Tak terasa, diriku menjadi bagian dari perjalanan panjang penyebaran obor Injil itu.
Obor yang dibawa dengan perahu sederhana, namun menyala hingga ke generasi ini.
Dan dalam hati aku berdoa,
“Tuhan, sadarkanlah aku dan generasiku,
agar kami meneruskan obor itu sampai terang-Mu tetap menyala untuk selamanya.”
Sore itu, langit Teluk Wondama berwarna keemasan.
Dari kejauhan, suara anak-anak sekolah terdengar merdu — nada mereka jernih, mengalun bersama angin laut yang lembut.
Di tangan mungil mereka, bendera-bendera kecil berkibar, menari di bawah sinar matahari yang mulai condong ke barat.
Seluruh Wondama bersiap menyambut seratus tahun Injil masuk ke tanah ini, tanah yang dahulu pertama kali disinari oleh kasih Tuhan.
Di tengah keramaian itu, Barnabas Dowan Siba, M.Pd., berdiri diam.
Matanya menatap anak-anak itu dengan keharuan yang tak bisa disembunyikan.
Seratus tahun sudah firman Tuhan bergema di tanah ini — menumbuhkan iman, membangun pengetahuan, dan menyatukan bangsa yang dahulu berjalan dalam gelap menuju terang yang sejati.
Namun di balik senyum syukurnya, ia berdoa lirih:
“Tuhan, jangan biarkan kami hanya mengenang sejarah.
Ubahkan hati kami agar hidup kami menjadi Injil yang terbuka.”
Ia teringat kata-kata lama yang pernah diucapkan para penginjil:
“Di sinilah terang itu bermula — dari sekolah Alkitab.”
Dengan suara lembut namun berwibawa, ia berkata didalam hatinya,
“Para penginjil tidak hanya mengajar membaca dan menulis.
Mereka menanamkan kasih, kejujuran, dan takut akan Tuhan.
Dari sinilah pendidikan sejati lahir — bukan dari gedung megah,
tetapi dari hati yang mencintai kebenaran.”
Ia menatap para guru dan siswa yang hadir, lalu melanjutkan,
“Karena itu, mari kita membangun pendidikan bukan dengan logika semata,
tetapi dengan hati.
Logika mengajarkan pengetahuan,
tetapi hati menanamkan hikmat.”
lokasi kegiatan seolah terdiam. Hanya desir angin yang memeluk kata-kata itu.
Semua yang mendengar tahu, pendidikan sejati tidak diukur dari banyaknya gelar, tetapi dari karakter dan kasih yang tumbuh dari takut akan Tuhan.
“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan,
tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”
— Amsal 1:7
Pak Barnabas memahami bahwa zaman telah berubah.
Anak-anak kini hidup di tengah dunia digital — serba cepat, penuh tantangan dan persaingan.
Namun ia tahu, kemajuan tanpa iman adalah kapal besar tanpa kompas di tengah samudra luas.
“Sekuler dan rohani tidak perlu bertentangan,” katanya perlahan.
“Sekuler adalah wadah, rohani adalah napasnya.
Ilmu pengetahuan adalah perahu, dan iman adalah angin yang menggerakkannya.”
Ia menatap seorang guru muda yang duduk di barisan depan.
“Ketika anak diajarkan matematika, biarlah ia juga belajar jujur dalam menghitung.
Ketika ia mempelajari sains, biarlah ia melihat kebesaran Tuhan di balik setiap hukum alam.”
Kata-katanya menembus sekat usia dan latar belakang.
Bagi para muda-mudi yang datang dari berbagai daerah, pesannya seperti panggilan suci:
menjadi generasi yang cerdas pikiran, bersih hati, dan rendah diri dalam kasih.
Malam mulai turun. Lampu-lampu tenda menyala satu per satu, memantulkan cahaya lembut di wajah jemaat.
Pak Barnabas kembali berdiri di mimbar.
Suaranya bergetar, tapi penuh keyakinan.
“Perayaan seratus tahun Injil masuk Wondama bukan hanya pesta,
tapi panggilan untuk berubah.
Berubahlah dalam cara berpikir, cara mengasihi, dan cara melayani.”
Ia membuka Alkitab dan membaca dengan suara yang dalam:
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,
tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.”
— Roma 12:2
Beberapa jemaat menunduk, sebagian meneteskan air mata.
Anak-anak berhenti bermain dan memandang ke arah mimbar.
Mungkin mereka belum mengerti sepenuhnya, tetapi hati mereka menangkap keheningan yang kudus.
Malam itu, di bawah langit Wondama, Injil tidak sekadar diperingati — Injil dihidupi.
Ketika semua acara usai, Pak Barnabas berjalan ke tepi pantai.
Bulan separuh memantulkan cahaya di permukaan air yang bergoyang lembut.
Ia menatap ke langit — bintang-bintang berkerlip, seolah bernyanyi memuji Sang Pencipta.
Dalam keheningan itu ia berdoa:
“Tuhan, jadikan kami bukan hanya bangsa yang bisa membaca Firman,
tetapi bangsa yang hidup di dalamnya.
Jadikan sekolah-sekolah kami taman kasih-Mu,
tempat di mana iman dan ilmu berpelukan.”
Dan di kedalaman jiwanya, ia mendengar bisikan yang lembut seperti ombak yang memeluk pasir:
“Bangunlah dengan hati, bukan hanya dengan logika.
Karena di sanalah Aku berdiam.”
Seratus tahun Injil di Wondama bukan sekadar peristiwa besar dalam sejarah iman,
tetapi panggilan untuk melanjutkan nyala kasih itu — agar tidak padam di tangan generasi.
Sebab pendidikan tanpa kasih menjadi kering,
dan iman tanpa tindakan menjadi mati.
Namun ketika akal dan hati bersatu dalam kasih Kristus,
di sanalah peradaban sejati bertumbuh —
dan obor Injil akan terus menyala, menerangi bangsa dari Wondama hingga ke ujung bumi.
Penulis : Amatus Rahakbauw
















