Dan setiap kali kita menyebut kata waktu, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang kemanusiaan.
Waktu bukan sekadar angka pada kalender atau detik yang bergerak di jam dinding. Waktu adalah jarak yang rapuh antara hidup dan mati. Ia adalah ruang sunyi di antara jeritan dan pertolongan, jeda panjang yang sering kali menentukan siapa yang selamat dan siapa yang harus pergi lebih dulu.
Waktu juga adalah hitungan diam tentang berapa banyak jiwa yang harus jatuh—menjadi korban meninggal dunia, pengungsi yang kehilangan rumah, atau manusia-manusia rapuh yang menunggu uluran tangan lebih lama dari yang seharusnya.
Pertanyaannya sederhana, namun menusuk nurani:
Haruskah kita menunggu lebih banyak korban untuk menyadari bahwa kemanusiaan tidak boleh ditunda?
Dalam kondisi seperti ini, membuka pintu bagi bantuan kemanusiaan—termasuk donasi dari luar negeri—bukanlah sebuah aib. Itu bukan tanda runtuhnya harga diri bangsa. Bukan pula isyarat bahwa wibawa Presiden atau negara menjadi rendah, sebagaimana kekhawatiran yang sempat disuarakan..
Dalam bencana, yang diuji bukanlah gengsi, melainkan nurani.
Yang dipertaruhkan bukan martabat simbolik, tetapi nyawa manusia yang nyata.
Logika publik hari ini justru bertanya dengan jujur dan getir:
Jika donasi asing demi menyelamatkan nyawa kita tolak,
namun utang asing berbunga tinggi kita terima tanpa ragu,
maka di manakah sesungguhnya akal sehat itu kita tempatkan?
Apakah harga diri lebih mahal daripada satu nyawa manusia?
Apakah kebanggaan simbolik lebih penting daripada tangisan anak-anak yang kehilangan rumah, orang tua, dan masa depan?
Bencana tidak memilih korban.
Ia datang tanpa paspor, tanpa ideologi, tanpa kepentingan politik.
Yang ia tinggalkan hanyalah luka—dan harapan kecil bahwa sesama manusia masih mau saling menolong.
Dalam situasi seperti ini, menolak bantuan bukanlah keberanian.
Sering kali, itu hanyalah ketakutan yang disamarkan oleh kata kedaulatan.
Kemanusiaan tidak mengenal batas negara.Air mata memiliki bahasa yang sama di mana pun ia jatuh.
Dan tangan yang menolong—dari mana pun asalnya—tetaplah tangan yang menyelamatkan kehidupan.
Hari ini, waktu terus berjalan.
Dan setiap detik yang berlalu tanpa keputusan yang berpihak pada kemanusiaan adalah detik yang mungkin terlalu mahal bagi mereka yang sedang berjuang bertahan hidup.
Penulis : Amatus Rahakbauw


















