
Batu Bara – Baru-baru ini beredar kabar mengenai pembentukan pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) di sejumlah wilayah dan daerah, termasuk Kabupaten Batu Bara. Informasi ini menimbulkan pertanyaan dan keresahan di kalangan masyarakat, khususnya para nelayan yang merasa kebingungan dengan adanya dualisme kepengurusan tersebut.
Dalam menyikapi kabar tersebut, awak media berusaha menghubungi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) HNSI Kabupaten Batu Bara, H. Safri Habni, yang lebih akrab disapa Haji ATW. Beliau mengungkapkan bahwa saat ini terjadi dualisme dalam kepengurusan HNSI yang membingungkan para anggotanya.
Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) secara resmi berdiri pada 21 Mei 1973, dan saat ini dipimpin oleh Ketua Umum Bapak Herman Herry. “Kami adalah bagian dari HNSI yang didirikan pada tahun 1973 itu,” ujar H. Safri Habni. Menurutnya, DPC HNSI Kabupaten Batu Bara telah aktif sejak ditetapkan pada 21 Maret 2023 dan akan terus aktif hingga masa jabatannya berakhir pada 21 Maret 2028.
Dalam perbincangan dengan awak media pada Rabu (26/6), H. Safri Habni menegaskan pentingnya menjaga keutuhan dan soliditas di internal organisasi meskipun sedang terjadi dualisme di tingkat nasional.

Ia menyampaikan bahwa kepengurusan HNSI yang berada di bawah pimpinan Herman Herry tetap menjalankan tugas pokok dan fungsinya sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) organisasi.
Di sisi lain, HNSI yang satu lagi dipimpin oleh Laksamana TNI (Purn) Sumardjono sebagai Ketua Umum. Adanya dua kepemimpinan ini menimbulkan keresahan di kalangan nelayan yang bingung mengenai legitimasi dan arah kebijakan organisasi.
Meskipun demikian, Haji ATW menegaskan kepada pengurus dan seluruh jajarannya untuk tetap menjaga silaturahmi dan menjalankan tugas serta fungsinya dengan baik. “Biarkan persoalan dualisme ini menjadi urusan pusat. Yang terpenting adalah kita tetap solid dan menjalankan tugas sesuai dengan AD/ART yang ada,” imbuhnya.
Beliau juga berharap agar dualisme ini segera diselesaikan di tingkat pusat sehingga tidak lagi menimbulkan kebingungan di kalangan nelayan dan pengurus di daerah. Selain itu, Haji ATW mengajak semua pihak untuk tetap berfokus pada upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan dan mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi di sektor perikanan.
Para nelayan di Kabupaten Batu Bara berharap agar permasalahan ini segera mendapatkan solusi terbaik demi kepentingan bersama. Mereka menantikan arahan dan keputusan dari pimpinan pusat yang dapat mengakhiri dualisme ini dan mempersatukan kembali seluruh elemen nelayan di bawah satu organisasi yang solid.
(Ham/tim)



















