Pembangunan yang Melupakan Akar

- Penulis

Rabu, 14 Januari 2026 - 13:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Cerita :

Penulis Amatus.Rahakbauw. K

Desa bukan halaman belakang republik.
Ia adalah beranda pertama tempat negeri ini belajar berjalan, belajar makan dari tanahnya sendiri, dan belajar hidup dari keringat rakyatnya.

Namun hari ini, desa lebih sering diperlakukan sebagai angka dalam laporan, bukan sebagai denyut nadi pembangunan. Ia disebut dalam pidato, tetapi ditinggalkan dalam keputusan.

Dielus dalam kata-kata, namun dilupakan dalam keberpihakan.
Padahal, jika negeri ini mau jujur bercermin, desa adalah lumbung yang selama ini memberi tanpa pernah dihitung secara adil.
Di desa, tangan-tangan kasar menanam padi yang tak pernah mencicipi harga beras.

Di desa, nelayan menantang ombak, sementara keuntungan berlabuh di meja-meja berpendingin udara.
Di desa, anak-anak tumbuh dengan tanah subur di bawah kaki, tetapi miskin kesempatan di atas kepalanya.

Baca Juga  BP3OKP Papua Barat Diresmikan, Dorong Sinergi Pembangunan di Tanah Papua

Ironisnya, pembangunan sering datang seperti tamu angkuh: singgah sebentar, berfoto, lalu pergi membawa cerita keberhasilan yang tak pernah benar-benar tinggal. Yang tertinggal hanyalah baliho lusuh, bangunan setengah jadi, dan janji yang tak lagi diingat.

Kita terlalu lama membangun ekonomi dari atas, lupa bahwa fondasi rumah selalu berada di bawah. Kita sibuk mempercantik kota, sementara desa dibiarkan menjadi penonton di negeri sendiri—menyaksikan hasil keringatnya berpindah tangan tanpa sempat ia nikmati.

Lebih menyedihkan lagi, ketika desa dijadikan ladang proyek, bukan ladang kehidupan. Dana mengalir, tetapi harapan justru mengering. Program datang silih berganti, namun keberdayaan tak pernah benar-benar tumbuh.Di sinilah keserakahan bekerja dengan wajah yang rapi.

Baca Juga  Kalau Bisa Buat Policelines Terpanjang Di Indonesia Untuk Tutup Tambang Ilegal Di Kalimantan

Ia tidak berteriak, tidak memukul meja.
Ia tersenyum di balik regulasi, bersembunyi di balik tanda tangan, dan pulang dengan kantong penuh tanpa pernah menoleh ke belakang—ke sawah yang retak, ke pasar desa yang sepi, ke pemuda yang memilih pergi karena kampung tak lagi menjanjikan masa depan.

Padahal, desa tidak meminta dikasihani.
Desa hanya ingin dipercaya.
Dipercaya mengelola tanahnya sendiri.
Dipercaya mengolah hasilnya sendiri.
Dipercaya menjadi subjek ekonomi, bukan objek belas kasihan.

Desa harus menjadi kekuatan ekonomi, bukan karena slogan, melainkan karena keberanian negara mengubah cara pandang. Keberanian untuk menghentikan pembangunan yang hanya memperkaya segelintir orang, dan memulai pembangunan yang memampukan banyak orang.

Baca Juga  Berhitung dengan Waktu dan Kemanusiaan Hari ini kita berhitung dengan waktu

Jika para pemimpin masih memiliki kepekaan, dengarkanlah suara sunyi desa. Ia tidak bising seperti kota, tetapi luka-lukanya dalam.

Ia tidak pandai berorasi, tetapi kesetiaannya menjaga negeri tak pernah pudar.Sebab sejarah selalu mencatat satu hal:
Negeri yang menguatkan desanya akan berdiri tegak.

Namun negeri yang menghisap desanya, perlahan menggali liang bagi masa depannya sendiri.

Mungkin sudah waktunya kita bertanya dengan jujur—bukan kepada rakyat, tetapi kepada diri sendiri:

Apakah kita sedang membangun desa,
atau sedang membangun kekayaan di atas kelelahan desa?

Berita Terkait

Buang Keangkuhan, Rawat Kerendahan Hati: Wartawan Bukan untuk Menjatuhkan Sesama
Agus Flores Curhat di Besuki: Mengenang Sang Ayah, Dari Sejarah Keluarga Hingga Perjalanan Polri
Pelayanan Bukan Soal Jabatan, Tapi Tanggung Jawab Hamba Tuhan
Hutan Menangis, Negeri Terdiam
Ketika Alam Mulai Menagih
Sepuluh Program Prioritas Baharuddin-Syafrizal, Delapan Berjalan Maksimal, Dua Terkendala Anggaran
Jangan Rusak Hutan, Laut dan Tanah Kami
Hari Tanjak Sedunia 2026, Dari Istana Niat Lima Laras, Batu Bara Teguhkan Semangat “Bertanjak” untuk Kemajuan, Budaya dan Kesejahteraan

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 23:59 WIB

Buang Keangkuhan, Rawat Kerendahan Hati: Wartawan Bukan untuk Menjatuhkan Sesama

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:25 WIB

Agus Flores Curhat di Besuki: Mengenang Sang Ayah, Dari Sejarah Keluarga Hingga Perjalanan Polri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:25 WIB

Pelayanan Bukan Soal Jabatan, Tapi Tanggung Jawab Hamba Tuhan

Senin, 28 September 2026 - 16:35 WIB

Hutan Menangis, Negeri Terdiam

Jumat, 25 September 2026 - 11:33 WIB

Ketika Alam Mulai Menagih

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page