Alam tidak pernah bersuara keras.
Ia menangis dalam diam, menetes lewat embun pagi, lewat desir angin, lewat akar-akar yang mencengkeram tanah agar tidak runtuh.
Sejak lama, alam telah setia menjaga manusia—memberi air, pangan, udara, dan kehidupan—tanpa pernah meminta balasan.
Di bawah naungan hutan itulah rakyat kecil hidup.Rumah mereka sederhana, berdinding papan dan beratap seng tua. Hidup mereka pun sederhana: menanam, memanen, lalu bersyukur.
Hutan bagi mereka bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan ibu yang memberi makan, ayah yang melindungi, dan sahabat yang setia menemani hari-hari sunyi.
Mereka tahu batas.Menebang seperlunya, menanam kembali, dan menjaga sungai tetap jernih. Itulah hukum tak tertulis yang diwariskan leluhur—hukum yang lahir dari iman dan rasa hormat kepada Sang Pencipta.
Namun suatu hari, keseimbangan itu runtuh.Suara mesin datang memecah keheningan. Gergaji menggantikan doa pagi. Pohon-pohon besar tumbang satu per satu, seolah tak sempat mengucap salam perpisahan.
Tanah yang selama ini tertutup akar menjadi telanjang, rapuh, dan kehilangan pegangan.
Katanya ini demi kemajuan.
Katanya ini pembangunan.
Katanya semua sudah sah.
Rakyat kecil hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Tak diajak bicara, tak diminta pendapat. Mereka hanya diminta mengerti, diminta sabar, diminta percaya. Padahal yang mereka lihat hanyalah hutan yang hilang dan masa depan yang kian kabur.
Ketika hujan turun, alam tak lagi mampu menahan air.
Sungai meluap, tanah longsor, dan malam berubah menjadi ketakutan. Air masuk ke rumah-rumah tanpa izin, menyeret perabot, ternak, bahkan harapan. Anak-anak menangis dalam pelukan ibu, para bapak hanya bisa terdiam, menatap ladang yang lenyap ditelan arus.
Banjir tidak pernah adil.
Ia selalu datang lebih dulu ke rumah orang miskin.Tak ada ganti rugi untuk kenangan.
Tak ada proposal untuk air mata. Yang datang hanya janji baru dan laporan singkat, lalu kesunyian kembali menyelimuti.
Di tengah derita itu, alam seakan berbisik:
“Aku tidak berdendam. Aku hanya jujur.”
Tangis alam adalah akibat dari luka yang terlalu dalam.
Dan jerit rakyat kecil adalah gema dari ketidakadilan yang dibiarkan tumbuh subur.
Tuhan tidak diam.Ia berbicara lewat tanah yang longsor, lewat sungai yang meluap, lewat penderitaan mereka yang tak pernah ikut mengambil keputusan. Bukan karena Tuhan membenci manusia, tetapi karena Ia mengasihi dan ingin manusia kembali sadar.
Sadar bahwa alam bukan barang dagangan.Sadar bahwa pembangunan tanpa keadilan adalah dosa.
Sadar bahwa merusak ciptaan berarti melukai Sang Pencipta.
Pertobatan bukan hanya doa di rumah ibadah.
Pertobatan adalah keberanian menghentikan keserakahan.
Keberanian mendengar jerit rakyat kecil.
Keberanian memulihkan hutan sebelum semuanya terlambat.
Selama tangis alam diabaikan, bencana akan terus datang.Dan selama jerit rakyat kecil dibungkam, kemanusiaan akan terus tenggelam.
Penulis : Amatus Rahakbauw



















