Tong Punya Cinta Su Jadi Debu

- Penulis

Selasa, 7 Oktober 2025 - 20:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Malam itu, angin dari laut Selatan tiup pelan masuk lewat jendela bambu rumah kecil di pesisir Manokwari. Di meja kayu, masih ada dua cangkir kopi — satu masih hangat, satu su dingin dari sore. Di sanalah, Yopi duduk diam, pandang kosong ke arah jalan yang mulai sepi.

Dia ingat pertama kali ketemu Ana di pasar Wosi. Ana jual pinang dan sirih, rambutnya dikuncir sederhana, tapi senyumnya bikin jantung Yopi rasa mau lompat keluar. Dari situ, tiap Sabtu pagi, Yopi pura-pura ke pasar beli garam padahal cuma mau liat Ana.

Waktu berlalu, tong dua makin dekat. Sore-sore, Yopi antar Ana pulang dari pasar naik motor tuanya, Honda Astrea yang su lelah tapi masih setia. Di jalan, tong dua biasa nyanyi lagu “Beta Janji” pelan-pelan, sambil ketawa. Ana selalu bilang, “Ko jangan cuma janji manis, Yopi. Cinta itu harus bukti, bukan kata.”

Baca Juga  Bukan Karena Waktu yang Salah

Yopi percaya dia bisa bukti. Dia kerja keras di bengkel, simpan sedikit demi sedikit, rencana mau lamar Ana kalau uang su cukup. Tapi Tuhan kadang kasih jalan lain.

Suatu hari, Ana bilang dia harus ikut keluarganya pindah ke Nabire. Ayahnya sakit, dan mama bilang mereka harus tinggal di sana. Yopi rasa dunia runtuh malam itu. Dia cuma bisa bilang, “Ko pi baik-baik, Ana. Beta tunggu ko di sini, sampe kapan pun.”

Bulan berganti tahun. Ana jarang kasih kabar. Pesan yang dikirim kadang dibaca, kadang tidak. Sampai satu hari, lewat teman, Yopi dengar kabar Ana su menikah. Dia diam saja waktu dengar. Hati macam disiram minyak tanah lalu dibakar pelan-pelan.

Baca Juga  Lebih Baik Mengasihi Diri Sendiri

Sejak itu, tiap sore Yopi duduk di pinggir pantai, lihat matahari turun di ufuk barat. Tempat di mana tong biasa duduk berdua, sekarang cuma tinggal bayang dan kenangan. Cinta yang dulu tumbuh kuat macam batu karang, sekarang su rapuh, su hancur — jadi debu, terbawa angin laut.

Tapi Yopi tidak benci. Dia bilang dalam hati,
“Cinta bukan soal siapa yang tinggal sampai akhir, tapi siapa yang buat beta rasa hidup waktu dia ada.”

Dan malam itu, sebelum dia tutup jendela, Yopi tiup pelan sisa abu rokok di asbak — abu itu beterbangan keluar jendela, hilang dalam angin.
“Tong punya cinta su jadi debu,” bisiknya pelan.

Baca Juga  Keluarga Besar MAD Kopi Sampaikan Ucapan Selamat Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

Tapi dalam debu itu, masih tersisa cahaya kecil… kenangan yang tak akan hilang.

 

Penulis : Amatus Rahakbauw. K

Berita Terkait

Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan
Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 
Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran
Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 
Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara
Salut, Pansus Plasma HGU Perkebunan di Batu Bara Terbentuk 
Raden AF, Mengupas Lagi Jendral AA, Terkenal Keberaniannya Mengeksekusi Anakbuahnya Merusak Bangsa
Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 13:07 WIB

Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 16:08 WIB

Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:57 WIB

Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran

Senin, 15 Juni 2026 - 10:05 WIB

Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 

Kamis, 11 Juni 2026 - 09:13 WIB

Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page