Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Ezra. Ia dikenal pendiam, sederhana, dan tidak banyak bicara. Namun karena penampilannya yang sederhana dan pekerjaannya sebagai tukang kebun, banyak orang di sekitarnya meremehkan dan menyindirnya.
“Ah, Ezra itu tidak akan pernah jadi apa-apa,” kata seorang warga.
“Benar, kerjaannya cuma main tanah. Tidak seperti anak-anak muda lainnya yang sukses di kota,” timpal yang lain.
Ezra sering mendengar kata-kata itu. Kadang diucapkan langsung di depannya, kadang hanya berupa bisik-bisik di belakang. Namun ia tetap diam dan tidak membalas. Dalam hatinya, ia terus mengingat firman Tuhan:
“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi, dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
(Matius 7:1-2)
Waktu berlalu, suatu hari badai besar melanda desa itu. Banyak ladang rusak dan tanaman mati. Namun kebun Ezra tetap kokoh karena ia merawatnya dengan teliti dan penuh kasih. Sayuran dari kebunnya pun menjadi satu-satunya sumber makanan bagi banyak warga desa.
Orang-orang yang dulu mencibir, kini datang dengan rasa malu. Mereka berkata, “Ezra, maafkan kami. Ternyata kamu jauh lebih bijak dan kuat daripada yang kami pikirkan.”
Ezra hanya tersenyum dan menjawab, “Semua kemuliaan bagi Tuhan. Aku hanya melakukan yang bisa aku lakukan dengan setia.”
Sejak hari itu, orang-orang mulai mengubah cara pandang mereka. Mereka belajar untuk tidak cepat menghakimi orang lain, dan lebih dahulu melihat ke dalam diri mereka sendiri—seperti yang diajarkan Yesus:
“Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”
(Lukas 6:41).
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K



















