( Bagian kedua )
oleh; Irwansyah Nasution
Kita mulai dengan satu pernyataan bagaimana jika wilayah pesisir timur di Sumatera Utara dipisahkan menjadi sebuah provinsi baru yang lebih fokus pada karakter maritim dan ekonomi pesisir—apakah hal itu akan menjawab pertanyaan publik di enam kabupaten tersebut atas gagasan membentuk daerah Aslab menjadi daerah otonom baru ?.
Tentu para pelaku gagasan mestinya memahami bahwa tidak semua ide akan dapat di terima semua pihak untuk itu di perlukan kerjasama bukan klaim klaim sepihak di perlukan gagasan yang jelas tentang pemetaan manfaat pada publik secara jelas dan terus menerus (propaganda kontineu) agar mendapat dukungan yang luas tidak di kooptasi segelintir elit saja apalagi tidak punya kemampuan menjelaskan akan tujuannya agar terwujud..
Pernyataan ini mengantar pada alasan pertama: secara geografis, kawasan pantai timur memiliki bentang alam, potensi, dan tantangan yang berbeda dibanding wilayah dataran tinggi di Sumut lainnya sehingga membutuhkan pendekatan pembangunan yang lebih spesifik dan terarah. terutama adanya jaminan potensi daerah baru tersebut dapat menjamin kelangsungan dengan kemampuan pengembangan potensi alam geografisnya agar tidak di ledek daerah lain sebagai langkah gagah gagahan tapi tak berdaya jika di mekarkan karena mengandalkan subsidi pusat semata jika seperti itu ada yang salah dalam gagasan dan implementasinya kan?.
Memang jika kita melihat potensi kawasan pantai timur Sumatera (Aslab) sangat menguntungkan secara Geo Ekonomi dan Geo Politik baik dalam negeri maupun untuk panggung internasional Indonesia kedepannya jika menjadi kawasan otonomi yang baru.Kawasan ini punya peluang besar karena dapat menjadi pusat lintasan perdagangan dunia yang di sebut selat Malaka.
Kekuatan potensi jalur pelabuhan dan pusat perdagangan internasional bisa memberikan keuntungan multi player effect untuk pertumbuhan ekonomi bagi daerah ini maupun masyarakatnya seperti daerah daerah pesisir dunia lainnya katakanlah Port Klang Malaysia, Marina Bay Center Singapura yang dulu penulis pernah kunjungi beberapa tahun silam.
Kita bisa ambil hikmah dari peristiwa perang yang sedang berlangsung negara Islam Iran lawan Amerika dan Zeonis Israel,Bagaimana Iran pandai memainkan lawannya Negara super power nan sombong itu tak berdaya saat Negara Islam Iran mencekik dan memelintir Selat Hormuz membuat Amerika dan Israel lumpuh perekomiannya bukan sekedar perang militer yang harus di.menangkan Negara Islam Iran tapi perang ekonomi yang di buktikan Iran membuat dunia mengerti bahwa potensi pesisir itu ternyata bila dikelola dengan baik bisa menjadi benteng ekonomi yang handal dan menjanjikan.
Selat Malaka yang berada di pesisir Pantai Sumatera (Aslab) atau pantai Timur ,punya kemiripan yang sama sebagai urat nadi potensi perdagangan dunia yang tak pernah istirahat aktivitas bongkar muatnya kapal dagang dunia artinya perekonomian daerah otonomi selevel propinsi sangat mungkin dapat di wujudkan bila penjelasan tujuannya logis dan masuk akal,bukan akal akalan.
Lalu, mengapa sektor pelayanan publik jasa Geo Ekonomi menjadi pertimbangan penting dalam pemekaran ini? Karena luasnya wilayah dan jarak yang cukup jauh dari pusat pemerintahan saat ini sering kali memperlambat akses masyarakat terhadap layanan dasar. Seperti dalam tulisan sebelumnya , dengan provinsi baru, rentang kendali pemerintahan menjadi lebih pendek, sehingga pelayanan bisa lebih cepat, efektif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat setempat.
Selanjutnya, apakah potensi ekonomi wilayah pesisir sudah dimaksimalkan? Jika dilihat dari sektor , perikanan, industri, hingga pelabuhan, kawasan ini ?.
Semuanya masih perlu pembuktian. Daerah otonomi kabupaten dan kota di enam ,kawasan ini suka tidak suka taring otonomnya sudah di copot oleh pemerintah pusat dengan memindahkan otonomi ke propinsi jadi inilah menjadi kunci wacana pemekaran itu sesungguhnya …he.he.he.
( Dilanjut tulisan berikutnya )
Penulis Dir LKPI ( Lembaga Komunikasi Pembangunan Indonesia)




















