Akhir tahun 2025 datang tanpa pesta.
Di Aceh, langit menghitam sejak pagi—bukan abu tahun baru, melainkan awan tebal yang seolah menahan tangis.
Di Sumatera, angin tak lagi membawa aroma hujan yang menenangkan, tetapi bau tanah basah yang asing…
seperti pesan duka yang terlambat diterjemahkan manusia.
Menjelang malam tahun baru, ketika dunia lain sibuk menghitung detik menuju pergantian waktu, Aceh dan Sumatera justru sibuk menghitung kehilangan.
Hutan-hutan di Sumatera berdiri bagai panti jompo raksasa yang ditinggalkan.
Pohon-pohon tua rebah satu per satu—bukan karena usia,
tetapi karena ditebang tanpa pamit, tanpa penyesalan.
Sungai kehilangan penyangga.
Tanah kehilangan genggamannya.
Dan manusia…
kehilangan kepeduliannya.
Ketika akar-akar tercerabut, bencana pun menemukan jalannya.
Pada sore itu, air sungai meluap seperti binatang buas yang terbangun dari tidur panjang.
Bukan hanya hujan yang jatuh, tetapi seluruh amarah alam.
Banjir bandang itu melesat melewati rumah-rumah kayu,
menyeret perabot,
menumbangkan batang kelapa,
merenggut apa pun yang tidak mampu melawan arus.
Jeritan, doa, dan air mata bercampur dalam gelap yang tiba-tiba.
Jauh di sebuah kampung kecil, seorang nenek bernama Wenda berlari terseok membawa cucunya, Nara, yang baru berusia tujuh tahun.
“Nenek… airnya sampai sini…” suara Nara bergetar, bibirnya pucat.
“Tahan, cucu… Kita belum boleh menyerah,”
bisik Wenda sambil memeluknya,
walau air telah mencapai pinggang dan tubuhnya menggigil.
Dia tidak tahu apakah mereka akan selamat,
tetapi ia tahu bahwa menyerah bukan pilihan.
Di seberang negeri, ratusan kilometer dari tempat di mana Wenda berjuang, berdirilah gedung-gedung berpendingin udara dengan dinding mengkilap.
Di dalamnya, para pemimpin berdiri di mimbar, berpakaian rapi,
kamera menyala,
mikrofon dipoles,
dan senyuman disiapkan sebelum kata pertama diucapkan.
“Pemerintah telah mengambil langkah-langkah strategis…”
ucap seorang pejabat,
dengan intonasi teratur seperti barisan tentara.
Namun langkah itu belum sampai kepada desa-desa yang tenggelam.
Rakyat menunggu.
Tapi yang datang baru suara—bukan tangan.
Ketika banjir mulai surut, para pemimpin akhirnya datang berkunjung.
Kamera mengikuti kemana pun mereka melangkah.
Tangan-tangan terulur, bukan untuk mengangkat beban rakyat,
tetapi untuk merebut sudut foto terbaik.
Mereka berbicara panjang—panjang sekali
tetapi kata-kata mereka tidak mengeringkan air mata siapa pun.
Di balik kerumunan itu, Reno, seorang petani muda, berdiri menatap sawahnya yang hilang.
Ladang yang ia rawat dengan keringat berubah menjadi kubangan lumpur.
Ia mendengar salah satu pejabat berucap,
“Kita semua prihatin.”
Reno tersenyum getir.
Andai keprihatinan bisa menjadi pagar hutan,
banjir tidak akan datang.
Malam itu, di pos pengungsian yang dingin, Wenda mengusap rambut Nara yang tertidur di pangkuannya.
Di sekeliling mereka, suara orang menangis, batuk anak-anak, dan desahan orang yang kehilangan rumah bercampur dalam gelap.
“Dulu hutan di belakang desa masih tebal,”
gumam Wenda kepada Reno yang duduk di sampingnya.
“Sungai tidak pernah segalak ini. Sekarang… semuanya berubah.”
Reno mengangguk pelan.
“Siapa yang buat berubah, Nek?” tanyanya lirih.
Wenda menatap jauh, seolah memandang masa lalu yang tak bisa dipanggil kembali.
“Manusia, nak,” jawabnya akhirnya.
“Termasuk yang paling merasa tidak punya salah.”
Di luar tenda, hujan kembali turun.
Reno berdiri memandang langit.
“Apa semua ini bisa diperbaiki?” tanyanya pelan.
Wenda memejamkan mata, menahan perih yang menyesakkan.
“Kita tidak bisa menghapus apa yang telah terjadi,” katanya.
“Tapi kita bisa memulai dari hati—
dari mengakui kesalahan,
dari meletakkan angkuh,
dari berhenti merasa bahwa bencana bukan urusan kita.”
Reno menatap tanah becek di bawah kakinya.
Untuk pertama kalinya sejak banjir datang, ia merasa ada sesuatu yang tumbuh.
Bukan tanaman—bukan harapan kosong—
tetapi kesadaran.
Kesadaran bahwa bumi bukan warisan untuk dihabiskan,
melainkan titipan yang harus dijaga.
Dan setiap titipan…
menunggu tangan manusia untuk dipeluk,
bukan untuk dilukai.
Penulis : Amatus Rahakbauw




















