Sebuah kampung di pegunungan, tempat kabut turun lebih dulu daripada pagi, warga hidup dengan kesederhanaan yang tidak pernah mereka banggakan, tetapi juga tidak pernah mereka keluhkan.
Tanah adalah ibu, hutan adalah ayah, dan sungai adalah saudara yang memberi minum setiap hari. Mereka tidak menghitung hidup dengan angka, sebab hidup bagi mereka adalah kebersamaan.
Namun suatu hari, angka datang dengan suara keras.Rp658,8 juta.
Angka itu terdengar megah bagi mereka yang tinggal di balik meja, tetapi terdengar asing dan menakutkan bagi warga kampung. Sebab angka itu tidak pernah hadir sebagai jalan yang diperbaiki, sekolah yang berdiri, atau puskesmas yang bernyawa. Angka itu datang seperti angin dingin, terasa, tetapi tak terlihat.
Warga bertanya, bukan untuk menuduh, tetapi untuk mengerti.“Di mana dana kampung kami?”Pertanyaan sederhana itu rupanya terlalu berat bagi sebagian orang yang merasa diri berkuasa.
Di kampung, tidak ada bahasa hukum yang panjang. Yang ada hanya kejujuran. Jika kayu diambil, orang kampung tahu siapa yang menebang. Jika tanah digarap, semua tahu siapa yang bekerja.
Maka ketika dana kampung dicairkan tanpa sepengetahuan mereka, hati mereka mulai retak, bukan karena kehilangan uang, tetapi karena kehilangan kepercayaan.
Ada ibu-ibu yang masih menimba air jauh dari rumah.Ada anak-anak yang belajar di bangunan tua sambil menahan dingin.
Ada orang tua yang bertanya dalam doa, bukan dalam amarah.
Mereka disebut masyarakat kecil.
Padahal merekalah pemilik sah kampung itu.Ketika warga melangkah melapor, itu bukan tanda perlawanan, melainkan panggilan nurani.
Mereka tidak membawa kebencian, hanya membawa harapan agar kebenaran tidak terus dikubur oleh kesombongan. Mereka percaya, negara tidak boleh tuli terhadap suara dari gunung.
Cerita ini bukan tentang angka.
Ini tentang martabat.Sebab kekuasaan yang tidak mau mendengar adalah awal dari kejatuhan. Dan uang yang diambil tanpa suara rakyat adalah benih luka yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Jika hari ini kita angkuh karena jabatan, ingatlah: jabatan adalah titipan.
Jika hari ini kita menutup mata karena merasa kuat, ingatlah: waktu tidak pernah memihak pada ketidakadilan.
Warga kampung itu tidak meminta lebih.
Mereka hanya ingin hak mereka dihormati.
Dan kebenaran berdiri tegak, meski perlahan.
Sebab di atas uang, selalu ada air mata.
Dan di atas kekuasaan, selalu ada Tuhan yang melihat.
Penulis : Amatus Rahakbauw



















