Tebas Hutan, Rampas Kehidupan

- Penulis

Selasa, 30 Desember 2025 - 21:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Menebang hutan bukan sekadar memotong pohon. Ia adalah tindakan merampas kehidupan—pelan namun pasti.

Ketika gergaji mesin meraung di tengah hutan, yang tumbang bukan hanya kayu, tetapi juga harapan masyarakat adat, keseimbangan alam, dan masa depan generasi berikutnya.

Hutan adalah sumber hidup. Dari sanalah air mengalir, udara dimurnikan, dan pangan disediakan. Namun atas nama investasi dan pembangunan yang kerap disalahartikan, hutan ditebas tanpa nurani.

Yang tersisa hanyalah tanah gundul, banjir musiman, longsor, serta konflik sosial yang terus membara. Keuntungan dinikmati segelintir pihak, sementara kerugian diwariskan kepada rakyat kecil.

Ironisnya, perusakan ini sering dilegalkan. Izin dikeluarkan dengan dalih pertumbuhan ekonomi, seolah-olah alam hanyalah komoditas mati yang bisa diperjualbelikan.

Baca Juga  Hutan Kita: Penopang Kehidupan dan Masa Depan Rakyat

Padahal, bagi masyarakat lokal dan adat, hutan adalah rumah, identitas, dan ruang spiritual. Ketika hutan dirampas, kehidupan mereka ikut direnggut.

Negara tidak boleh absen. Penegakan hukum harus tegas, bukan tajam ke bawah tumpul ke atas. Pengawasan lingkungan tidak boleh menjadi formalitas administrasi, melainkan komitmen nyata.

Pembangunan sejati bukanlah pembangunan yang menghancurkan sumber hidupnya sendiri.
Namun kritik saja tidak cukup.

Kita juga harus mendorong solusi: pengelolaan hutan berbasis masyarakat, investasi hijau yang bertanggung jawab, serta pendidikan lingkungan sejak dini.

Pembangunan dan kelestarian bukan dua hal yang saling meniadakan—keduanya bisa dan harus berjalan beriringan.

Jika hutan terus ditebas tanpa kendali, maka yang kita rampas bukan hanya kehidupan hari ini, tetapi juga masa depan. Saatnya berhenti menormalisasi perusakan. Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. Dan itu adalah tanggung jawab kita bersama.

Baca Juga  Se-ekor Biayawak Hebohkan Warga Labuhan Ruku

Penulis : Amatus Rahakbauw

Berita Terkait

Pemekaran Aslab Seriuskah Agar Tak Salah Arah
Dimana Logisnya Provinsi Sumatera Pantai Timur Itu?
Gagasan Pemekaran Provinsi SUMPIT itu Gak Bisa Ujug – Ujug
Ketika Respons Lambat Dipertontonkan, Kejati Justru Menjawab dengan Tindakan
Jangan Takut Bersinar Meskipun Kesuksesan Akan Selalu Diuji, Teruslah Jangan Pernah Berhenti Melangkah
“Jurnalisme dan Nurani: Menulis dengan Hati, Bukan Ego”
Dari Gosip ke Gagasan: Tiga Tingkatan Berpikir yang Menentukan Kualitas Bangsa
“Membunuh Korupsi di Dalam Diri”

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 09:23 WIB

Pemekaran Aslab Seriuskah Agar Tak Salah Arah

Minggu, 19 April 2026 - 09:19 WIB

Dimana Logisnya Provinsi Sumatera Pantai Timur Itu?

Minggu, 19 April 2026 - 09:13 WIB

Gagasan Pemekaran Provinsi SUMPIT itu Gak Bisa Ujug – Ujug

Jumat, 17 April 2026 - 23:54 WIB

Ketika Respons Lambat Dipertontonkan, Kejati Justru Menjawab dengan Tindakan

Jumat, 17 April 2026 - 20:42 WIB

Jangan Takut Bersinar Meskipun Kesuksesan Akan Selalu Diuji, Teruslah Jangan Pernah Berhenti Melangkah

Berita Terbaru

Nasional

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Copot Dua Dirjen Kemenkeu

Kamis, 23 Apr 2026 - 14:55 WIB

You cannot copy content of this page