Ketika Tuhan Memanggil Kembali Hati Para Penatua dan Majelis

- Penulis

Minggu, 15 Maret 2026 - 12:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Penulis Amatus.Rahakbauw K

Renungan Profetik:

Di dalam tubuh Gereja Tuhan telah menetapkan majelis dan penatua sebagai penjaga kawanan domba-Nya.

Mereka dipanggil bukan untuk duduk di kursi kehormatan, tetapi untuk berdiri di garis depan pelayanan—menggembalakan, melindungi, dan membangun iman jemaat.
Namun hari-hari ini, ada suara sunyi yang seakan terdengar dari mimbar Tuhan—suara yang tidak selalu nyaman didengar, tetapi perlu untuk direnungkan.

Sebab jabatan dalam gereja sering kali perlahan berubah makna. Apa yang dahulu adalah panggilan pelayanan, kadang tanpa disadari berubah menjadi tempat mencari kehormatan. Apa yang dahulu adalah tanggung jawab rohani, terkadang bergeser menjadi kekuasaan yang sulit disentuh.
Firman Tuhan telah mengingatkan sejak dahulu:

“Celakalah para gembala Israel yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah seharusnya gembala menggembalakan domba-domba?”

(Yehezkiel 34:2) Ini bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah cermin bagi setiap pemimpin rohani di setiap zaman.
Sebab Tuhan tidak pernah tertipu oleh jabatan, gelar, atau posisi dalam organisasi gereja. Tuhan melihat hati.

Baca Juga  Natal di Bawah Terpal Sunyi 

Ia melihat apakah seorang pelayan benar-benar mengasihi jemaat, atau hanya mencintai kedudukannya.

Seorang majelis atau penatua dipanggil untuk berjalan di jalan yang sempit—jalan kerendahan hati, pengorbanan, dan ketulusan. Jalan itu tidak selalu mudah, tetapi di sanalah kemuliaan pelayanan ditemukan.

Rasul Petrus menasihatkan dengan jelas:
“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah; dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.”

(1 Petrus 5:2)Pelayanan sejati tidak lahir dari ambisi. Ia lahir dari hati yang rela hancur di hadapan Tuhan.

Yesus sendiri telah menunjukkan jalan itu. Dia adalah Tuhan, tetapi Ia memilih untuk merendahkan diri.

Baca Juga  Kekurangan Orang Lain Adalah Undangan untuk Menyembuhkan Diri

“Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”

(Matius 23:11)Inilah hukum Kerajaan Allah yang sering bertolak belakang dengan cara dunia berpikir. Dunia memuliakan kekuasaan, tetapi Tuhan memuliakan kerendahan hati.

Karena itu, setiap majelis dan penatua perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri di hadapan Tuhan:
Apakah aku masih melayani dengan hati yang murni?

Apakah aku masih menggembalakan jemaat dengan kasih?

Ataukah aku mulai mencintai jabatan lebih daripada jiwa-jiwa yang dipercayakan Tuhan?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Ini adalah panggilan untuk kembali.

Sebab Tuhan tidak mencari pemimpin yang sempurna, tetapi Ia mencari pemimpin yang bersedia bertobat, memperbaiki diri, dan kembali kepada hati seorang gembala.
Firman Tuhan kembali menegaskan:
“Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.”

Baca Juga  Injil Menjadi Dasar Iman dan Perdamaian di Tanah Papua

(Yakobus 4:10)Ketika seorang pemimpin merendahkan dirinya, Tuhan akan mengangkat pelayanannya. Ketika seorang gembala kembali kepada panggilannya yang murni, jemaat akan kembali menemukan kehangatan dan kepercayaan.

Gereja akan kuat bukan karena struktur yang megah, tetapi karena pemimpin yang hatinya hidup di hadapan Tuhan.
Sebab pada akhirnya, yang akan ditanyakan Tuhan bukanlah:

“Apa jabatanmu di gereja?”
Tetapi:

“Apakah engkau setia menggembalakan domba-domba-Ku?”

Dan bagi mereka yang setia, janji Tuhan tidak pernah berubah:

“Apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.”

(1 Petrus 5:4)Kiranya setiap majelis dan penatua kembali mengingat panggilan suci itu—menjadi gembala yang menjaga, melayani, dan mengasihi jemaat dengan hati yang takut akan Tuhan.

Karena gereja yang hidup lahir dari pemimpin yang hidup di hadapan Tuhan.

Penulis : Amatus Rahakbauw, K

Berita Terkait

Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan
Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 
Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran
Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 
Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara
Salut, Pansus Plasma HGU Perkebunan di Batu Bara Terbentuk 
Raden AF, Mengupas Lagi Jendral AA, Terkenal Keberaniannya Mengeksekusi Anakbuahnya Merusak Bangsa
Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 13:07 WIB

Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 16:08 WIB

Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:57 WIB

Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran

Senin, 15 Juni 2026 - 10:05 WIB

Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 

Kamis, 11 Juni 2026 - 09:13 WIB

Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page