Selamat Datang Gadis Papua Barat di Kota Sorong Papua Barat Daya

- Penulis

Sabtu, 25 April 2026 - 16:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Penulis: Amatus Rahakbauw K

 

Senja di Manokwari sore itu tetap indah—namun kali ini membawa pesan yang berbeda.Langit yang berwarna jingga seakan berbisik pelan: bahwa setiap akhir selalu membuka jalan bagi awal yang baru.

Di bawah langit itu, seorang gadis berdiri.

Nona Cendrawasih.

 

Tinggi, berkulit langsat, rambut ikal yang selalu ia rawat dengan penuh cinta.

Senyumnya… masih ada, meski kini tersimpan lebih dalam.

 

Hari itu, ia melangkah pergi dari Manokwari.Bukan hanya meninggalkan tempat, tetapi juga melepaskan kenangan yang pernah ia jaga sepenuh hati.

Ia pernah mencintai dengan tulus.

Pernah percaya dengan sungguh-sungguh.

 

Dan meski kenyataan tidak berjalan seperti harapannya, ia belajar satu hal penting:

Baca Juga  Cinta Sosial Media: Tumbuh Indah, Layu Karena Luka

tidak semua yang kita genggam harus kita miliki selamanya.

 

Dengan hati yang sedang belajar kuat, ia menuju Sorong—kota baru yang belum mengenalnya.Perjalanan itu panjang, tetapi di dalamnya ada proses yang diam-diam membentuk dirinya menjadi lebih tegar.

Sesampainya di Sorong, hidup tidak langsung berubah.

 

Namun perlahan, ia mulai memahami:

bahwa hidup bukan tentang menunggu semuanya sempurna,tetapi tentang tetap melangkah meski belum sepenuhnya pulih.

Hari-harinya diisi dengan usaha kecil.

Bekerja, berjalan, tersenyum seadanya.

 

Dan tanpa ia sadari… ia sedang membangun kembali dirinya.

Malam memang masih sunyi.

Namun kini, ia tidak lagi melihatnya sebagai musuh—melainkan ruang untuk mengenal dirinya lebih dalam.

Baca Juga  Aksi Demo TM Gemkara Batu Bara, Bak Gayung Bersambut

 

Ia belajar memeluk dirinya sendiri.

Belajar menghargai setiap langkah kecil yang ia ambil.Dan ketika ia berkata, “Aku capek…”ia juga mulai menambahkan, “tapi aku tidak akan berhenti.”

 

Pernah terlintas keinginan untuk menyerah.

Namun setiap pagi, ia tetap bangun.

Dan itu bukan kelemahan—

itu adalah kekuatan yang sering tidak disadari.

 

Sampai suatu hari, ia kembali berdiri di bawah langit senja—kali ini di Sorong.

Langitnya sama indahnya.

Dan untuk pertama kalinya, ia tersenyum kecil.

 

Bukan karena semua luka telah hilang,

tetapi karena ia sadar:

ia sudah sejauh ini bertahan.

Ia masih ada.

 

Masih berdiri.

Masih melangkah.

Dan itu lebih dari cukup.

Baca Juga  Bertahan Sampai Habis: Kisah Sunyi yang Tidak Pernah Diceritakan

 

Kini, ia bukan lagi gadis yang hanya bergantung pada janji.

Ia adalah perempuan yang belajar bangkit,

yang menemukan kekuatan dari dalam dirinya sendiri.Selamat datang di Sorong, Gadis Cendrawasih.Di kota ini, kamu tidak hanya akan bertahan—kamu akan bertumbuh.

 

Dan suatu hari nanti,

senyummu akan kembali…

lebih kuat, lebih tulus, dan penuh makna.

Bukan karena hidup selalu mudah,

tetapi karena kamu telah membuktikan bahwa kamu mampu melewati semuanya.

Berita Terkait

Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan
Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 
Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran
Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 
Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara
Salut, Pansus Plasma HGU Perkebunan di Batu Bara Terbentuk 
Raden AF, Mengupas Lagi Jendral AA, Terkenal Keberaniannya Mengeksekusi Anakbuahnya Merusak Bangsa
Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 13:07 WIB

Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 16:08 WIB

Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:57 WIB

Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran

Senin, 15 Juni 2026 - 10:05 WIB

Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 

Kamis, 11 Juni 2026 - 09:13 WIB

Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page