Tangis Alam dan Jerit Rakyat Kecil

- Penulis

Senin, 29 Desember 2025 - 09:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Alam tidak pernah bersuara keras.
Ia menangis dalam diam, menetes lewat embun pagi, lewat desir angin, lewat akar-akar yang mencengkeram tanah agar tidak runtuh.

Sejak lama, alam telah setia menjaga manusia—memberi air, pangan, udara, dan kehidupan—tanpa pernah meminta balasan.

Di bawah naungan hutan itulah rakyat kecil hidup.Rumah mereka sederhana, berdinding papan dan beratap seng tua. Hidup mereka pun sederhana: menanam, memanen, lalu bersyukur.

Hutan bagi mereka bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan ibu yang memberi makan, ayah yang melindungi, dan sahabat yang setia menemani hari-hari sunyi.

Mereka tahu batas.Menebang seperlunya, menanam kembali, dan menjaga sungai tetap jernih. Itulah hukum tak tertulis yang diwariskan leluhur—hukum yang lahir dari iman dan rasa hormat kepada Sang Pencipta.

Baca Juga  Money Politik Uang Meluluhlantakkan Eksistensi Rakyat 

Namun suatu hari, keseimbangan itu runtuh.Suara mesin datang memecah keheningan. Gergaji menggantikan doa pagi. Pohon-pohon besar tumbang satu per satu, seolah tak sempat mengucap salam perpisahan.

Tanah yang selama ini tertutup akar menjadi telanjang, rapuh, dan kehilangan pegangan.

Katanya ini demi kemajuan.
Katanya ini pembangunan.
Katanya semua sudah sah.
Rakyat kecil hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.

Tak diajak bicara, tak diminta pendapat. Mereka hanya diminta mengerti, diminta sabar, diminta percaya. Padahal yang mereka lihat hanyalah hutan yang hilang dan masa depan yang kian kabur.
Ketika hujan turun, alam tak lagi mampu menahan air.

Sungai meluap, tanah longsor, dan malam berubah menjadi ketakutan. Air masuk ke rumah-rumah tanpa izin, menyeret perabot, ternak, bahkan harapan. Anak-anak menangis dalam pelukan ibu, para bapak hanya bisa terdiam, menatap ladang yang lenyap ditelan arus.

Baca Juga  Pemuda Kristen Fakfak Dihimbau Hidup Seturut Firman dalam Ibadah Pondok Daud: “Jangan Andalkan Pengertianmu Sendiri!”

Banjir tidak pernah adil.
Ia selalu datang lebih dulu ke rumah orang miskin.Tak ada ganti rugi untuk kenangan.
Tak ada proposal untuk air mata. Yang datang hanya janji baru dan laporan singkat, lalu kesunyian kembali menyelimuti.

Di tengah derita itu, alam seakan berbisik:
“Aku tidak berdendam. Aku hanya jujur.”
Tangis alam adalah akibat dari luka yang terlalu dalam.

Dan jerit rakyat kecil adalah gema dari ketidakadilan yang dibiarkan tumbuh subur.
Tuhan tidak diam.Ia berbicara lewat tanah yang longsor, lewat sungai yang meluap, lewat penderitaan mereka yang tak pernah ikut mengambil keputusan. Bukan karena Tuhan membenci manusia, tetapi karena Ia mengasihi dan ingin manusia kembali sadar.

Baca Juga  Pimpinan KPK Sita Hp Pentolan Parpol, Sekretaris LBH Ferari Batu Bara Singgung Kasus PPPK

Sadar bahwa alam bukan barang dagangan.Sadar bahwa pembangunan tanpa keadilan adalah dosa.
Sadar bahwa merusak ciptaan berarti melukai Sang Pencipta.
Pertobatan bukan hanya doa di rumah ibadah.

Pertobatan adalah keberanian menghentikan keserakahan.
Keberanian mendengar jerit rakyat kecil.
Keberanian memulihkan hutan sebelum semuanya terlambat.

Selama tangis alam diabaikan, bencana akan terus datang.Dan selama jerit rakyat kecil dibungkam, kemanusiaan akan terus tenggelam.

Penulis : Amatus Rahakbauw

Berita Terkait

Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan
Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 
Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran
Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 
Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara
Salut, Pansus Plasma HGU Perkebunan di Batu Bara Terbentuk 
Raden AF, Mengupas Lagi Jendral AA, Terkenal Keberaniannya Mengeksekusi Anakbuahnya Merusak Bangsa
Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 13:07 WIB

Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 16:08 WIB

Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:57 WIB

Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran

Senin, 15 Juni 2026 - 10:05 WIB

Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 

Kamis, 11 Juni 2026 - 09:13 WIB

Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page