Di Atas Uang, Ada Air Mata Orang Kampung

- Penulis

Selasa, 20 Januari 2026 - 21:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Sebuah kampung di pegunungan, tempat kabut turun lebih dulu daripada pagi, warga hidup dengan kesederhanaan yang tidak pernah mereka banggakan, tetapi juga tidak pernah mereka keluhkan.

Tanah adalah ibu, hutan adalah ayah, dan sungai adalah saudara yang memberi minum setiap hari. Mereka tidak menghitung hidup dengan angka, sebab hidup bagi mereka adalah kebersamaan.
Namun suatu hari, angka datang dengan suara keras.Rp658,8 juta.

Angka itu terdengar megah bagi mereka yang tinggal di balik meja, tetapi terdengar asing dan menakutkan bagi warga kampung. Sebab angka itu tidak pernah hadir sebagai jalan yang diperbaiki, sekolah yang berdiri, atau puskesmas yang bernyawa. Angka itu datang seperti angin dingin, terasa, tetapi tak terlihat.

Baca Juga  Pimpinan KPK Sita Hp Pentolan Parpol, Sekretaris LBH Ferari Batu Bara Singgung Kasus PPPK

Warga bertanya, bukan untuk menuduh, tetapi untuk mengerti.“Di mana dana kampung kami?”Pertanyaan sederhana itu rupanya terlalu berat bagi sebagian orang yang merasa diri berkuasa.

Di kampung, tidak ada bahasa hukum yang panjang. Yang ada hanya kejujuran. Jika kayu diambil, orang kampung tahu siapa yang menebang. Jika tanah digarap, semua tahu siapa yang bekerja.

Maka ketika dana kampung dicairkan tanpa sepengetahuan mereka, hati mereka mulai retak, bukan karena kehilangan uang, tetapi karena kehilangan kepercayaan.

Ada ibu-ibu yang masih menimba air jauh dari rumah.Ada anak-anak yang belajar di bangunan tua sambil menahan dingin.
Ada orang tua yang bertanya dalam doa, bukan dalam amarah.

Baca Juga  Gereja Tanpa Struktur Jelas? Jangan Heran Pelayanannya Kacau

Mereka disebut masyarakat kecil.
Padahal merekalah pemilik sah kampung itu.Ketika warga melangkah melapor, itu bukan tanda perlawanan, melainkan panggilan nurani.

Mereka tidak membawa kebencian, hanya membawa harapan agar kebenaran tidak terus dikubur oleh kesombongan. Mereka percaya, negara tidak boleh tuli terhadap suara dari gunung.

Cerita ini bukan tentang angka.
Ini tentang martabat.Sebab kekuasaan yang tidak mau mendengar adalah awal dari kejatuhan. Dan uang yang diambil tanpa suara rakyat adalah benih luka yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Jika hari ini kita angkuh karena jabatan, ingatlah: jabatan adalah titipan.
Jika hari ini kita menutup mata karena merasa kuat, ingatlah: waktu tidak pernah memihak pada ketidakadilan.

Baca Juga  Kembali Menarik Perhatian Publik, Potong Tumpeng Milad, Agus Flores Tonjolkan Angka 8

Warga kampung itu tidak meminta lebih.
Mereka hanya ingin hak mereka dihormati.
Dan kebenaran berdiri tegak, meski perlahan.

Sebab di atas uang, selalu ada air mata.
Dan di atas kekuasaan, selalu ada Tuhan yang melihat.

Penulis : Amatus Rahakbauw

Berita Terkait

Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan
Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku
Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif
Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya
Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa
Agus Flores Nobar FIFA 2026 Bersama Kapolda Jabar dan Jajaran Dukung Program Kapolri
Jurnalis dan Nurani Kebenaran: Saat Pena Menjadi Cahaya Peradaban
Senja yang Pergi, Bulan yang Menemani

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:03 WIB

Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:35 WIB

Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:13 WIB

Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya

Jumat, 24 Juli 2026 - 09:51 WIB

Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page