Malam itu gereja tampak megah dari luar, tetapi sunyi di dalamnya. Lampu-lampu menyala terang, namun hati banyak pemuda di dalamnya justru redup. Mereka duduk berdekatan, tetapi jiwa mereka saling berjauhan.
Senyum dipamerkan, kata-kata rohani dilafalkan, namun di baliknya tersimpan iri, gengsi, dan keangkuhan yang diam-diam saling melukai.
Pelayanan yang seharusnya menjadi altar pengorbanan berubah menjadi panggung pembuktian. Siapa yang paling menonjol, siapa yang paling didengar, siapa yang paling dianggap rohani.
Mereka lupa—Tuhan tidak pernah mencari yang paling tinggi suaranya, melainkan yang paling rendah hatinya.Di sudut bangku gereja, seorang pemuda duduk tertunduk. Ia pernah bersemangat, pernah menangis saat pertama kali melayani, pernah berjanji setia pada Tuhan.
Namun perlahan, kata-kata tajam sesama pelayan mematahkan sayapnya. Ia tidak jatuh karena dosa besar, tetapi karena sesama saudara yang tak lagi saling menopang.Ia berjalan pulang malam itu, menyusuri jalan panjang yang basah oleh hujan dan air mata.
Langkahnya berat, doanya singkat, imannya nyaris padam. “Tuhan, jika pelayanan adalah tempat saling menghancurkan, untuk apa aku bertahan?” bisiknya lirih.
Di ujung jalan yang gelap, ia berhenti. Bukan karena tidak bisa melangkah, tetapi karena lelah berjuang sendiri.
Saat itulah ia teringat satu hal: Tuhan tidak pernah meninggalkan. Manusia boleh menjatuhkan, gereja bisa melukai, tetapi kasih Tuhan tetap setia menunggu.
Dalam keheningan itu, ia berlutut. Tidak ada musik, tidak ada sorak pujian, hanya hati yang remuk dan doa yang jujur.
Dan di sanalah, perlahan, ia melihatnya—cahaya kecil di ujung jalan. Bukan cahaya manusia, melainkan terang kasih Tuhan yang memanggilnya untuk bangkit, bukan untuk membalas, tetapi untuk mengampuni.
Cahaya itu juga seharusnya dilihat oleh setiap pemuda dan pemudi gereja yang sibuk menjatuhkan sesamanya. Kepemudaan gereja bukan arena persaingan, melainkan sekolah kasih. Bukan tempat meninggikan diri, melainkan ruang untuk belajar rendah hati.
Gereja tidak membutuhkan pemuda yang hebat di mata manusia, tetapi pemuda yang mau dibentuk, ditegur, dan dipakai Tuhan.
Jika hari ini engkau merasa paling benar, berhati-hatilah—mungkin hatimu sedang menjauh dari terang. Jika engkau merasa paling rohani, periksalah kembali—apakah engkau masih bisa mengasihi yang lemah?
Sebab di ujung setiap jalan yang gelap, Tuhan selalu menyediakan cahaya.
Tetapi hanya mereka yang merendahkan hati yang mampu melihatnya.
Dan kepemudaan gereja akan kembali hidup, bukan ketika semua ingin bersinar sendiri, melainkan ketika bersama-sama menjadi pantulan terang Kristus.
Penulis : Amatus Rahakbauw





















