Oleh: Amatus.Rahakbauw. K
Ada saat di mana hati berhenti berjuang, bukan karena cinta itu padam, melainkan karena ia terlalu lelah untuk terus bertahan dalam luka yang tak kunjung sembuh.
Aku pernah percaya bahwa setiap hubungan bisa diselamatkan, asal dua hati masih ingin berpegang. Tapi ternyata, aku berjuang sendirian di tengah medan yang perlahan menelanku dalam diam.
Hari-hari berlalu dengan percakapan yang semakin hampa. Janji tinggal janji, dan perhatian berubah menjadi tatapan asing yang tak lagi mengenal makna. Dalam diam, aku belajar bahwa cinta tanpa kejujuran hanyalah bayangan yang tak bisa digenggam.
Kini aku memilih pergi.
Bukan karena aku kalah, bukan pula karena aku ingin menghindar. Aku pergi karena ingin menemukan diriku sendiri yang hilang di antara kebohongan dan harapan yang tak pernah kau tepati.
“Jangan cari aku lagi, Jang Saleh,” bisikku pelan, seolah kata-kata itu tertiup bersama angin senja. “Aku sudah lelah, dan aku tak akan kembali.”
Biarkan langkahku menjauh, membawa sisa luka yang perlahan akan sembuh oleh waktu.
Biarkan aku belajar mencintai lagi — bukan orang lain, tapi diriku sendiri.
Jika suatu hari nanti kau mengenangku, ingatlah aku bukan sebagai seseorang yang menyerah, melainkan sebagai jiwa yang memilih tenang.
Karena mencintai bukan selalu tentang memiliki, tapi tentang tahu kapan harus berhenti agar hati tak semakin hancur.
Selamat berbahagia dengan cinta yang kau pilih.
Dan aku, dengan segala luka yang kutinggalkan, akan terus melangkah. Sebab untuk pertama kalinya dalam hidup, aku memilih pergi — bukan karena benci, tapi karena ingin kembali mencintai diriku sendiri.


















