Cinta Sosial Media: Tumbuh Indah, Layu Karena Luka

- Penulis

Kamis, 24 Juli 2025 - 09:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

TEMPO TIMUR — Di balik layar ponsel, aku mengenalnya. Ia datang seperti cahaya kecil di tengah gelap hidupku—tenang, hangat, meneduhkan. Namanya Nara, perempuan berdarah Papua yang kata-katanya seperti nyanyian burung cenderawasih di pagi hening. Kami tak pernah bersua, tapi rasanya seperti sudah lama saling memiliki.

Kami bertemu di ruang sunyi bernama sosial media. Awalnya hanya membalas komentar puisi. Lalu beranjak menjadi tanya kabar, lalu cerita pribadi, lalu… cinta. Cinta yang tumbuh dalam diam, tapi tak pernah main-main. Ia menyebutku “rumah”, dan aku menyebutnya “pulang”.

Setiap malam, ia kirimkan suaranya membaca sajak yang kutulis. Aku menulis tentang rindu yang belum sempat diraba, dan ia membalas dengan kisah tentang laut, senja, dan harapan. Sosial media menjadi ladang di mana cinta kami tumbuh, mekar—tanpa pernah bertatap mata.

Baca Juga  Ketika Ibu Pertiwi Menangis: Luka Alam Indonesia dan Hati yang Tidak Lagi Peka

Tapi cinta yang tumbuh terlalu terang, kadang menarik bayang gelap.

Seseorang menyebar fitnah. Tangkap layar palsu tentang Nara dengan pria lain mulai ramai. Komentar kejam bermunculan.
“Perempuan Papua murahan,”
“Modal wajah eksotis untuk main hati.”
“Pantas, cuma cinta lewat layar.”

Aku ingin membelanya. Aku benar-benar ingin. Tapi semakin banyak hinaan yang datang, aku mulai goyah. Aku mulai percaya pada kata-kata orang yang bahkan tak kukenal.

“Nara… semua itu bohong, kan?” tanyaku dengan suara pecah di ujung malam.

Ia tak langsung menjawab. Diam. Lalu berkata, “Aku sudah terbiasa dijatuhkan, tapi tak pernah kukira… kau juga ikut melepaskan ku.”

Aku terdiam. Tak mampu menjawab. Hanya ada sunyi—dan di balik sunyi itu, aku tahu aku kehilangan sesuatu yang tak akan pernah kembali.

Baca Juga  Di Tepi Danau, Ketika Tuhan Memanggil

Esoknya, ia menghilang dari semua akun.

Tak ada jejak. Tak ada pesan.

Beberapa bulan berlalu.
Aku melihat fotonya—berdiri anggun dengan gaun adat, di samping seorang pria yang bukan aku. Senyumnya masih sama, tapi matanya… tak lagi menatapku.

Di caption-nya tertulis:

“Aku pernah dicintai diam-diam, lalu dilepas di depan banyak orang. Tapi aku memilih bertahan. Kini aku tahu, cinta tak harus datang dari mereka yang pertama menemukanmu, tapi dari mereka yang tetap memelukmu saat dunia melempar batu.”

Hatiku hancur. Air mataku jatuh.
Aku tahu, aku telah membiarkan bunga itu layu karena aku tak punya cukup keberanian untuk melindunginya.

Selamat tinggal, wanita Cenderawasih yang ini.

Baca Juga  Tong Punya Cinta Su Jadi Debu

Kau pernah menjadi puisi paling indah dalam hidupku. Tapi karena aku lemah, kini kau tinggal kenangan… dalam bait-bait yang bahkan tak lagi ingin kau baca.

 

Penulis : Amatus.Rahakbauw.K

Berita Terkait

“Jurnalisme dan Nurani: Menulis dengan Hati, Bukan Ego”
Dari Gosip ke Gagasan: Tiga Tingkatan Berpikir yang Menentukan Kualitas Bangsa
“Membunuh Korupsi di Dalam Diri”
Di Pelataran Senja, Seorang Pelayan Menanti Fajar Paskah
Bertahan Sampai Habis: Kisah Sunyi yang Tidak Pernah Diceritakan
Pangan Berdaulat
Syawal: Ketika Hati Pulang ke Cahaya
Ketika Tuhan Memanggil Kembali Hati Para Penatua dan Majelis

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 21:22 WIB

“Jurnalisme dan Nurani: Menulis dengan Hati, Bukan Ego”

Selasa, 14 April 2026 - 09:27 WIB

Dari Gosip ke Gagasan: Tiga Tingkatan Berpikir yang Menentukan Kualitas Bangsa

Sabtu, 11 April 2026 - 11:01 WIB

“Membunuh Korupsi di Dalam Diri”

Sabtu, 4 April 2026 - 16:36 WIB

Di Pelataran Senja, Seorang Pelayan Menanti Fajar Paskah

Sabtu, 28 Maret 2026 - 10:42 WIB

Bertahan Sampai Habis: Kisah Sunyi yang Tidak Pernah Diceritakan

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page