Cerita :
Penulis Amatus.Rahakbauw. K
Di dunia yang semakin ramai, manusia berlomba untuk terdengar. Kata-kata dipoles, suara dikeraskan, panggung dicari. Seolah-olah keberadaan seseorang diukur dari seberapa nyaring ia berbicara.
Namun waktu mengajarkan kita satu hal sederhana: suara bukanlah ukuran kedalaman.
Kita mengenal pepatah lama, tong kosong nyaring bunyinya. Ia mengingatkan bahwa orang yang terlalu banyak bicara belum tentu memiliki isi. Tetapi hidup tidak berhenti di sana. Sebab selain riuh yang kosong, ada pula sunyi yang menipu.
Ada orang yang gemar berbicara, penuh retorika dan keyakinan. Ia tampak percaya diri, tetapi ketika diminta solusi, ia goyah. Kata-katanya indah, namun tidak berakar. Ia seperti daun yang berisik tertiup angin—ramai, tetapi mudah terbang.
Namun ada pula yang memilih diam.
Sekilas, diam terlihat bijaksana. Ia duduk tenang, wajahnya teduh, jarang memotong pembicaraan. Banyak orang menganggapnya dalam, penuh pertimbangan, matang dalam pikiran.
Padahal tidak semua diam lahir dari kebijaksanaan.
Ada diam yang lahir dari kedalaman. Diam orang yang sedang menimbang, memahami, dan memilih waktu yang tepat untuk berbicara. Diam seperti ini ibarat akar pohon—tidak terlihat, tetapi menguatkan.
Tetapi ada pula diam yang lahir dari ketakutan.
Takut salah. Takut dinilai bodoh. Takut kehilangan wibawa. Maka ia memilih bersembunyi di balik kesunyian, berharap orang lain menyangka ia sedang berpikir dalam.
Di sinilah perbedaan itu menjadi jelas.
Riuh tanpa isi adalah kekosongan yang terdengar.Sunyi tanpa pemahaman adalah kekosongan yang tersembunyi.
Keduanya sama-sama tidak membangun.
Masyarakat, organisasi, bahkan keluarga tidak membutuhkan lebih banyak suara kosong. Mereka juga tidak membutuhkan lebih banyak diam yang pura-pura dalam. Yang dibutuhkan adalah kejujuran.
Kejujuran untuk berkata, “Saya belum tahu.”
Kejujuran untuk bertanya.
Kejujuran untuk belajar.
Ironisnya, banyak orang lebih takut terlihat tidak tahu daripada benar-benar tidak tahu. Padahal ketidaktahuan yang diakui adalah awal dari pengetahuan. Sedangkan ketidaktahuan yang disembunyikan adalah awal dari kemunduran.
Dalam kehidupan rohani pun demikian. Tuhan tidak menilai manusia dari seberapa panjang doanya atau seberapa tenang wajahnya. Ia melihat hati. Hati yang rendah. Hati yang mau dibentuk. Hati yang tidak pura-pura kuat.
Karena kebijaksanaan sejati bukan terletak pada riuhnya kata-kata, dan bukan pula pada panjangnya diam. Ia terletak pada keberanian untuk jujur terhadap diri sendiri.
Lebih baik suara sederhana yang lahir dari hati yang tulus, daripada pidato panjang yang kehilangan arah.
Lebih baik diam yang disertai kerendahan hati, daripada sunyi yang dijadikan selimut gengsi.Pada akhirnya, manusia tidak diukur dari seberapa keras ia berbicara, atau seberapa lama ia terdiam. Ia diukur dari seberapa dalam ia bertumbuh.
Dan pertumbuhan selalu dimulai dari satu hal yang sederhana namun sulit:
mengakui bahwa kita masih belajar.
Di sanalah riuh menemukan maknanya.
Di sanalah sunyi menemukan akarnya.
Dan di sanalah manusia menjadi sungguh-sungguh berisi.
Penulis : Amatus Rahakbauw, K












