Teluk Wondama: Cinta yang Menyatu dengan Laut dan Doa

- Penulis

Sabtu, 25 Oktober 2025 - 09:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Di ufuk barat, matahari perlahan tenggelam di balik gunung-gunung hijau Wondama. Cahaya keemasan memantul di permukaan laut yang tenang, seperti lukisan tangan Tuhan yang penuh kasih. Angin pesisir berhembus lembut, membawa harum garam dan doa dari hati rakyat yang sederhana. Di sinilah, di tanah berkat Cenderawasih, cinta dan persaudaraan tumbuh di antara ombak dan hutan, di antara doa dan kerja.

“Teluk Wondama bukan hanya indah karena laut dan gunungnya,” tutur Gubernur Drs. Dominggus Mandacan, M.Si., dengan suara yang bergetar menahan haru, “tetapi juga karena hati masyarakatnya yang penuh kasih. Mari kita jaga kebersamaan ini dan terus berkarya untuk kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan rakyat Papua Barat.”

Kata-kata itu mengalun di udara sore seperti mazmur yang menenangkan. Seolah alam pun turut mengaminkan—ombak berdebur pelan, dedaunan bergoyang lembut, dan burung-burung menari di langit jingga.
Sejenak semua yang hadir terdiam, meresapi makna yang dalam dari setiap kata sang Gubernur: bahwa kemuliaan Tuhan tak hanya tampak di gereja, tetapi juga di tanah, laut, dan kerja tangan manusia.

Baca Juga  Dari Harga Cabai Yang Mahal Hingga Retreat Kepala Daerah Yang Jadi Membebani APBN

Acara ramah tamah malam itu diselimuti nuansa syukur dan persaudaraan. Tarian adat Wondama mengalun anggun, setiap gerak dan hentakan kaki seperti doa yang naik ke langit. Lagu-lagu daerah dinyanyikan dengan sukacita, menggema dari hati yang tulus.
Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama menyerahkan cenderamata kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Barat—sebuah tanda kasih dan hormat, simbol bahwa kepemimpinan bukan tentang kuasa, melainkan tentang pelayanan dan cinta.

Malam kian larut. Di halaman kantor bupati, lampu-lampu taman berkelap-kelip seperti bintang yang turun ke bumi. Di kejauhan, Teluk Cenderawasih berkilau diterpa cahaya bulan.
Suara debur ombak menjadi musik pengiring, mengisi ruang hening dengan damai. Di antara tawa, doa, dan rasa syukur, Tuhan hadir di tengah-tengah umat-Nya.

Baca Juga  Gubernur Papua Barat Buka HKG PKK ke-53 di Teluk Wondama

Sebagai penutup, seluruh hadirin menundukkan kepala dalam doa bersama.
Gubernur memimpin dengan suara lembut, “Tuhan, terima kasih atas tanah yang Kau titipkan ini. Ajarlah kami menjaga keindahan-Mu, menghargai sesama, dan bekerja dengan kasih. Jadikan Papua Barat bukan hanya indah di mata, tetapi juga indah di hati.”

Selesai berdoa, mereka menikmati jamuan makan malam yang sederhana namun penuh makna: ikan bakar segar dari laut Wondama, papeda hangat, kuah kuning, dan sambal rica pedas menggugah selera.
Makan bersama di bawah langit Papua itu bukan sekadar santapan jasmani, melainkan perjamuan kasih — lambang kesatuan antara pemimpin dan rakyatnya, antara iman dan alam, antara manusia dan Tuhan.

Baca Juga  Ketua Perisai Limapuluh Pesisir Nilai Polres Batu Bara Pantas Diapresiasi

Malam itu, di Teluk Wondama, keindahan tidak hanya terlihat, tetapi dirasakan.
Dan di setiap hembusan angin laut, seakan terdengar firman yang lembut:

“Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi lautan.”
— Habakuk 2:14

Semoga dari Wondama, cinta ini menyebar ke seluruh Tanah Papua —
membangunkan semangat untuk hidup dalam kasih, bekerja dengan tulus,
dan menjaga alam Cenderawasih sebagai rumah yang diberkati Tuhan.

 

Penulis : Amatus Rahakbauw

Berita Terkait

Pemekaran Aslab Seriuskah Agar Tak Salah Arah
Dimana Logisnya Provinsi Sumatera Pantai Timur Itu?
Gagasan Pemekaran Provinsi SUMPIT itu Gak Bisa Ujug – Ujug
Ketika Respons Lambat Dipertontonkan, Kejati Justru Menjawab dengan Tindakan
Jangan Takut Bersinar Meskipun Kesuksesan Akan Selalu Diuji, Teruslah Jangan Pernah Berhenti Melangkah
“Jurnalisme dan Nurani: Menulis dengan Hati, Bukan Ego”
Dari Gosip ke Gagasan: Tiga Tingkatan Berpikir yang Menentukan Kualitas Bangsa
“Membunuh Korupsi di Dalam Diri”

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 09:23 WIB

Pemekaran Aslab Seriuskah Agar Tak Salah Arah

Minggu, 19 April 2026 - 09:19 WIB

Dimana Logisnya Provinsi Sumatera Pantai Timur Itu?

Minggu, 19 April 2026 - 09:13 WIB

Gagasan Pemekaran Provinsi SUMPIT itu Gak Bisa Ujug – Ujug

Jumat, 17 April 2026 - 23:54 WIB

Ketika Respons Lambat Dipertontonkan, Kejati Justru Menjawab dengan Tindakan

Jumat, 17 April 2026 - 20:42 WIB

Jangan Takut Bersinar Meskipun Kesuksesan Akan Selalu Diuji, Teruslah Jangan Pernah Berhenti Melangkah

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page