
OPINI — Ada masa ketika manusia mulai bertanya lirih pada dirinya sendiri: mengapa air semakin sulit didapat, hutan mudah terbakar, tanah kehilangan kesuburan, dan panen tak lagi memberi harapan? Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya tidak pernah sederhana.
Di satu sisi, perubahan iklim memang nyata. Kemarau yang memanjang mengeringkan sumber air, hujan yang tak menentu mengacaukan pola tanam, dan lahan yang kering membuat api lebih cepat melahap hutan.
Namun ada pertanyaan lain yang lebih jujur dan lebih berat untuk dijawab: sejauh mana manusia ikut menciptakan persoalan itu? Kita terbiasa berkata alam sedang marah saat bencana datang, musim tidak bersahabat saat air sulit, dan prihatin saat hutan terbakar. Tapi jarang kita berhenti sejenak untuk bercermin, apa yang telah kita lakukan terhadap alam itu sendiri.
Hutan ditebang tanpa memikirkan keberlanjutan, sungai dicemari sampah dan limbah, lahan dibuka tanpa perencanaan matang, dan air dipakai secara berlebihan. Lingkungan yang seharusnya menjadi ruang hidup bersama, perlahan hanya diperlakukan sebagai sumber keuntungan. Padahal alam tidak pernah melarang manusia memanfaatkan bumi.
Manusia butuh tanah untuk bertani, air untuk hidup, dan hutan untuk menopang kehidupan. Persoalannya bukan pada pemanfaatannya, melainkan pada cara kita menggunakannya.
Pembangunan yang mengabaikan keseimbangan pada akhirnya berbalik menjadi bumerang. Ketika hutan kehilangan pohonnya, daerah resapan air berkurang, dan sungai dipenuhi sampah, manusia juga yang menanggung akibatnya.
Air menjadi langka, petani dihadapkan pada ketidakpastian, hasil panen menurun, dan kebakaran hutan berulang. Karena itu sudah waktunya kita mengubah pertanyaan, bukan lagi “Mengapa alam marah?” tetapi “Apa yang telah manusia lakukan terhadap alam?”
Di sini tanggung jawab tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Pemerintah memang wajib menjaga lingkungan lewat kebijakan dan pengawasan. Namun masyarakat juga memiliki peran yang sama besarnya.
Menjaga sungai dari sampah, tidak membakar hutan sembarangan, menanam kembali pohon, menghemat air, dan menggunakan sumber daya secara bijaksana adalah hal-hal kecil yang sering menjadi awal dari perubahan besar.
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, dan bukan untuk mengatakan semua bencana adalah salah manusia. Ini adalah ajakan untuk melihat persoalan secara lebih luas. Air yang mengalir hari ini, hutan yang berdiri sekarang, dan tanah yang kita olah bukan hanya milik generasi kita, melainkan titipan untuk anak cucu. Menjaga alam tidak boleh berhenti sebagai slogan, ia harus menjadi kesadaran.
Mungkin alam tidak sedang marah, ia hanya sedang menunjukkan akibat dari terlalu lama diperlakukan tanpa keseimbangan, dan manusia perlu belajar mendengar sebelum semuanya terlambat.
Penulis : Amartus Rahakbauw K







