Di sebuah kampung yang dikenal religius, ada dua pemuda bernama Bullos dan Dulos. Mereka sama-sama aktif dalam pelayanan gereja — memimpin pujian, bersaksi, bahkan ikut misi ke pelosok. Tapi hati mereka berbeda.
Bullos suka membanggakan dirinya. Ke mana-mana ia selalu berkata,
“Kalau bukan saya, gereja ini nggak akan maju seperti sekarang!”
“Saya sudah korban waktu, uang, dan tenaga demi pelayanan Tuhan. Orang lain cuma ikut nama!”
Sementara itu, Dulos tetap setia melayani tanpa banyak bicara. Ia percaya, pelayanan bukan soal terlihat hebat, tapi soal taat dan setia — meskipun tak dilihat orang.
Suatu sore mereka duduk bersama di rumah Hengki, seorang tua yang bijak dan ditakuti karena mulutnya tajam tapi penuh hikmat.
Hengki menatap Bullos dengan mata tajam dan berkata,
“Bullos, berhentilah membanggakan dirimu seolah Tuhan berutang sesuatu padamu. Jangan kira pelayananmu itu tiket VIP ke surga. Kamu bukan lebih suci dari yang lain, kamu hanya dipakai Tuhan, bukan Tuhan yang dipakai kamu!”
Bullos terkejut. Dulos menunduk.
Hengki berdiri dan membuka Alkitab tuanya, membacakan dengan suara keras:
📖 Lukas 17:10
“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”
Kemudian ia melanjutkan,
“Orang benar itu sadar bahwa semua yang ia lakukan adalah anugerah. Tapi orang sombong akan pakai cerita jasanya sebagai senjata rohani untuk merasa lebih hebat dari sesamanya.”
Bullos ingin menjawab, tapi tak ada kata yang keluar. Untuk pertama kalinya ia sadar — pelayanan yang penuh kesombongan adalah kebusukan terselubung yang tak berkenan di hadapan Tuhan.
Malam itu, ia pulang dengan hati yang gelisah. Tapi itulah awal pertobatan.
Pesan Tegas Tapi Rohani:
✅ Jangan pakai pelayananmu untuk pamer.
✅ Jangan menganggap dirimu lebih suci dari orang lain.
✅ Tuhan tidak butuh pahlawan rohani, Dia mencari hamba yang rendah hati.
Ingat:
📖 Yakobus 4:6
“Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K



















