
TempoTimur.com
Alam Indonesia bukan hanya hamparan hijau yang diciptakan Tuhan untuk dipandang, tetapi juga rahim kehidupan yang sejak dahulu merawat kita dalam kehangatan. Dari Sabang sampai Merauke, dari Sumatra hingga Aceh, tanah ini pernah begitu subur dan ramah. Namun hari ini, Ibu Pertiwi berdiri dengan tubuh penuh luka—luka yang bukan datang dari takdir, melainkan dari ulah tangan manusia yang mengaku penghuninya.
Bencana yang terjadi di Sumatra dan Aceh bukan sekadar peristiwa alam. Itu adalah jeritan panjang yang diucapkan bumi ketika hutan-hutannya ditebang, sungai-sungainya dicemari, dan gunung-gunungnya ditelanjangi atas nama pembangunan. Kita sering berkata bahwa bencana adalah cobaan. Namun apakah pantas kita menyebutnya cobaan, bila manusialah yang mengundang murkanya?
Setiap kali hujan turun, ia bagai air mata langit yang membasuh kerak keserakahan manusia. Longsor terjadi karena hutan-hutan yang dulu menjadi penyangga kini tinggal cerita. Banjir datang karena tanah tak lagi mampu menahan air akibat kerakusan manusia yang menukar pepohonan dengan keuntungan sesaat. Dan gempa—yang sering kita sebut sebagai fenomena alam—kian mematikan ketika ruang hidup dipenuhi bangunan tanpa perencanaan matang.
Di tengah semua ini, pemerintah sering hadir terlambat. Berkumpul di ruang rapat dingin ber-AC, membuat dokumen panjang, menyusun strategi indah, tetapi sering tanpa pelaksanaan yang nyata. Dari pusat hingga ke daerah, ada pejabat yang seolah menutup mata, seakan kehancuran lingkungan adalah masalah kecil yang bisa ditunda. Padahal alam tidak pernah menunda murkanya.
Saya menulis ini bukan karena benci, tetapi karena cinta. Cinta pada negeri yang telah melahirkan generasi demi generasi. Cinta pada sungai-sungai yang mulai keruh, pada hutan yang mulai gundul, pada anak-cucu yang kelak tidak lagi mengenal aroma tanah basah setelah hujan.
Betapa sedihnya melihat pemerintah lebih sibuk mempercantik kota ketimbang menyelamatkan akar bumi. Betapa hancurnya hati ini ketika pembangunan sering berarti penghancuran lingkungan. Kita bangga dengan gedung tinggi, jalan mulus, investasi besar—tetapi lupa bahwa pondasi semua itu adalah alam yang sehat.
Izinkan saya bertanya pada hati para pemimpin—dari Jakarta hingga kabupaten paling jauh:
Apakah pembangunan layak disebut maju bila air mata rakyat tak kunjung kering karena bencana?
Apakah kesejahteraan pantas dirayakan bila alam yang memberi kehidupan justru dikhianati?
Dan apakah kita rela membiarkan Indonesia yang indah ini perlahan mati?
Alam tidak pernah meminta banyak. Ia hanya ingin dijaga. Ia hanya ingin manusia yang hidup di atasnya tidak menjadi perusak, tetapi penjaga. Jika pemerintah mau membuka hati, mau benar-benar mendengar jeritan bumi, maka kebijakan tidak akan lagi hanya berbicara tentang keuntungan, tetapi tentang keberlanjutan.
Harapan saya sederhana—semoga tulisan ini dapat mengetuk pintu hati pejabat-pejabat negeri, dari pusat hingga daerah. Semoga mereka menyadari bahwa masa depan Indonesia tidak berada di tumpukan laporan kinerja, tetapi di hutan yang lestari, di laut yang bersih, di gunung yang kokoh, dan di tanah yang tetap subur.
Dan semoga, suatu hari nanti, Ibu Pertiwi dapat tersenyum kembali.
Karena kita, anak-anaknya, akhirnya belajar untuk tidak menyakitinya lagi.
Penulis : TempoTimur/Amatus Rahakbauw



















