Berhitung dengan Waktu dan Kemanusiaan Hari ini kita berhitung dengan waktu

- Penulis

Sabtu, 27 Desember 2025 - 11:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Dan setiap kali kita menyebut kata waktu, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang kemanusiaan.

Waktu bukan sekadar angka pada kalender atau detik yang bergerak di jam dinding. Waktu adalah jarak yang rapuh antara hidup dan mati. Ia adalah ruang sunyi di antara jeritan dan pertolongan, jeda panjang yang sering kali menentukan siapa yang selamat dan siapa yang harus pergi lebih dulu.

Waktu juga adalah hitungan diam tentang berapa banyak jiwa yang harus jatuh—menjadi korban meninggal dunia, pengungsi yang kehilangan rumah, atau manusia-manusia rapuh yang menunggu uluran tangan lebih lama dari yang seharusnya.

Pertanyaannya sederhana, namun menusuk nurani:
Haruskah kita menunggu lebih banyak korban untuk menyadari bahwa kemanusiaan tidak boleh ditunda?
Dalam kondisi seperti ini, membuka pintu bagi bantuan kemanusiaan—termasuk donasi dari luar negeri—bukanlah sebuah aib. Itu bukan tanda runtuhnya harga diri bangsa. Bukan pula isyarat bahwa wibawa Presiden atau negara menjadi rendah, sebagaimana kekhawatiran yang sempat disuarakan..

Baca Juga  Begini Pesan Presiden Jokowi Ke Agus Flores Jelang Ramadhan 1445 Hijriyah 

Dalam bencana, yang diuji bukanlah gengsi, melainkan nurani.
Yang dipertaruhkan bukan martabat simbolik, tetapi nyawa manusia yang nyata.

Logika publik hari ini justru bertanya dengan jujur dan getir:
Jika donasi asing demi menyelamatkan nyawa kita tolak,
namun utang asing berbunga tinggi kita terima tanpa ragu,
maka di manakah sesungguhnya akal sehat itu kita tempatkan?
Apakah harga diri lebih mahal daripada satu nyawa manusia?
Apakah kebanggaan simbolik lebih penting daripada tangisan anak-anak yang kehilangan rumah, orang tua, dan masa depan?
Bencana tidak memilih korban.
Ia datang tanpa paspor, tanpa ideologi, tanpa kepentingan politik.

Yang ia tinggalkan hanyalah luka—dan harapan kecil bahwa sesama manusia masih mau saling menolong.
Dalam situasi seperti ini, menolak bantuan bukanlah keberanian.

Baca Juga  Mengenal Perbedaan Wali Kota dan Bupati dalam Struktur Pemerintahan Indonesia

Sering kali, itu hanyalah ketakutan yang disamarkan oleh kata kedaulatan.
Kemanusiaan tidak mengenal batas negara.Air mata memiliki bahasa yang sama di mana pun ia jatuh.

Dan tangan yang menolong—dari mana pun asalnya—tetaplah tangan yang menyelamatkan kehidupan.

Hari ini, waktu terus berjalan.
Dan setiap detik yang berlalu tanpa keputusan yang berpihak pada kemanusiaan adalah detik yang mungkin terlalu mahal bagi mereka yang sedang berjuang bertahan hidup.

Penulis : Amatus Rahakbauw

Berita Terkait

Untung Ada Presiden Hebat, Mengetahui Kenapa Kapolri Kurus, Karena ini
Dalam Harmoni Alam, Lahir Kedewasaan Manusia
Pasar Remu Punya Cerita: Bersama “Bakit Air Surga”
Selamat Datang Gadis Papua Barat di Kota Sorong Papua Barat Daya
Pemekaran Aslab Seriuskah Agar Tak Salah Arah
Dimana Logisnya Provinsi Sumatera Pantai Timur Itu?
Gagasan Pemekaran Provinsi SUMPIT itu Gak Bisa Ujug – Ujug
Ketika Respons Lambat Dipertontonkan, Kejati Justru Menjawab dengan Tindakan

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 12:44 WIB

Untung Ada Presiden Hebat, Mengetahui Kenapa Kapolri Kurus, Karena ini

Kamis, 30 April 2026 - 11:15 WIB

Dalam Harmoni Alam, Lahir Kedewasaan Manusia

Minggu, 26 April 2026 - 16:39 WIB

Pasar Remu Punya Cerita: Bersama “Bakit Air Surga”

Sabtu, 25 April 2026 - 16:39 WIB

Selamat Datang Gadis Papua Barat di Kota Sorong Papua Barat Daya

Minggu, 19 April 2026 - 09:23 WIB

Pemekaran Aslab Seriuskah Agar Tak Salah Arah

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page