BATU BARA — Aksi tawuran antar kelompok pemuda di Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara kembali pecah di malam lebaran Idulfitri 1447 Hijriah. Ironisnya, bentrokan tersebut berlangsung di tengah kumandang takbir yang seharusnya menghadirkan suasana damai.
Warga di Jalan Beringin, Desa Bogak, mengaku resah dengan kondisi tersebut. Mereka menyebutkan, aksi tawuran kerap terjadi sejak pukul 23.00 WIB hingga sekitar pukul 05.00 WIB bulan Ramdhan.
“Setiap malam terjadi, mulai tengah malam sampai subuh. Kami tidak bisa istirahat dengan tenang,” ujar salah seorang warga yang meminta identitasnya tidak disebutkan, Sabtu (20/3/2026).
Menurut keterangan warga, para pelaku tawuran tidak hanya saling serang, tetapi juga membawa benda berbahaya seperti botol kaca, batu, hingga benda tumpul. Bahkan, botol kaca kerap dipecahkan di sepanjang jalan sehingga membahayakan pengguna jalan.
Warga juga menduga adanya penggunaan bahan yang menyerupai bom molotov dalam aksi tersebut, yang berpotensi memicu kebakaran dan membahayakan permukiman.
Akibat kejadian tersebut, sejumlah warga mengalami kerugian. Selain terganggunya waktu istirahat, beberapa pengendara dilaporkan menjadi korban. Seorang pengemudi ojek disebut mengalami luka di bagian kepala setelah terkena lemparan benda keras saat melintas.
“Sudah banyak korban. Ban kendaraan sering bocor karena pecahan kaca, bahkan ada yang terluka,” kata warga lainnya.
Masyarakat setempat menilai penanganan dari pihak keamanan belum maksimal. Hingga kini, mereka mengaku belum melihat tindakan tegas yang mampu menghentikan aksi tawuran yang terjadi hampir setiap malam selama Ramadan.
Kekecewaan tersebut mendorong warga untuk berencana melakukan aksi unjuk rasa ke Polres Batu Bara setelah Hari Raya Idulfitri. Mereka menuntut aparat kepolisian segera mengambil langkah konkret untuk mengamankan wilayah tersebut.
Selain itu, warga juga mengaku telah menyampaikan keluhan kepada pemerintah desa setempat. Namun, mereka merasa belum mendapatkan solusi yang memuaskan.
Sejumlah warga menduga para pelaku berasal dari beberapa dusun dari desa sekitar, meskipun hal tersebut belum dapat dipastikan secara resmi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait langkah penanganan yang telah atau akan dilakukan.
(red)























