
JAKARTA — Purbaya Yudhi Sadewa tiba di Istana Kepresidenan Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026), untuk memenuhi undangan makan siang bersama Presiden Prabowo Subianto.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengaku telah menyiapkan laporan terkait dugaan praktik manipulasi nilai ekspor oleh 10 perusahaan besar di sektor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Purbaya mengatakan dirinya belum mengetahui secara pasti agenda pembahasan dalam pertemuan dengan Presiden. Namun, ia membawa sejumlah dokumen sebagai bahan antisipasi apabila diminta memberikan penjelasan.
“Diundang makan siang. Ada pak menteri lainnya juga kelihatannya,” ujar Purbaya kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan.
Menurutnya, laporan tersebut disiapkan setelah dilakukan pengecekan terhadap tiga pengapalan secara acak dari 10 perusahaan yang bergerak di sektor CPO.
Dari hasil pemeriksaan awal, ditemukan dugaan praktik under invoicing atau manipulasi nilai faktur perdagangan.
Purbaya menjelaskan terdapat indikasi perbedaan signifikan antara nilai ekspor yang tercatat di dalam negeri dengan nilai impor yang tercatat di Amerika Serikat.
“Mereka terlihat melakukan manipulasi harga ekspor ke Amerika Serikat. Selisihnya cukup signifikan,” katanya.
Ia mengungkapkan, terdapat perusahaan yang mencatat nilai ekspor sebesar US$2,6 juta, sementara nilai yang dibayarkan pihak pengimpor di Amerika Serikat mencapai US$4,2 juta, dengan selisih sekitar 57 persen.
Selain itu, ditemukan pula kasus lain dengan perbedaan yang lebih besar. Salah satu perusahaan tercatat mengekspor barang senilai US$1,44 juta, sementara nilai impor di negara tujuan mencapai lebih dari US$4 juta atau mengalami selisih hingga sekitar 200 persen.
Meski demikian, Purbaya belum bersedia mengungkap identitas 10 perusahaan tersebut. Ia menyebut proses pendalaman masih dilakukan dengan metode pemeriksaan secara rinci terhadap setiap pengapalan.
“Kami akan mendeteksi kapal per kapal. Itu yang akan saya laporkan jika ditanyakan,” ujarnya.
Penulis : Amatus Rahakbauw, K










