Bhineka Tunggal Ika: Kasih yang Memersatukan Bangsa

- Penulis

Selasa, 19 Agustus 2025 - 08:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Cerpen
Penulis: Amatus Rahakbauw. K
Editor: A.R.K

Dari ufuk timur Papua, kilauan suara burung cenderawasih membelah hening pagi, seakan menjadi pengingat bagi bangsa ini tentang sejarah panjang perjuangan Indonesia. Selama 350 tahun, negeri ini dijajah Belanda. Dari penderitaan itu, lahirlah tekad untuk bersatu, diwujudkan dalam semboyan sakral: “Bhineka Tunggal Ika”.

Semboyan ini bukan sekadar kata, melainkan roh pemersatu bangsa yang majemuk. Dengan persatuan, Indonesia berhasil mengusir penjajah dari bumi pertiwi dan mengibarkan merah putih sebagai tanda kemerdekaan.

Namun, di zaman sekarang, semboyan itu sering kali terlupakan. Tawuran antar pelajar, konflik antar desa, hingga perpecahan sosial menjamur di berbagai daerah. Seakan pengorbanan para pahlawan tak lagi bermakna. Padahal, di masa lalu banyak peristiwa heroik yang lahir dari semangat kebersamaan.

Baca Juga  Iman Jalan Pribadi, Bukan Titipan pada Tokoh Rohani

Lihatlah pertempuran Surabaya, 10 November 1945. Arek-arek Surabaya bersatu, tanpa memandang suku, agama, atau latar belakang. Mereka bahu-membahu melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali Indonesia. Dengan gagah berani, mereka berjuang demi masa depan anak cucu—demi bangsa yang lebih baik.

Hari ini, tugas kita adalah membangkitkan kembali rasa nasionalisme. Bukan hanya ketika bangsa lain mengklaim budaya atau tanah kita, melainkan dalam kehidupan sehari-hari: menghargai jasa pahlawan, menjaga persaudaraan, dan menolak perpecahan.

Indonesia adalah negara kepulauan dengan ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, dan adat istiadat. Justru keberagaman itulah yang membuat kita kaya. Tanpa kesadaran untuk menjaga Bhineka Tunggal Ika, negeri ini bisa rapuh. Jika setiap orang hanya mementingkan kelompoknya, bangsa ini bisa terpecah belah.

Baca Juga  Cinta yang Tersapu Hujan

Karena itu, marilah kita menghidupi Bhineka Tunggal Ika dengan sebaik-baiknya. Persatuan tidak datang dengan mudah; ia lahir dari perjuangan panjang para pendahulu kita. Kini, kita dipanggil untuk meneruskannya—dengan menabur kasih, menumbuhkan toleransi, dan menghargai sesama.

Sebagaimana firman Tuhan berkata:

“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”
— Kolose 3:14

Kasih adalah inti dari Bhineka Tunggal Ika. Dengan kasih, kita mampu menghargai perbedaan, menjaga persaudaraan, dan merawat persatuan bangsa.

Mari kita jaga warisan ini, bukan sekadar semboyan, melainkan napas kehidupan berbangsa. Karena hanya dengan persatuan dan kasih, Indonesia akan tetap kokoh, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote.

Baca Juga  Kegiatan Outbound: Meningkatkan Kinerja dan Hubungan Antar Karyawan

Berita Terkait

Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan
Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 
Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran
Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 
Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara
Salut, Pansus Plasma HGU Perkebunan di Batu Bara Terbentuk 
Raden AF, Mengupas Lagi Jendral AA, Terkenal Keberaniannya Mengeksekusi Anakbuahnya Merusak Bangsa
Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 13:07 WIB

Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 16:08 WIB

Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:57 WIB

Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran

Senin, 15 Juni 2026 - 10:05 WIB

Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 

Kamis, 11 Juni 2026 - 09:13 WIB

Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page