terpanggang, sebagian kehilangan habitat dan terpaksa masuk ke permukiman warga. Di situ kita patut bertanya, siapa sebenarnya yang kehilangan rumah?
Manusia sering menyebut hutan sekadar sebagai sumber daya yang kayunya dihitung dan lahannya diukur. Padahal hutan adalah kehidupan. Pohon menyimpan air, akar menahan tanah, daun menjaga udara. Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan, tetapi rumah kehidupan itu sendiri.
Karena itu, ketika asap hilang dari langit, jangan buru-buru menganggap persoalan selesai. Negeri ini mungkin diam, tetapi alam sedang berbicara lewat udara kotor, sungai tercemar, dan anak-anak yang harus memakai masker. Jangan menunggu hutan habis untuk menyadari kita membutuhkannya. Hutan tidak butuh suara kita untuk menangis, tapi kita butuh keberanian untuk mendengarkan tangisannya, sebab ketika hutan kehilangan suara, manusia yang sebenarnya kehilangan masa depan.
Penulis : Amartus Rahakbauw K





