Riuh, Sunyi, dan Kejujuran yang Hilang

- Penulis

Kamis, 19 Februari 2026 - 19:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Cerita :

Penulis Amatus.Rahakbauw. K

 

Di dunia yang semakin ramai, manusia berlomba untuk terdengar. Kata-kata dipoles, suara dikeraskan, panggung dicari. Seolah-olah keberadaan seseorang diukur dari seberapa nyaring ia berbicara.
Namun waktu mengajarkan kita satu hal sederhana: suara bukanlah ukuran kedalaman.

Kita mengenal pepatah lama, tong kosong nyaring bunyinya. Ia mengingatkan bahwa orang yang terlalu banyak bicara belum tentu memiliki isi. Tetapi hidup tidak berhenti di sana. Sebab selain riuh yang kosong, ada pula sunyi yang menipu.

Ada orang yang gemar berbicara, penuh retorika dan keyakinan. Ia tampak percaya diri, tetapi ketika diminta solusi, ia goyah. Kata-katanya indah, namun tidak berakar. Ia seperti daun yang berisik tertiup angin—ramai, tetapi mudah terbang.

Baca Juga  Cerita Media: Menyuarakan Kebenaran dengan Informasi yang Tepat dan Akurat

Namun ada pula yang memilih diam.
Sekilas, diam terlihat bijaksana. Ia duduk tenang, wajahnya teduh, jarang memotong pembicaraan. Banyak orang menganggapnya dalam, penuh pertimbangan, matang dalam pikiran.
Padahal tidak semua diam lahir dari kebijaksanaan.

Ada diam yang lahir dari kedalaman. Diam orang yang sedang menimbang, memahami, dan memilih waktu yang tepat untuk berbicara. Diam seperti ini ibarat akar pohon—tidak terlihat, tetapi menguatkan.
Tetapi ada pula diam yang lahir dari ketakutan.

Takut salah. Takut dinilai bodoh. Takut kehilangan wibawa. Maka ia memilih bersembunyi di balik kesunyian, berharap orang lain menyangka ia sedang berpikir dalam.

Di sinilah perbedaan itu menjadi jelas.
Riuh tanpa isi adalah kekosongan yang terdengar.Sunyi tanpa pemahaman adalah kekosongan yang tersembunyi.

Baca Juga  Seorang Ayah Sampaikan Doa Menyentuh di Hari Ulang Tahun Putranya, Agus Flores

Keduanya sama-sama tidak membangun.
Masyarakat, organisasi, bahkan keluarga tidak membutuhkan lebih banyak suara kosong. Mereka juga tidak membutuhkan lebih banyak diam yang pura-pura dalam. Yang dibutuhkan adalah kejujuran.

Kejujuran untuk berkata, “Saya belum tahu.”
Kejujuran untuk bertanya.
Kejujuran untuk belajar.

Ironisnya, banyak orang lebih takut terlihat tidak tahu daripada benar-benar tidak tahu. Padahal ketidaktahuan yang diakui adalah awal dari pengetahuan. Sedangkan ketidaktahuan yang disembunyikan adalah awal dari kemunduran.

Dalam kehidupan rohani pun demikian. Tuhan tidak menilai manusia dari seberapa panjang doanya atau seberapa tenang wajahnya. Ia melihat hati. Hati yang rendah. Hati yang mau dibentuk. Hati yang tidak pura-pura kuat.

Baca Juga  Jurnalis Diminta Utamakan Integritas dan Solidaritas, Bukan Saling Menjatuhkan

Karena kebijaksanaan sejati bukan terletak pada riuhnya kata-kata, dan bukan pula pada panjangnya diam. Ia terletak pada keberanian untuk jujur terhadap diri sendiri.
Lebih baik suara sederhana yang lahir dari hati yang tulus, daripada pidato panjang yang kehilangan arah.

Lebih baik diam yang disertai kerendahan hati, daripada sunyi yang dijadikan selimut gengsi.Pada akhirnya, manusia tidak diukur dari seberapa keras ia berbicara, atau seberapa lama ia terdiam. Ia diukur dari seberapa dalam ia bertumbuh.

Dan pertumbuhan selalu dimulai dari satu hal yang sederhana namun sulit:
mengakui bahwa kita masih belajar.
Di sanalah riuh menemukan maknanya.
Di sanalah sunyi menemukan akarnya.
Dan di sanalah manusia menjadi sungguh-sungguh berisi.

Penulis : Amatus Rahakbauw, K

Berita Terkait

Hutan Menangis, Negeri Terdiam
Ketika Alam Mulai Menagih
Sepuluh Program Prioritas Baharuddin-Syafrizal, Delapan Berjalan Maksimal, Dua Terkendala Anggaran
Jangan Rusak Hutan, Laut dan Tanah Kami
Hari Tanjak Sedunia 2026, Dari Istana Niat Lima Laras, Batu Bara Teguhkan Semangat “Bertanjak” untuk Kemajuan, Budaya dan Kesejahteraan
Jaga Marwah dan Identitas Kabupaten Batu Bara Serukan Pelestarian Budaya Melalui Peringatan Hari Bertanjak Sedunia 2026
MBG Tanjung Tiram dipertanyakan: 67 Instansi, baru 23 Terlayani 44 Masih Menunggu
Prabowo Terapkan “Politik Othello”: Rangkul Lawan Jadi Sekutu

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 16:35 WIB

Hutan Menangis, Negeri Terdiam

Jumat, 25 September 2026 - 11:33 WIB

Ketika Alam Mulai Menagih

Rabu, 23 September 2026 - 09:42 WIB

Sepuluh Program Prioritas Baharuddin-Syafrizal, Delapan Berjalan Maksimal, Dua Terkendala Anggaran

Sabtu, 19 September 2026 - 10:11 WIB

Jangan Rusak Hutan, Laut dan Tanah Kami

Rabu, 16 September 2026 - 14:00 WIB

Hari Tanjak Sedunia 2026, Dari Istana Niat Lima Laras, Batu Bara Teguhkan Semangat “Bertanjak” untuk Kemajuan, Budaya dan Kesejahteraan

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page