Ketika Ibu Pertiwi Menangis: Luka Alam Indonesia dan Hati yang Tidak Lagi Peka

- Penulis

Senin, 8 Desember 2025 - 17:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bencana Alam
Situasi Aceh Tamiang Usai Bencana Alam

TempoTimur.com

Alam Indonesia bukan hanya hamparan hijau yang diciptakan Tuhan untuk dipandang, tetapi juga rahim kehidupan yang sejak dahulu merawat kita dalam kehangatan. Dari Sabang sampai Merauke, dari Sumatra hingga Aceh, tanah ini pernah begitu subur dan ramah. Namun hari ini, Ibu Pertiwi berdiri dengan tubuh penuh luka—luka yang bukan datang dari takdir, melainkan dari ulah tangan manusia yang mengaku penghuninya.

Bencana yang terjadi di Sumatra dan Aceh bukan sekadar peristiwa alam. Itu adalah jeritan panjang yang diucapkan bumi ketika hutan-hutannya ditebang, sungai-sungainya dicemari, dan gunung-gunungnya ditelanjangi atas nama pembangunan. Kita sering berkata bahwa bencana adalah cobaan. Namun apakah pantas kita menyebutnya cobaan, bila manusialah yang mengundang murkanya?

Setiap kali hujan turun, ia bagai air mata langit yang membasuh kerak keserakahan manusia. Longsor terjadi karena hutan-hutan yang dulu menjadi penyangga kini tinggal cerita. Banjir datang karena tanah tak lagi mampu menahan air akibat kerakusan manusia yang menukar pepohonan dengan keuntungan sesaat. Dan gempa—yang sering kita sebut sebagai fenomena alam—kian mematikan ketika ruang hidup dipenuhi bangunan tanpa perencanaan matang.

Baca Juga  Lebaran ke-5 Idul Fitri Pelabuhan Ujung Bom Tanjung Tiram Dipadati Pengunjung

Di tengah semua ini, pemerintah sering hadir terlambat. Berkumpul di ruang rapat dingin ber-AC, membuat dokumen panjang, menyusun strategi indah, tetapi sering tanpa pelaksanaan yang nyata. Dari pusat hingga ke daerah, ada pejabat yang seolah menutup mata, seakan kehancuran lingkungan adalah masalah kecil yang bisa ditunda. Padahal alam tidak pernah menunda murkanya.

Saya menulis ini bukan karena benci, tetapi karena cinta. Cinta pada negeri yang telah melahirkan generasi demi generasi. Cinta pada sungai-sungai yang mulai keruh, pada hutan yang mulai gundul, pada anak-cucu yang kelak tidak lagi mengenal aroma tanah basah setelah hujan.

Betapa sedihnya melihat pemerintah lebih sibuk mempercantik kota ketimbang menyelamatkan akar bumi. Betapa hancurnya hati ini ketika pembangunan sering berarti penghancuran lingkungan. Kita bangga dengan gedung tinggi, jalan mulus, investasi besar—tetapi lupa bahwa pondasi semua itu adalah alam yang sehat.

Baca Juga  Pelangi Keikhlasan di Bulan Suci

Izinkan saya bertanya pada hati para pemimpin—dari Jakarta hingga kabupaten paling jauh:

Apakah pembangunan layak disebut maju bila air mata rakyat tak kunjung kering karena bencana?
Apakah kesejahteraan pantas dirayakan bila alam yang memberi kehidupan justru dikhianati?
Dan apakah kita rela membiarkan Indonesia yang indah ini perlahan mati?

Alam tidak pernah meminta banyak. Ia hanya ingin dijaga. Ia hanya ingin manusia yang hidup di atasnya tidak menjadi perusak, tetapi penjaga. Jika pemerintah mau membuka hati, mau benar-benar mendengar jeritan bumi, maka kebijakan tidak akan lagi hanya berbicara tentang keuntungan, tetapi tentang keberlanjutan.

Harapan saya sederhana—semoga tulisan ini dapat mengetuk pintu hati pejabat-pejabat negeri, dari pusat hingga daerah. Semoga mereka menyadari bahwa masa depan Indonesia tidak berada di tumpukan laporan kinerja, tetapi di hutan yang lestari, di laut yang bersih, di gunung yang kokoh, dan di tanah yang tetap subur.

Baca Juga  Ujian yang Menghasilkan Upah

Dan semoga, suatu hari nanti, Ibu Pertiwi dapat tersenyum kembali.

Karena kita, anak-anaknya, akhirnya belajar untuk tidak menyakitinya lagi.

Penulis : TempoTimur/Amatus Rahakbauw

Berita Terkait

Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan
Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 
Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran
Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 
Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara
Salut, Pansus Plasma HGU Perkebunan di Batu Bara Terbentuk 
Raden AF, Mengupas Lagi Jendral AA, Terkenal Keberaniannya Mengeksekusi Anakbuahnya Merusak Bangsa
Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 13:07 WIB

Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 16:08 WIB

Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:57 WIB

Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran

Senin, 15 Juni 2026 - 10:05 WIB

Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 

Kamis, 11 Juni 2026 - 09:13 WIB

Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page