Penulis Amatus.Rahakbauw K
Renungan Profetik:
Di dalam tubuh Gereja Tuhan telah menetapkan majelis dan penatua sebagai penjaga kawanan domba-Nya.
Mereka dipanggil bukan untuk duduk di kursi kehormatan, tetapi untuk berdiri di garis depan pelayanan—menggembalakan, melindungi, dan membangun iman jemaat.
Namun hari-hari ini, ada suara sunyi yang seakan terdengar dari mimbar Tuhan—suara yang tidak selalu nyaman didengar, tetapi perlu untuk direnungkan.
Sebab jabatan dalam gereja sering kali perlahan berubah makna. Apa yang dahulu adalah panggilan pelayanan, kadang tanpa disadari berubah menjadi tempat mencari kehormatan. Apa yang dahulu adalah tanggung jawab rohani, terkadang bergeser menjadi kekuasaan yang sulit disentuh.
Firman Tuhan telah mengingatkan sejak dahulu:
“Celakalah para gembala Israel yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah seharusnya gembala menggembalakan domba-domba?”
(Yehezkiel 34:2) Ini bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah cermin bagi setiap pemimpin rohani di setiap zaman.
Sebab Tuhan tidak pernah tertipu oleh jabatan, gelar, atau posisi dalam organisasi gereja. Tuhan melihat hati.
Ia melihat apakah seorang pelayan benar-benar mengasihi jemaat, atau hanya mencintai kedudukannya.
Seorang majelis atau penatua dipanggil untuk berjalan di jalan yang sempit—jalan kerendahan hati, pengorbanan, dan ketulusan. Jalan itu tidak selalu mudah, tetapi di sanalah kemuliaan pelayanan ditemukan.
Rasul Petrus menasihatkan dengan jelas:
“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah; dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.”
(1 Petrus 5:2)Pelayanan sejati tidak lahir dari ambisi. Ia lahir dari hati yang rela hancur di hadapan Tuhan.
Yesus sendiri telah menunjukkan jalan itu. Dia adalah Tuhan, tetapi Ia memilih untuk merendahkan diri.
“Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”
(Matius 23:11)Inilah hukum Kerajaan Allah yang sering bertolak belakang dengan cara dunia berpikir. Dunia memuliakan kekuasaan, tetapi Tuhan memuliakan kerendahan hati.
Karena itu, setiap majelis dan penatua perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri di hadapan Tuhan:
Apakah aku masih melayani dengan hati yang murni?
Apakah aku masih menggembalakan jemaat dengan kasih?
Ataukah aku mulai mencintai jabatan lebih daripada jiwa-jiwa yang dipercayakan Tuhan?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Ini adalah panggilan untuk kembali.
Sebab Tuhan tidak mencari pemimpin yang sempurna, tetapi Ia mencari pemimpin yang bersedia bertobat, memperbaiki diri, dan kembali kepada hati seorang gembala.
Firman Tuhan kembali menegaskan:
“Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.”
(Yakobus 4:10)Ketika seorang pemimpin merendahkan dirinya, Tuhan akan mengangkat pelayanannya. Ketika seorang gembala kembali kepada panggilannya yang murni, jemaat akan kembali menemukan kehangatan dan kepercayaan.
Gereja akan kuat bukan karena struktur yang megah, tetapi karena pemimpin yang hatinya hidup di hadapan Tuhan.
Sebab pada akhirnya, yang akan ditanyakan Tuhan bukanlah:
“Apa jabatanmu di gereja?”
Tetapi:
“Apakah engkau setia menggembalakan domba-domba-Ku?”
Dan bagi mereka yang setia, janji Tuhan tidak pernah berubah:
“Apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.”
(1 Petrus 5:4)Kiranya setiap majelis dan penatua kembali mengingat panggilan suci itu—menjadi gembala yang menjaga, melayani, dan mengasihi jemaat dengan hati yang takut akan Tuhan.
Karena gereja yang hidup lahir dari pemimpin yang hidup di hadapan Tuhan.
Penulis : Amatus Rahakbauw, K




















