Cerpen
Penulis: Amatus Rahakbauw. K
Editor: A.R.K
Dari ufuk timur Papua, kilauan suara burung cenderawasih membelah hening pagi, seakan menjadi pengingat bagi bangsa ini tentang sejarah panjang perjuangan Indonesia. Selama 350 tahun, negeri ini dijajah Belanda. Dari penderitaan itu, lahirlah tekad untuk bersatu, diwujudkan dalam semboyan sakral: “Bhineka Tunggal Ika”.
Semboyan ini bukan sekadar kata, melainkan roh pemersatu bangsa yang majemuk. Dengan persatuan, Indonesia berhasil mengusir penjajah dari bumi pertiwi dan mengibarkan merah putih sebagai tanda kemerdekaan.
Namun, di zaman sekarang, semboyan itu sering kali terlupakan. Tawuran antar pelajar, konflik antar desa, hingga perpecahan sosial menjamur di berbagai daerah. Seakan pengorbanan para pahlawan tak lagi bermakna. Padahal, di masa lalu banyak peristiwa heroik yang lahir dari semangat kebersamaan.
Lihatlah pertempuran Surabaya, 10 November 1945. Arek-arek Surabaya bersatu, tanpa memandang suku, agama, atau latar belakang. Mereka bahu-membahu melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali Indonesia. Dengan gagah berani, mereka berjuang demi masa depan anak cucu—demi bangsa yang lebih baik.
Hari ini, tugas kita adalah membangkitkan kembali rasa nasionalisme. Bukan hanya ketika bangsa lain mengklaim budaya atau tanah kita, melainkan dalam kehidupan sehari-hari: menghargai jasa pahlawan, menjaga persaudaraan, dan menolak perpecahan.
Indonesia adalah negara kepulauan dengan ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, dan adat istiadat. Justru keberagaman itulah yang membuat kita kaya. Tanpa kesadaran untuk menjaga Bhineka Tunggal Ika, negeri ini bisa rapuh. Jika setiap orang hanya mementingkan kelompoknya, bangsa ini bisa terpecah belah.
Karena itu, marilah kita menghidupi Bhineka Tunggal Ika dengan sebaik-baiknya. Persatuan tidak datang dengan mudah; ia lahir dari perjuangan panjang para pendahulu kita. Kini, kita dipanggil untuk meneruskannya—dengan menabur kasih, menumbuhkan toleransi, dan menghargai sesama.
Sebagaimana firman Tuhan berkata:
“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”
— Kolose 3:14
Kasih adalah inti dari Bhineka Tunggal Ika. Dengan kasih, kita mampu menghargai perbedaan, menjaga persaudaraan, dan merawat persatuan bangsa.
Mari kita jaga warisan ini, bukan sekadar semboyan, melainkan napas kehidupan berbangsa. Karena hanya dengan persatuan dan kasih, Indonesia akan tetap kokoh, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote.





















