TEMPO TIMUR — Di balik layar ponsel, aku mengenalnya. Ia datang seperti cahaya kecil di tengah gelap hidupku—tenang, hangat, meneduhkan. Namanya Nara, perempuan berdarah Papua yang kata-katanya seperti nyanyian burung cenderawasih di pagi hening. Kami tak pernah bersua, tapi rasanya seperti sudah lama saling memiliki.
Kami bertemu di ruang sunyi bernama sosial media. Awalnya hanya membalas komentar puisi. Lalu beranjak menjadi tanya kabar, lalu cerita pribadi, lalu… cinta. Cinta yang tumbuh dalam diam, tapi tak pernah main-main. Ia menyebutku “rumah”, dan aku menyebutnya “pulang”.
Setiap malam, ia kirimkan suaranya membaca sajak yang kutulis. Aku menulis tentang rindu yang belum sempat diraba, dan ia membalas dengan kisah tentang laut, senja, dan harapan. Sosial media menjadi ladang di mana cinta kami tumbuh, mekar—tanpa pernah bertatap mata.
Tapi cinta yang tumbuh terlalu terang, kadang menarik bayang gelap.
Seseorang menyebar fitnah. Tangkap layar palsu tentang Nara dengan pria lain mulai ramai. Komentar kejam bermunculan.
“Perempuan Papua murahan,”
“Modal wajah eksotis untuk main hati.”
“Pantas, cuma cinta lewat layar.”
Aku ingin membelanya. Aku benar-benar ingin. Tapi semakin banyak hinaan yang datang, aku mulai goyah. Aku mulai percaya pada kata-kata orang yang bahkan tak kukenal.
“Nara… semua itu bohong, kan?” tanyaku dengan suara pecah di ujung malam.
Ia tak langsung menjawab. Diam. Lalu berkata, “Aku sudah terbiasa dijatuhkan, tapi tak pernah kukira… kau juga ikut melepaskan ku.”
Aku terdiam. Tak mampu menjawab. Hanya ada sunyi—dan di balik sunyi itu, aku tahu aku kehilangan sesuatu yang tak akan pernah kembali.
Esoknya, ia menghilang dari semua akun.
Tak ada jejak. Tak ada pesan.
Beberapa bulan berlalu.
Aku melihat fotonya—berdiri anggun dengan gaun adat, di samping seorang pria yang bukan aku. Senyumnya masih sama, tapi matanya… tak lagi menatapku.
Di caption-nya tertulis:
“Aku pernah dicintai diam-diam, lalu dilepas di depan banyak orang. Tapi aku memilih bertahan. Kini aku tahu, cinta tak harus datang dari mereka yang pertama menemukanmu, tapi dari mereka yang tetap memelukmu saat dunia melempar batu.”
Hatiku hancur. Air mataku jatuh.
Aku tahu, aku telah membiarkan bunga itu layu karena aku tak punya cukup keberanian untuk melindunginya.
Selamat tinggal, wanita Cenderawasih yang ini.
Kau pernah menjadi puisi paling indah dalam hidupku. Tapi karena aku lemah, kini kau tinggal kenangan… dalam bait-bait yang bahkan tak lagi ingin kau baca.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K























