Cahaya di Ujung Jalan yang Gelap

- Penulis

Sabtu, 10 Januari 2026 - 21:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Malam itu gereja tampak megah dari luar, tetapi sunyi di dalamnya. Lampu-lampu menyala terang, namun hati banyak pemuda di dalamnya justru redup. Mereka duduk berdekatan, tetapi jiwa mereka saling berjauhan.

Senyum dipamerkan, kata-kata rohani dilafalkan, namun di baliknya tersimpan iri, gengsi, dan keangkuhan yang diam-diam saling melukai.

Pelayanan yang seharusnya menjadi altar pengorbanan berubah menjadi panggung pembuktian. Siapa yang paling menonjol, siapa yang paling didengar, siapa yang paling dianggap rohani.

Mereka lupa—Tuhan tidak pernah mencari yang paling tinggi suaranya, melainkan yang paling rendah hatinya.Di sudut bangku gereja, seorang pemuda duduk tertunduk. Ia pernah bersemangat, pernah menangis saat pertama kali melayani, pernah berjanji setia pada Tuhan.

Baca Juga  Tangsel Beraroma 'Harum': Ketika Sampah Jadi 'Atraksi' Utama

Namun perlahan, kata-kata tajam sesama pelayan mematahkan sayapnya. Ia tidak jatuh karena dosa besar, tetapi karena sesama saudara yang tak lagi saling menopang.Ia berjalan pulang malam itu, menyusuri jalan panjang yang basah oleh hujan dan air mata.

Langkahnya berat, doanya singkat, imannya nyaris padam. “Tuhan, jika pelayanan adalah tempat saling menghancurkan, untuk apa aku bertahan?” bisiknya lirih.
Di ujung jalan yang gelap, ia berhenti. Bukan karena tidak bisa melangkah, tetapi karena lelah berjuang sendiri.

Saat itulah ia teringat satu hal: Tuhan tidak pernah meninggalkan. Manusia boleh menjatuhkan, gereja bisa melukai, tetapi kasih Tuhan tetap setia menunggu.
Dalam keheningan itu, ia berlutut. Tidak ada musik, tidak ada sorak pujian, hanya hati yang remuk dan doa yang jujur.

Baca Juga  Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku

Dan di sanalah, perlahan, ia melihatnya—cahaya kecil di ujung jalan. Bukan cahaya manusia, melainkan terang kasih Tuhan yang memanggilnya untuk bangkit, bukan untuk membalas, tetapi untuk mengampuni.

Cahaya itu juga seharusnya dilihat oleh setiap pemuda dan pemudi gereja yang sibuk menjatuhkan sesamanya. Kepemudaan gereja bukan arena persaingan, melainkan sekolah kasih. Bukan tempat meninggikan diri, melainkan ruang untuk belajar rendah hati.

Gereja tidak membutuhkan pemuda yang hebat di mata manusia, tetapi pemuda yang mau dibentuk, ditegur, dan dipakai Tuhan.

Jika hari ini engkau merasa paling benar, berhati-hatilah—mungkin hatimu sedang menjauh dari terang. Jika engkau merasa paling rohani, periksalah kembali—apakah engkau masih bisa mengasihi yang lemah?
Sebab di ujung setiap jalan yang gelap, Tuhan selalu menyediakan cahaya.

Baca Juga  “Jurnalisme dan Nurani: Menulis dengan Hati, Bukan Ego”

Tetapi hanya mereka yang merendahkan hati yang mampu melihatnya.
Dan kepemudaan gereja akan kembali hidup, bukan ketika semua ingin bersinar sendiri, melainkan ketika bersama-sama menjadi pantulan terang Kristus.

Penulis : Amatus Rahakbauw

Berita Terkait

Hutan Menangis, Negeri Terdiam
Ketika Alam Mulai Menagih
Sepuluh Program Prioritas Baharuddin-Syafrizal, Delapan Berjalan Maksimal, Dua Terkendala Anggaran
Jangan Rusak Hutan, Laut dan Tanah Kami
Hari Tanjak Sedunia 2026, Dari Istana Niat Lima Laras, Batu Bara Teguhkan Semangat “Bertanjak” untuk Kemajuan, Budaya dan Kesejahteraan
Jaga Marwah dan Identitas Kabupaten Batu Bara Serukan Pelestarian Budaya Melalui Peringatan Hari Bertanjak Sedunia 2026
MBG Tanjung Tiram dipertanyakan: 67 Instansi, baru 23 Terlayani 44 Masih Menunggu
Prabowo Terapkan “Politik Othello”: Rangkul Lawan Jadi Sekutu

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 16:35 WIB

Hutan Menangis, Negeri Terdiam

Jumat, 25 September 2026 - 11:33 WIB

Ketika Alam Mulai Menagih

Rabu, 23 September 2026 - 09:42 WIB

Sepuluh Program Prioritas Baharuddin-Syafrizal, Delapan Berjalan Maksimal, Dua Terkendala Anggaran

Sabtu, 19 September 2026 - 10:11 WIB

Jangan Rusak Hutan, Laut dan Tanah Kami

Rabu, 16 September 2026 - 14:00 WIB

Hari Tanjak Sedunia 2026, Dari Istana Niat Lima Laras, Batu Bara Teguhkan Semangat “Bertanjak” untuk Kemajuan, Budaya dan Kesejahteraan

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page