Syawal: Ketika Hati Pulang ke Cahaya

- Penulis

Jumat, 20 Maret 2026 - 19:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Penulis Amatus.Rahakbauw K

Malam itu, langit seperti membuka tirai keheningan.Bulan bersinar lembut, tidak menyilaukan—hanya cukup untuk menerangi jalan-jalan sunyi dalam hati manusia. Angin berembus perlahan, membawa bisikan yang tak terdengar oleh telinga, namun terasa oleh jiwa yang lelah mencari makna.

Ramadhan telah berlalu.Ia datang tanpa banyak janji, namun pergi dengan meninggalkan jejak yang dalam—pada air mata yang jatuh diam-diam, pada doa-doa yang dipanjatkan di antara gelap dan harap, pada hati yang sempat retak lalu perlahan disatukan kembali.

Ramadhan tidak sekadar mengajarkan lapar dan dahaga.Ia mengajarkan bahwa manusia sering kali kehilangan dirinya sendiri—di tengah ambisi, luka, dan keinginan untuk selalu merasa benar.
Dan kini, Syawal tiba.

Baca Juga  Bikin Kaget Gorontalo, Istri Ketum FRN Mendadak Jadi Kepsek

Ia hadir bukan dengan gemuruh kemenangan, tetapi dengan keheningan yang mengajak kita bertanya:
Sudahkah kita kembali menjadi manusia?
Bukan sekadar manusia yang mampu berbicara,tetapi manusia yang mampu merasakan.

Bukan sekadar yang meminta maaf dengan kata,tetapi yang benar-benar memaafkan dengan hati.

Di malam yang penuh takbir ini, gema suara bukan hanya naik ke langit—tetapi turun ke dalam diri. Menyentuh bagian terdalam yang sering kita abaikan: ego, amarah, dan luka yang kita pelihara diam-diam.

Betapa sering kita meminta ampun kepada Tuhan,namun enggan membuka pintu maaf bagi sesama.

Padahal, barangkali jalan menuju-Nya
justru terbentang melalui keikhlasan kita
dalam memeluk kembali mereka yang pernah kita jauhi.

Baca Juga  Ketua Perisai Limapuluh Pesisir Nilai Polres Batu Bara Pantas Diapresiasi

Syawal adalah cermin.Ia tidak menunjukkan wajah kita di luar,tetapi memperlihatkan siapa kita sebenarnya di dalam.
Apakah kita telah menjadi cahaya bagi orang lain?Ataukah justru masih menjadi bayang-bayang yang menambah gelap dalam kehidupan sesama? Malam semakin larut.

Bintang-bintang seolah berbisik: bahwa hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan dalam kebencian. Terlalu fana untuk dipenuhi kesombongan.

Dan di bawah langit yang luas ini,
kita semua hanyalah jiwa-jiwa yang sedang belajar—belajar memahami, belajar memaafkan,dan belajar pulang.

Pulang bukan hanya ke rumah,
tetapi ke hati yang bersih.
Pulang bukan hanya kepada keluarga,
tetapi kepada kemanusiaan yang utuh.
Selamat Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah.

Jika ada kata yang pernah melukai,
jika ada sikap yang pernah menyakiti,
biarlah malam ini menjadi awal yang baru.

Baca Juga  Seruan Para Raja dan Ratu bersama Wali Spiritual Nusantara Mendesak MPR/DPR/DPD RI Melaksanakan Sidang Istimewa

Karena sejatinya,kemenangan bukanlah ketika kita berdiri di atas orang lain,
melainkan ketika kita mampu merangkul mereka dengan hati yang penuh kasih.

Penulis : Amatus Rahakbauw, K

Berita Terkait

Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya
Gereja Tanpa Struktur Jelas? Jangan Heran Pelayanannya Kacau
Iman Jalan Pribadi, Bukan Titipan pada Tokoh Rohani
“Air Mata di Bawah Langit Fakfak: Saat Roh Kudus Menyentuh Hati yang Terluka”
Teduhnya Penantian di Bawah Langit Malam
Di Bawah Langit Kasuari: Perjalanan Sunyi Seorang Anak Papua
Bikin Kaget Gorontalo, Istri Ketum FRN Mendadak Jadi Kepsek
Jangan Salah Menilai: Pengenalan Dunia Jurnalis yang Sering Disalahpahami

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:52 WIB

Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya

Minggu, 31 Mei 2026 - 14:34 WIB

Gereja Tanpa Struktur Jelas? Jangan Heran Pelayanannya Kacau

Sabtu, 23 Mei 2026 - 17:32 WIB

Iman Jalan Pribadi, Bukan Titipan pada Tokoh Rohani

Senin, 18 Mei 2026 - 14:10 WIB

“Air Mata di Bawah Langit Fakfak: Saat Roh Kudus Menyentuh Hati yang Terluka”

Sabtu, 16 Mei 2026 - 10:17 WIB

Teduhnya Penantian di Bawah Langit Malam

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page