Ibadah Minggu itu diisi dengan renungan dari Matius 4:18:
“Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.”
Kalimat itu sederhana, namun di balik kesederhanaannya ada cerita panjang tentang manusia yang letih, hati yang patah, dan panggilan yang mampu menyelamatkan hidup.
Pagi itu, angin di tepi danau Galilea bertiup pelan. Air berkilau seperti kaca yang retak oleh matahari. Simon dan Andreas menebarkan jala dengan tangan yang penuh kapalan — tangan yang sudah terlalu sering berharap hari ini akan lebih baik dari kemarin.
Namun hasil tangkapan mereka selalu sama: sedikit.
Terlalu sedikit untuk keluarga yang menunggu di rumah.
Terlalu sedikit untuk menenangkan hati yang mulai kehilangan harapan.
Sering kali Simon bertanya dalam hati:
“Sampai kapan begini, Tuhan?
Kapan Engkau melihat aku?”
Ia bekerja keras, tetapi dunia seperti tidak peduli.
Ia berdoa, namun langit seakan diam.
Sampai hari itu datang.
Hari ketika langkah Yesus menghampiri mereka — bukan di bait Allah, bukan di bukit tinggi, bukan di rumah orang kaya — tetapi di tempat paling sederhana: di tepi danau, saat mereka sedang berjuang dengan hidup yang terasa begitu berat.
Yesus memandang mereka bukan sebagai manusia gagal, bukan sebagai pria yang kelelahan, bukan sebagai orang miskin yang putus asa.
Ia memandang mereka sebagai pribadi yang layak dipilih.
Dan dengan suara lembut tetapi penuh kuasa, Ia berkata:
“Mari, ikutlah Aku.”
Tak ada kilat.
Tak ada gemuruh.
Tak ada mukjizat besar yang menggetarkan bumi.
Pesan renungan ini sederhana namun menghantam hati kita:
Yesus memanggil bukan ketika hidup kita berhasil, tetapi ketika kita sedang letih dan hampir menyerah.
Yesus tidak menunggu kita kaya.
Tidak menunggu kita kuat.
Tidak menunggu kita sempurna.
Ia mendatangi kita di tengah air mata yang diam-diam jatuh di malam hari.
Ia menghampiri kita di sela-sela usaha yang seolah tidak pernah cukup.
Ia datang di saat kita merasa hidup kita hanya seperti “menebar jala yang bolong” — usaha banyak, hasil sedikit.
Dan Ia berkata:
Itulah panggilan yang tidak hanya mengubah hidup Simon dan Andreas, tetapi juga mengubah cara kita memandang hidup.
Di ibadah Minggu ini, mungkin ada yang datang dengan hati penuh beban:
yang merasa tidak dilihat,
tidak dihargai,
tidak didengar.
Tapi firman ini berkata:
Tuhan melihatmu bahkan ketika orang lain tidak.
Tuhan memilihmu ketika dunia menolakmu.
Tuhan mendekat ketika kamu merasa paling jauh.
Kita semua adalah Simon yang kelelahan menebar jala.
Kita semua adalah Andreas yang berjuang diam-diam.
Namun Tuhan tetap datang.
Ia tetap memanggil.
Ia tetap mengasihi.
Dan bagi siapa saja yang berani menjawab panggilan itu, hidup mereka takkan pernah sama lagi.
Semoga renungan ini mengubah hati kita.
Agar kita tidak lagi bertanya, “Mengapa hidupku begini?”
Tetapi mulai mengatakan, “Jika Yesus memanggil, aku akan mengikuti.”
Sebab ketika kita berani meninggalkan “jala lama” kehidupan kita,
Tuhan akan menunjukkan masa depan yang tak pernah kita bayangkan.
Penulis : Amatus Rahakbauw























