Bukan karena waktu yang salah, semua ini terjadi karena kau membawa perasaan terlalu dalam — seperti angin yang menolak berhenti di lembah hening Manokwari.
Di antara kabut yang turun perlahan di pagi hari, hutan-hutan tua memeluk rahasianya. Mereka berbisik lembut kepada dedaunan muda, bahwa cinta dan kehilangan adalah dua musim yang tak bisa dipisahkan.
Anak-anak muda berjalan di antara akar-akar raksasa yang menjalar seperti urat kehidupan. Mereka mencari arti dari setiap luka, mencoba memahami kenapa sesuatu yang indah bisa pergi begitu cepat.
Langit Manokwari kadang biru, kadang kelabu — sama seperti hati manusia. Kadang hangat, kadang dingin. Tapi di balik setiap mendung, selalu ada cahaya kecil yang menunggu untuk menembus.
Jangan menangis terlalu lama di bawah pohon yang sama. Alam mengajarkan, bahwa setiap daun yang gugur bukan akhir dari kehidupan, melainkan tanda bahwa sesuatu yang baru akan tumbuh.
Biarlah rasa sakit itu jadi pupuk bagi jiwamu. Biarlah kesedihan jadi air hujan yang menumbuhkan keberanian baru.
Hutan Manokwari menyimpan banyak cerita: tentang cinta yang tak sempat terucap, tentang janji yang tertinggal di bawah sinar rembulan, tentang tawa yang kini hanya bergema di antara batang-batang tua. Tapi dari semua itu, ada satu pesan yang paling dalam — bahwa setiap perasaan yang tulus tak akan pernah sia-sia.
Kepada muda-mudi yang tersesat dalam rasa: jangan takut untuk terluka. Alam pun pernah patah — pohon tumbang, ombak pecah, tanah retak — tapi mereka tetap hidup, tetap indah, tetap menjadi tempat manusia bersandar.
Karena hidup bukan tentang menghindari hujan, tapi tentang belajar menari di bawahnya.
Jadi, ketika hati terasa berat, datanglah ke hutan itu. Dengarkan desir angin, tatap langit Manokwari yang tenang. Di sanalah kau akan tahu — bahwa waktu tidak pernah salah. Yang salah hanyalah ketika kita lupa, bahwa setiap perasaan punya tempat untuk pulang.
Penulis : Amatus Rahakbauw
















