Hutan Menangis, Negeri Terdiam

- Penulis

Senin, 28 September 2026 - 16:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Ilustrasi Hutan Terbakar

OPINI — Negeri ini sedang batuk. Asap mengepul dari hutan, udara yang semestinya menjadi ruang kehidupan berubah menjadi sesuatu yang harus dihindari. Orang-orang berjalan bermasker dan tetap beraktivitas seolah semuanya baik-baik saja. Padahal ketika asap menipis, persoalan tidak selesai. Di balik asap itu ada pohon-pohon yang hangus, tanah yang kehilangan pelindung, dan kehidupan yang terusir dari rumahnya.

Anak-anak menjadi korban yang paling rentan. Mereka pulang sekolah melewati udara tercemar dengan paru-paru yang masih tumbuh. Mereka tidak pernah meminta asap dan tidak pernah memilih tinggal di tengah kebakaran, namun merekalah yang harus menghirup udara kotor itu. Asap tidak mengenal usia, ia tidak membedakan anak-anak, orang tua, atau petani di jalurnya.

Baca Juga  Cinta, Kepercayaan, dan Kebebasan di Dunia Maya

Hutan juga bukan hanya rumah bagi manusia. Di dalamnya hidup burung, ular, rusa, babi hutan, dan berbagai makhluk lain yang menjaga keseimbangan alam. Ketika api datang, mereka berlari menyelamatkan diri, namun rumah mereka sedang terbakar. Sebagian mati terpanggang, sebagian kehilangan habitat dan terpaksa masuk ke permukiman warga. Di situ kita patut bertanya, siapa sebenarnya yang kehilangan rumah?

Manusia sering menyebut hutan sekadar sebagai sumber daya yang kayunya dihitung dan lahannya diukur. Padahal hutan adalah kehidupan. Pohon menyimpan air, akar menahan tanah, daun menjaga udara. Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan, tetapi rumah kehidupan itu sendiri.

Karena itu, ketika asap hilang dari langit, jangan buru-buru menganggap persoalan selesai. Negeri ini mungkin diam, tetapi alam sedang berbicara lewat udara kotor, sungai tercemar, dan anak-anak yang harus memakai masker. Jangan menunggu hutan habis untuk menyadari kita membutuhkannya. Hutan tidak butuh suara kita untuk menangis, tapi kita butuh keberanian untuk mendengarkan tangisannya, sebab ketika hutan kehilangan suara, manusia yang sebenarnya kehilangan masa depan.

Baca Juga  Halmahera Selatan Terancam Pandemi Minamata

Penulis : Amartus Rahakbauw K

Berita Terkait

Ketika Alam Mulai Menagih
Sepuluh Program Prioritas Baharuddin-Syafrizal, Delapan Berjalan Maksimal, Dua Terkendala Anggaran
Jangan Rusak Hutan, Laut dan Tanah Kami
Hari Tanjak Sedunia 2026, Dari Istana Niat Lima Laras, Batu Bara Teguhkan Semangat “Bertanjak” untuk Kemajuan, Budaya dan Kesejahteraan
Jaga Marwah dan Identitas Kabupaten Batu Bara Serukan Pelestarian Budaya Melalui Peringatan Hari Bertanjak Sedunia 2026
MBG Tanjung Tiram dipertanyakan: 67 Instansi, baru 23 Terlayani 44 Masih Menunggu
Prabowo Terapkan “Politik Othello”: Rangkul Lawan Jadi Sekutu
Jurnalis Diminta Utamakan Integritas dan Solidaritas, Bukan Saling Menjatuhkan

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 16:35 WIB

Hutan Menangis, Negeri Terdiam

Jumat, 25 September 2026 - 11:33 WIB

Ketika Alam Mulai Menagih

Rabu, 23 September 2026 - 09:42 WIB

Sepuluh Program Prioritas Baharuddin-Syafrizal, Delapan Berjalan Maksimal, Dua Terkendala Anggaran

Sabtu, 19 September 2026 - 10:11 WIB

Jangan Rusak Hutan, Laut dan Tanah Kami

Rabu, 16 September 2026 - 14:00 WIB

Hari Tanjak Sedunia 2026, Dari Istana Niat Lima Laras, Batu Bara Teguhkan Semangat “Bertanjak” untuk Kemajuan, Budaya dan Kesejahteraan

Berita Terbaru

Opini

Hutan Menangis, Negeri Terdiam

Senin, 28 Sep 2026 - 16:35 WIB

You cannot copy content of this page