Negeri ini tidak kekurangan pidato,
tetapi sering kekurangan telinga yang mau mendengar.
Di pasar-pasar kecil, di lorong kampung, di gubuk-gubuk beratap seng,
suara rakyat hanya berdesah—
pelan, lelah, dan kerap dianggap angin lalu.
Padahal di sanalah negeri ini berdiri.
Rakyat kecil tidak meminta banyak.
Mereka tidak menuntut janji yang tinggi,
tidak mengharap kata-kata yang berkilau.
Mereka hanya ingin hidup yang layak,
harga yang adil,dan pemimpin yang tidak lupa dari mana ia berasal.
Selalu berpihaklah kepada rakyatmu,
bukan karena mereka lemah,
tetapi karena merekalah yang paling setia menanggung beban negeri.
Mereka bangun paling pagi,tidur paling malam,dan tetap bersyukur meski keadilan sering singgah sebentar saja.
Ada ibu yang menghitung beras dengan cermat agar cukup sampai esok.
Ada bapak yang menunduk bukan karena kalah,melainkan karena hidup mengajarkannya sabar.
Ada anak-anak yang belajar bermimpi di tengah keterbatasan,menyimpan harapan di balik seragam yang mulai usang.
Merekalah wajah asli bangsa ini.
Kekuasaan sering membuat manusia lupa arah.Lupa bahwa jabatan adalah amanah,
bukan singgasana.Lupa bahwa kebijakan yang baikharus bisa dimengerti oleh orang yang paling sederhana.
Pemimpin yang besar
bukan yang paling sering dipuji,
melainkan yang berani membela yang paling lemah,meski harus melawan arus,
meski harus kehilangan tepuk tangan.
Sebab keberpihakan sejati
tidak lahir dari kepentingan,
tetapi dari nurani.
Jika hukum hanya tajam ke bawah,
rakyat kecil akan terus menunduk dalam diam.Jika kebijakan hanya menguntungkan yang kuat,maka keadilan hanyalah hiasan kata.
Namun bila pemimpin mau turun,
mau mendengar tanpa menghakimi,
mau memperbaiki tanpa menyalahkan,
di situlah harapan menemukan rumahnya.
Kritik ini bukan untuk meruntuhkan,
melainkan untuk membangun.
Bukan untuk melawan negara,
tetapi untuk mengingatkan negara
agar tidak meninggalkan anak-anaknya sendiri.Rakyat kecil tidak anti perubahan.
Mereka hanya takut dilupakan.
Mereka tidak menolak pembangunan,
mereka hanya ingin ikut merasakan hasilnya.
Berpihaklah selalu kepada rakyatmu,
karena ketika yang paling lemah dilindungi,
negeri ini menjadi kuat.
Ketika yang kecil dihargai,
keadilan tidak lagi sekadar slogan.
Dan kelak,sejarah tidak akan bertanya
berapa lama engkau berkuasa,
melainkan:
“Di saat rakyat paling membutuhkan,
di pihak manakah engkau berdiri?”
Penulis : Amatus Rahakbauw





















